Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Belajar Dari Binatang

Lily Ika Loesita's picture
Bacaan Alkitab: Amsal 30:24-28
Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas. Pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu. Belalang, yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur. Cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.

Di artikel ini saya mencoba untuk mengulas mengenai apa yang kitab Amsal sebut sebagai “4 binatang terkecil di bumi, namun yang sangat cekatan”. Bagaimana kita dapat belajar dari binatang-binatang tersebut. Allah memberi hikmat kepada semua makhluk ciptaanNya, temasuk binatang, supaya mereka bisa eksis dalam menjalani hidup di bumi. Oleh sebab itu, Alkitab juga mengajarkan supaya kita belajar dari binatang, agar melalui hikmat yang Allah berikan kepada mereka, kita bisa belajar sesuatu hal yang baru untuk kita bisa lebih berhikmat dan bijaksana dalam menjalani hidup ini. Sehingga kita berhasil dalam hidup yang Tuhan percayakan kepada kita.

SEMUT: Tahu akan musim yang tepat dan bergerak di saat yang tepat.


 

Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan. Jenis semut banyak terdapat di Palestina. Tapi yang dimaksud di dalam Amsal adalah Semut Penuai, kadang-kadang disebut Semut Pertanian, yang mengumpulkan segala macam jenis bibit selama musim panas, lalu menyimpannya di serambi-serambi di bawah tanah, sering sesudah mengupas dan membuang kulitnya. Kelompok-kelompok semut demikian biasa terdapat di daerah pesisir pantai Israel.
Semut adalah hewan yang sangat kecil dan lemah, namun sangat rajin. Mereka tahu kapan harus bekerja mengumpulkan makanan, dan kapan harus tetap berada di sarang. Pada musim panas semut akan meniggalkan sarang untuk mengumpulkan makanan, dan pada musim dingin mereka akan tetap berada di sarang. Jika pada musim panas mereka enggan meninggalkan sarang untuk mencari makanan, dan jika mereka baru mencarinya pada musim dingin mereka tidak akan mendapatkan apa-apa, dan mereka akan mati kelaparan.
Persoalan banyak orang yang tidak berhasil dalam hidupnya adalah karena mereka tidak “bergerak” di waktu yang tepat. Banyak orang gagal bukan karena mereka kurang atau tidak memiliki kemampuan, tetapi karena mereka tidak tahu kapan harus mulai melakukan sesuatu, atau meskipun mereka tahu kapan saat yang tepat, namun mereka enggan dan menunda-nunda untuk bertindak.
Kita harus tahu saat yang tepat untuk sesuatu hal, atau yang biasa di sebut sebagai Kairos Allah. Pengkhotbah berkata:
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
( Pengkhotbah 3:1 )
Jika kita tidak mengerti musim yang sedang berlangsung, kita akan bergerak di saat yang tidak tepat. Di saat seharusnya kita bergerak, kita justru diam. Atau sebaliknya, di saat kita harus diam, kita justru bergerak. Dan itu yang menyebabkan kegagalan banyak orang. Bayangkan jika kita menabur di musim dingin, tentu semua benih yang kita tanam akan mati. Dan segala usaha kita menjadi sia-sia.
Ada waktu untuk segala sesuatu. Jika waktu untuk suatu hal belum tiba, bagaimana pun kita berusaha, itu tidak akan berhasil. Namun, jika waktunya sudah tiba, sepertinya akan ada pintu-pintu yang terbuka untuk apa yang kita lakukan. Hal ini tidak hanya berlaku di bidang usaha atau pekerjaan kita saja, namun juga berlaku dalam semua aspek hidup kita, seperti jodoh, relasi, pelayanan dan lain sebagainya.
Allah menentukan waktu untuk segala sesuatu. Jika kita membaca dalam Injil Yohanes, berkali-kali orang Farisi ingin menangkap Yesus, tetapi mereka tidak berbuat apa-apa karena saatNya belum tiba.  ( Yohanes 8:20 ). Jadi, tiada satu hal pun dapat terjadi di luar waktu Allah.
Untuk dapat mengerti waktu Allah untuk sesuatu hal, dan supaya kita bisa bergerak menurut waktu Allah, kita harus memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Roh Kudus. Alkitab berkata, Roh Kudus akan memimpin kita pada seluruh kebenaran, bahkan Ia akan memberitahukan hal-hal yang akan datang.
