
Sewaktu salah seorang teman saya memasang gambar ini di grup BlackBerry yang saya ikuti, saya tersenyum. Lalu berpikir. Lalu merenung. Dan gambar ini tidak pernah bisa hilang dari ingatan saya sampai hari ini.
Pertarungan hebat di dalam diri saya, mengenai eksistensi iman yang saya pegang selama bertahun-tahun, seperti menghasilkan sebuah pohon kelapa yang tertanam di pinggir pantai. Pohon kelapa yang menjulang tinggi, yang banyak buahnya sudah terbawa dan terdampar di pantai-pantai lain, oleh ombak dan angin. Namun pada saat yang sama pohon ini sebegitu tinggi dan rampingnya, bisa roboh juga di suatu hari. Kira-kira seperti itu gambarannya.
Datang dari keluarga yang juga kristen, tentu saya mendapatkan banyak kelebihan dalam soal agama. Beberapa saudara sangat aktif dalam menjalankan pelayanan mereka. Ada yang muncul di televisi, ada yang mengambil sekolah teologia di luar negeri, ada yang menulis buku, bahkan ada yang namanya terkenal di website ini karena pengajarannya penuh lobang dan borok. Tapi itu tidak begitu penting buat saya. Pertanyaan saya, pernahkah mereka mengalami apa yang saya alami?
Kata orang iman itu tidak buta. Tapi bagaimana iman itu tidak buta kalau dia tidak melihat? Sehingga orang bisa secara tidak sadar menyamakan iman dengan asumsi, ilusi, bahkan wishful thinking.
Kemarin saya melihat seorang pengemis. Setiap kali melihat pengemis atau orang-orang di dunia ini yang menderita, saya selalu teringat pengajaran Yesus. Berbuat baiklah ke mereka, karena dengan begitu kamu berbuat baik juga ke aku. Kira-kira begitulah yang diucapkan. Tapi bukankah pengajaran moral juga seperti itu, di mana moral memang terbukti tidak selalu terkait dengan pengajaran agama? Orang yang tidak mengenal Tuhan atau yang tidak beragama pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih.
Minggu lalu saya bertemu dengan seorang kristen lainnya. Kira-kira beberapa tahun yang lalu, dia selalu memberikan persepuluhan, persembahan, kepada beberapa organisasi pelayanan. Bahkan sampai hartanya ludes. Dia bilang dia mau seperti Ayub. Saya berpikir, Ayub itu tidak memilih untuk mengalami semuanya. Kok malah ada orang malah memilih ingin menderita? Ketika bertemu kemarin, dia bilang dia sedang mengalami konflik dengan teman-teman sepelayanannya. Perseteruan antara beberapa pihak menyebabkan dia merasa sakit hati. Tapi dia menolak disebut sakit hati. Dia bilang bahwa hal tersebut harus dia lalui. Persembahan yang dia berikan buat Tuhan, adalah hati yang hancur. Begitu katanya. Saya tahu, dia mengutip dari alkitab.
Lalu ada juga beberapa waktu yang lalu ramai-ramai membicarakan seorang pendeta di negara bagian Florida yang membuah heboh seluruh dunia karena ingin membakar Al-Quran. Salah satu alasannya dia kutip dari kisah di Kitab Para Rasul, di mana orang-orang membakar kitab-kitab di depan banyak orang. Untuk saya logika pendeta tersebut benar-benar keblinger. Bedanya tentu jelas, antara orang-orang yang sukarela membakar kitab-kitab yang dulu mereka imani, dengan seorang pendeta yang membakar kitab suci milik orang lain. Logika-logika seperti ini yang sering saya temukan di agama, termasuk di kekristenan, yang membuat saya geleng-geleng kepala. Bahkan membuat banyak orang kristen mencoba memeriksa kembali kekristenan yang mereka jalani selama ini.
Ada juga teman saya yang lain. Dia baru saja ditinggal oleh pacarnya. Sambil menangis dia menceritakan ke saya kalau dia sudah memberikan segalanya untuk pacarnya tersebut. Sampai sekolahnya berantakan, uang habis, untuk membuktikan bahwa cinta kasihnya tulus. Pacarnya, atau lebih tepatnya, mantan pacarnya, secara tidak langsung, sudah seperti tuhan di hidup teman saya ini. Bukankah itu yang banyak dari kita sering lakukan? Mempersembahkan banyak hal kepada Tuhan, atau setidaknya kita mengklaim bahwa itu semua untuk Tuhan? Pengalaman teman saya tersebut membuat saya teringat dengan penyakit kejiwaan di mana seseorang sangat menikmati rasa sakit yang dialaminya. Addicted to pain. Bukankah itu yang dialami oleh para emo, para melancholic junkie, dan para penggemar telenovela dan sinetron yang sering melamun dan berkhayal yang sedih-sedih. Bahkan teman saya yang lain yang saya kenal di internet, sering curhat ke saya mengenai keterikatannya dengan lamunan-lamunan di mana dia disakiti oleh orang yang dia kenal, bahkan sampai ke taraf di mana dia melamun bahwa dia diperkosa atau dicaci maki oleh orang-orang. Lamunan-lamunan yang memberikan perasaan sedih, sakit hati, kelam, tapi anehnya membuat banyak orang menikmatinya.
