Submitted by Ruth Lestari on

<--break-->Aku teringat akan malam itu, saat hujan membasahi kota ku. Saat udara yang begitu dingin mencengkram disertai kesunyian yang begitu dalam. Aku terdiam disisi dalam jendela apartemenku. Aku duduk terdiam, terdiam dan diam. BAdanku tak bisa digerakan lagi hanya air mata yang terus membasahi pipi. Aku tak tahu harus berpikir apa, harus berharap apa. Semua keindahan, tawa dan dirinya telah pergi menjauhiku. Yang tersedia hanya kegelapan malam dan kesendirian.<--break-->

               Dia datang dalam rupa lelaki dewasa yang membuka tangannya menyambutku, senyumnya seperti menawarkan semua keindahan dunia. Aku terjatuh dan terbuaian dalam kedalamn suaranya yang membiusku. Matanya masuk ke dalam sukma ku menyingkapkan semua tirai yang menutupi siapa diriku.Aku terpana. “Sediakan saya semua laporan yang saya perlukan. Oh ya, saya harap siang ini sudah ada dimeja saya. Thank you.” Kalimat pertama yang saya dengar pagi ini,lalu saya melihat