Tetapi apabila Ia dating, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
( Yohanes 16:13 )
Roh Kudus yang adalah Roh Allah akan membuat kita untuk mengerti kehendak Allah, termasuk waktu Allah, apa yang Allah ingin kita lakukan, dan bagaimana melakukannya. Allah adalah sumber hikmat kita. Karena itu, kita harus bertanya terlebih dulu kepada Allah untuk apapun yang kita lakukan. Tanpa hikmat dari Allah, maka semua yang kita lakukan akan sia-sia. Amsal menulis:
Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik, orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
( Amsal 19:2 )
Selain itu, untuk berhasil dalam hidup, kita tidak boleh menunda-nunda apa yang seharusnya kita lakukan. Kisah bangsa Israel dapat menjadi peringatan bagi kita, bagaimana mereka enggan bergerak untuk merebut tanah Kanaan ketika Kairos Allah tiba bagi mereka untuk menduduki tanah Kanaan. Dan ketika Kairos itu berlalu, bagaimanapun mereka berperang, mereka tetap kalah di hadapan penduduk Kanaan. Dan mereka harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun. ( Bilangan 14 )
Jika Kairos Allah tiba dan kita menyia-nyiakannya karena keengganan atau kemalasan kita, kita bisa kehilangan kesempatan itu, dan mungkin seumur hidup kita kesempatan itu tidak akan kembali.
Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.
( Ibrani 12:17 )
Satu hal lagi yang bisa kita pelajari dari semut adalah sifat kebersamaan mereka. Semut adalah binatang yang kecil dan lemah, yang sulit untuk melindungi dirinya apabila dia berada sendirian. Namun, jika mereka berdada dalam kelompok besar, mereka akan lebih dapat bertahan.
Kita sebagai orang-orang Kristen juga tidak seharusnya hidup secara individualis. Kita harus hidup secara kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu. Bukan hanya di dalam sebuah gereja lokal, terlebih lagi antar orang percaya dari berbagai denominasi gereja. Karena dengan kebersamaan sebagai satu anggota tubuh Kristus kita akan dapat saling menguatkan dan membangun.
Namun ironisnya, saat ini banyak terjadi perpecahan, bukan hanya antar denominasi gereja, tetapi juga perpecahan dalam satu jemaat lokal. Di mana dalam tubuh Kristus ada iri hati, kesombongan, kebencian, curiga, dan hal-hal lainnya yang berasal dari daging, maka akan terjadi perpecahan.
Allah menghendaki kebersamaan di antara anak-anakNya, bukan hanya karena kebersamaan akan menguatkan dan membangun kita. Namun yang lebih penting adalah, dunia akan mengenal kita sebagai anak-anak Allah jika ada kebersamaan dan kasih di antara kita.
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling menasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.
( Yohanes 13:14-15 )
PELANDUK: Tahu “memanfaatkan” apa yang lebih kuat dari dirinya.
Pelanduk dalam bahasa Ibrani syafan. Mengacu pada kambing bukit dari Siria. Kadang-kadang disebut pelanduk bukit Hyrax syriacus. Binatang ini termasuk jenis yang kecil. Panjang tubunya 40-60 cm, dengan berat 2-4 kg. Masa hidupnya bisa kira-kira mencapai 10 tahun. Binatang ini hanya makan tumbuh-tumbuhan, dan mereka hidup secara berkelompok di tanah yang berbukit batu. Dan jika ada bahaya yang mengancam, mereka akan segara bersembunyi di bawah bukit batu.

Belalang adalah serangga herbivora dari subordo Caelifera dalam ordo Orthoptera. Di seluruh dunia ada lebih dari 10,000 jenis belalang, yang tersebar di daerah tropis, daerah beriklim hangat, padang rumput, dan daerah padang pasir. Belalang hidup berpindah-pindah. Tetapi perpindahannya tidak terjadi pada musim tertentu dalam setahun atau pada masa selang yang pasti. Kawanan belalang berpindah menurut arah angin, sebab kemampuan terbangnya yang hanya sedikit.
Saat merenungkan kehidupan pelanduk, saya teringat akan kehidupan Daud. Seperti pelanduk yang adalah hewan yang lemah namun memanfaatkan bukit batu sebagai tempat perlindungan bagi dirinya. Demikian juga Daud, di dalam ketidak berdayaannya, ia mencari Allah sebagai tempat perlindungannya.
Dalam kitab Mazmur kita sering melihat Daud menyebut Allah sebagai gunung batu, kubuh pertahanan, kota benteng, dan perisai. Dengan kata lain, Daud menempatkan Allah sebagai satu-satunya tempat perlindungannya.