Kalau itu kisah teman saya dengan mantannya, lain lagi dengan kisah mantan saya. Baru-baru ini dia memberitahukan kalau dia sedang aktif di salah satu gereja karismatik di Jakarta. Dia menyebutkan nama gerejanya. Saya katakan bahwa saya tahu gereja itu, karena beberapa teman saya juga aktif di sana (seperti biasa, mencari common ground dalam pembicaraan supaya obrolannya bisa dua arah). Tapi yang agak merisaukan saya, ketika mantan saya ini mulai menceritakan soal kotbah salah seorang pendeta yang mengajarkan perihal "Give until it hurts." Saya pikir, secara general pengajaran tersebut tentulah baik. Yang namanya pengorbanan, kata orang, adalah harus sampai terasa sakit dulu. Kalau tidak sakit, bukan berkorban namanya. Bukankah itu yang dilewati oleh Abraham, Daud, Yesus, dan para rasul? Betul, kalau dilihatnya seperti itu. Tapi, lanjut kata saya kepadanya, para tokoh alkitab itu tidak mengalami penderita setiap hari Minggu karena harus atau wajib memberikan persembahan dan perpuluhan yang jumlahnya jika ditotal setiap bulan bisa sampai hampir seluruh gaji seorang pegawai selama sebulan. Yang kamu berikan, kata saya kepadanya, seharusnya untuk Tuhan atau untuk orang-orang menderita, bukan untuk para pelayan Tuhan yang hidupnya sudah berkecukupan. Saya pikir dia cukup mengenal saya, ternyata tidak. Karena telepon langsung ditutup. Seperti biasa, mungkin dia mengira saya sudah tersesat arah atau tidak mengerti makna rohani di dalamnya. Mungkin. Toh saya lebih menyukai untuk jjadi orang tersesat tapi sadar diri kalau memang tersesat, daripada merasa jadi orang benar tapi ternyata di hari terakhir Tuhan tidak membenarkan.
Dengan fenomena seperti itu, saya pernah memberikan kotbah di retreat kaum muda, bahwa tidak mengherankan kalau banyak pemuda-pemudi kristen yang akhirnya menjadi cengeng. Terkena masalah dikit, langsung berasa seperti menjadi Ayub. Lucunya, walaupun fenomena cukup banyak saya temukan di sini, tapi jauh lebih banyak saya temukan hal yang sama terjadi di Indonesia. Ataukah bangsa dan generasi kita dilahirkan dan dibesarkan dengan cara yang melankolis? Atau mungkin jiwa pemimpin bangsa menular kepada rakyatnya? Saya tidak mengatakan bahwa presiden SBY yang sepertinya berjiwa melankolis membuat bangsa menjadi cengeng. Dan tentu bukan berarti pendidikan dan pengajaran a la spartan itu merupakan syarat untuk menjadi seorang kristen sejati. Hanya mungkin perlu keseimbangan. Tapi di mana garis batas keseimbangan itu, saya tidak tahu.
Bagaimana hubungannya dengan mengikut Yesus? Tadi sebenarnya saya mau bercerita banyak mengenai background hidup saya, di mana nilai-nilai konservatif dan liberal, nilai-nilai agama dan sekuler, hal-hal ketuhanan dan ilmu pengetahuan, terus berkutat di dalam hati dan pikiran saya. Satu sisi saya bersyukur bisa menjejakkan kaki pada hal-hal yang tampaknya saling kontradiksi supaya saya bisa memahami atau memaklumi poin-poin yang tampaknya berlawanan. Tapi di sisi lain membuat saya mulai cemas, apakah benar saya mengikut Yesus? Ataukah saya menciptakan imajinasi Yesus yang dimirip-miripkan dengan alkitab, dan saya secara tidak sadar mengikuti imajinasi Yesus yang saya ciptakan tersebut? Ataukah logika-logika yang tertulis di dalam alkitab atau diajarkan di gereja-gereja, buat saya itu tidak logis sama sekali?
Di kota tempat saya tinggal, saya pernah ditanya apakah saya percaya Yesus dan mengikuti Yesus, saya cuma bilang: Can you please define believe and follow? Entah apa karena kata percaya dan mengikut itu overrated, ataukah kedua kata tersebut sebenarnya bermakna luas dan dalam sehingga saya tidak tahu lagi apa makna sebenarnya. Mungkin anda akan bilang, mengaku Yesus saja di depan orang, supaya Yesus mengakui anda di depan Bapa. Saya pikir, saya bukan tipe orang yang mudah ditakut-takuti seperti itu. Kalau saya bilang saya kenal seseorang, tentu saya akan bilang bahwa saya kenal orang itu karena saya memang benar-benar kenal. Bukan karena saya sok kenal atau saya takut kalau jawaban saya akan membuat sesuatu yang buruk bisa terjadi ke hidup saya.