Di tengah kesukaran, sering kali kita mencari perlindungan kepada yang bukan Allah. Kita berusaha dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri, dengan apa yang kita miliki. Atau kita berusaha mencari pertolongan dari orang lain. Padahal Allah menghendaki kita mencari pertolongan hanya kepadaNya.
Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari TUHAN!…… Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
( Yeremia 17:5, 7 )
Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal AKU.”
( Yeremia 9:23-24 )
Saat menghadapi bahaya, pelanduk tidak berusaha melawan atau meminta pertolongan dari pelanduk lain. Yang pelanduk lakukan adalah lari dan bersembunyi di bawah bukit batu. Demikian juga seharusnya sikap kita, ketika kita menghadapi bahaya, seperti sakit penyakit, masalah ekonomi, masalah keluarga, atau kita sedang menghadapi tawaran-tawaran dunia yang mengancam kekudusan, integritas, dan komitmen kita kepada Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari perlindungan kepada Tuhan yang adalah bukit batu kita.
Hal lain yang bisa kita pelajari dari pelanduk yang “memanfaatkan” apa yang lebih kuat dari dirinya adalah, kita “memanfaatkan” dalam arti kita belajar dari orang-orang yang memiliki sesuatu yang lebih dari kita atau sesuatu yang tidak kita miliki.
Terkadang kita terlalu sombong untuk mau belajar dari orang lain. Kita merasa diri kita sudah cukup pintar, atau bahkan lebih pintar dari orang lain. Kita sering memandang rendah orang-orang yang kita anggap memiliki kemampuan yang kurang dibandingkan kita. Padahal pasti ada sesuatu yang belum kita ketahui yang diketahui orang lain meskipun kita merasa levelnya di bawah kita. Konfosius pernah berkata, jika kita berjalan dengan 3 orang, kita bisa belajar dari 2 orang diantaranya. Selalu ada sesuatu yang baru yang bisa kita pelajari.
Baiklah orang bijak mendengar dan menimbah ilmu, dan baiklah orang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.
( Amsal 1:5 )
Salomo, orang paling berhikmat yang pernah hidup di muka bumi mengajarkan, agar orang bijak menimbah ilmu, dan orang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan. Dengan kata lain, tidak ada orang yang begitu bijak sehingga dia tidak perlu belajar lagi, dan tidak ada orang yang begitu berpengertian sehingga dia mengetahui segala sesuatu dan memutuskan segala sesuatu dengan benar.
Allah mau kita tidak berhenti untuk belajar. Karena dengan terus belajar kita akan terus bertumbuh. Dan akan selalu ada sesuatu yang baru dalam hidup ini yang harus kita pelajari supaya kita bisa menjalani hidup ini dengan bijaksana sesuai dengan kehendak Allah.
BELALANG: Memiliki keteraturan atau kedisiplinan.
Dalam kitab Yoel disebutkan kemusnaan yang mengerikan akibat tulah belalang. Belalang-belalang digambarkan seperti pahlawan mereka berlari, seperti prajurit mereka naik tembok; dan mereka masing-masing berjalan terus dengan tidak membelok dari jalannya; mereka tidak berdesak-desakan, mereka berjalan terus masing-masing di jalannya; mereka menerobos pertahanan dengan tombak, mereka tidak membiarkan barisannya terputus. ( Yoel 2:7-8 ) Dalam tafsiran Alkitab Masa Kini belalang disebut ‘suatu bangsa’ goy karena jumlah mereka dan karena organisasinya yang nyata.
Amsal mengajarkan kita untuk belajar dari belalang yang memiliki keteraturan dan kedisiplinan. Banyak orang yang tidak berhasil dalam hidupnya karena merek tidak punya keteraturan dan kedisiplinan.
 Saya sering mendengar orang yang mengeluh tidak memiliki cukup waktu. Namun, sebenarnya masalah sebagian orang bukanya mereka tidak memiliki cukup waktu. Yang menjadi masalahnya adalah karena mereka tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Mereka menyia-nyiakan waktu mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Akibatnya mereka kekurangan waktu untuk melakukan hal-hal yang penting.
Allah memberikan waktu yang sama kepada setiap orang, yaitu 24 jam dalam sehari. Jika kita mampu mengatur waktu kita dengan baik dengan mengatur prioritas-prioritas dalam hidup kita, dan mendisplin diri untuk mengutamakan prioritas-prioritas tersebut, maka kita tidak akan kekurangan waktu dalam hidup kita.