Lagipula di kota ini mayoritas penduduknya adalah kristen. Mengakui Yesus di dalam komunitas kristen adalah hal yang mudah, bahkan terlalu mudah. Tidak ada tantangan keberanian di situ, bahkan orang bisa jadi sombong karena sudah bisa mengaku Yesus di depan orang banyak (padahal orang banyak itu adalah komunitas kristen). Seperti kata Yesus juga, apa gunanya berbuat baik ke orang yang berbuat baik ke kamu. Orang dunia juga melakukannya. Demikian juga kalau mengakui Yesus di depan orang-orang kristen. Tidak ada bedanya dengan seorang muslim yang bisa bersemangat mengucapkan kalimat syahadat di depan saudara-saudari muslim lainnya.
Sampai sekarang sesungguhnya saya tidak tahu apa arti kata mengikut Yesus. Kalau dibilang mengikut Yesus adalah mengasihi sesama, sepertinya pengikut Yesus akan sangat banyak jumlahnya, mungkin bisa menjadi ratusan juta orang. Mengasihi adalah perbuatan yang menyenangkan. Bahkan untuk mulut dan bibir bisa tersenyum saja membutuhkan jaringan otot yang jumlahnya lebih sedikit daripada untuk cemberut. Saya rasa itu paralel juga dengan mengasihi. Makanya ada pepatah bilang kalau terus membenci tidak sempat mengasihi. Kalau terus-terusan chatting, ngeblog atau login di Facebook tentu tidak akan sempat mandi apalagi pergi bekerja (dan sayup-sayup saya sudah mendengar ada beberapa orang akan bilang "sempat, kok!").
Anyway, jadi bagaimana, apakah bisa dikatakan bahwa mengikut Yesus artinya mengasihi orang yang membenci kita? Saya pikir bisa saja, sampai dalam poin tertentu. Tapi bagaimana dengan pembahasan yang saya tulis di atas, bahwa orang-orang bisa dengan mudah tergelincir untuk menikmati hal-hal tersebut. Menikmati rasa sakit, rasa sedih, rasa kelam, rasa dangdut melankolis tidak jelas a la Oma Irama yang membuat hati semakin merasa syur yang aneh dan tidak karuan karena diperlakukan tidak enak oleh orang lain atau dibenci oleh orang lain.
Belum lagi kalau orangnya suka duduk di pojokan kamar tidur di malam hari, dan mendengarkan lagu-lagu melankolis sampai akhirnya tertidur karena lelah menangis sampai air mata membanjir di atas bantal. Kalau memang begitu, asumsi saya pengikut Yesus pastinya bakal banyak sekali. Karena saya menemukan banyak orang melankolis di sekitar saya. Termasuk saya sendiri. Menikmati perasaan yang perih namun menyenangkan.
Jadi apakah mengikut Yesus itu? Apakah seperti di Twitter di mana saya harus klik follow untuk mengikut Yesus? Tapi tentu pemilik akun Twitter Jesus Christ bukan Yesus Kristus yang asli. Mengklik follow bukan berarti otomatis saya pengikut Yesus. Walaupun pertanyaan tersebut bukan pertanyaan retoris, tapi saya tidak membutuhkan anda untuk menjawabnya. Bukan apa-apa, saya tidak mau anda kecewa setelah anda memberikan saya puluhan ayat alkitab dan doktrin-doktrin gereja dan saya akan bilang ke anda bahwa anda tidak memberikan jawaban atas pertanyaan saya.
Daripada anda merasa sok tahu bahwa anda memiliki jawabannya -seperti kata teman saya yang kristen juga, bahwa tipikal orang kristen adalah merasa memiliki jawaban atas banyak hal-, mungkin lebih baik anda dan saya sama-sama mencari tahu jawabannya. Kalau pun sampai akhir hayat kita, ternyata anda dan saya tidak menemukan jawabannya, mungkin di kehidupan yang akan datang mudah-mudahan kita mendapatkan jawabannya. Tidak apa-apa, bukan? Bahkan sampai menjelang akhir hayatnya, diberitakan bahwa rasul Paulus menuliskan bahwa yang dia inginkan adalah mengenal siapakah Yesus Kristus itu. Suatu hal yang luar biasa menurut saya. Selama bertahun-tahun dia mengikuti Yesus, mengabarkan injil, dan memuridkan banyak orang, namun dia masih memiliki keinginan untuk mengenal Yesus. Yesus yang Kristus itu.