Yesus adalah teladan yang paling baik dalam mengatur prioritas dalam hidupNya, dan bagaimana Ia mendisiplin diri untuk mengutamakan prioritas-prioritas tersebut. Di tengah kesibukan pelayananNya memberitakan Injil dari kota ke kota, sambil menyembuhkan orang sakit dan membuat mujizat, Yesus selalu memiliki waktu untuk berdoa dan mengajar murid-muridNya secara pribadi karena itulah yang menjadi prioritas Yesus. Meskipun Yesus lelah karena perjalanan yang jauh, Yesus selalu bangun waktu pagi-pagi benar untuk berdoa. Dan meskipun banyak orang berbondong-bondong mencari Yesus, Ia selalu memiliki waktu tersendiri untuk mengajar murid-muridNya.
Namun seberapa banyak orang yang mengatur apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya dan mendisiplin diri untuk melakukan prioritas-prioritas tersebut? Seberapa banyak orang yang mau mendahulukan hal-hal yang penting daripada yang menyenangkan? Seberapa banyak orang yang mau berusaha untuk teratur meskipun dalam hal-hal kecil?
Saya menjumpai beberapa orang yang secara tidak langsung memiliki perinsip hdup ‘mengalir saja’. Mereka tidak memiliki prioritas dan target dalam hidup mereka. Mereka melakukan hanya apa yang ingin mereka lakukan saat itu. Meskipun hal itu tidak berguna, dan karenanya mereka mengorbankan apa yang penting bagi mereka. Mereka tidak memiliki suatu disiplin diri untuk mendahulukan hal-hal yang penting dari pada yang menyenangkan.
Ada orang-orang yang habiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol di telepon atau untuk nonton TV. Dan kemudian mereka mengeluh karena tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Atau ada juga orang-orang yang memiliki kebiasaan tidak bisa mengembalikan barang-barang pada tempatnya secara konsisten, akibatnya diperlukan waktu berjam-jam hanya untuk mencari satu benda. Itu pun adalah pemborosan waktu yang diakibatkan karena tidak adanya keteraturan dan kedisiplinan.
Keteraturan dan kedisiplinan sangat diperlukan untuk berhasil dalam hidup. Orang yang teratur dan disiplin akan bisa menangani segala sesuatunya dengan lebih baik. Dan apa pun juga yang mereka kerjakan akan lebih maksimal. Akibatnya mereka akan memperoleh hasil yang lebih baik.
CICAK: Bisa menikmati tanpa harus memiliki.
Cecak atau cicak adalah hewan reptil yang biasa merayap di dinding atau pohon. Cecak biasa memakan serangga dan terutama nyamuk. Biasanya cecak hidup di dinding-dinding dan di atap rumah. Di alam cecak biasanya hidup pada tempat-tempat teduh.
Mefibosef adalah anak Yonatan, cucu Saul, raja Petama Israel. Setelah kekuasaan Saul berakhir, Daud mengantikan Saul menjadi raja atas Israel. Karena sumpahnya kepada Yonatan, Daud tidak memusnakan seluruh keluarga  Saul. Sebaliknya, Daud menunjukan kasih karunianya kepada Mefiboset. Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. ( II Samuel 10:11 ) Mefiboset menikmati fasilitas sebagai anak raja, meskipun dia bukan anak raja.
Namun, saat dia ingin merebut kembali kekuasaan atas Israel sebagai keturunan Saul, pada waktu Absalom anak Daud melakukan kudeta terhadap ayahnya, dia justru kehilangan segalanya. Kemudian berkatalah raja: “Dimanakah anak tuanmu?” Jawab Ziba kepada raja: “Ia ada di Yerusalem, sebab katanya: Pada hari ini kaum Israel akan mengembalikan kepadaku kerajaan ayahku.” Lalu berkatalah raja kepada Ziba: “Kalau begitu, kepunyaanmulah segala kepunyaan Mefiboset.”  ( II Samuel 16:3-4 )
Terkadang Tuhan hanya memberikan kepada kita karunia untuk menikmati, bukan memiliki. Tetapi banyak orang ingin bisa memiliki lebih dahulu sebelum bisa menikmati apa yang ada padanya. Seharusnya, kita bisa menikmati apa yang ada pada kita sebelum hal tersebut menjadi milik kita. Tetapi orang justru ingin hal itu menjadi miliknya dulu sebelum mereka dengan sukacita dan syukur bisa menikmatinya.
Cicak dapat tinggal dalam sebuah rumah dan menikmati keteduhan rumah tersebut tanpa harus memiliknya. Kita pun dapat menikmati suatu fasilitas, tanpa berusaha menjadikannya milik kita. Allah memberi jatah kepada masing-masing orang. Jika jatah kita hanya untuk meniknati, bersyukurlah dan nikmatilah. Karena ketika kita berambisi memiliki sesuatu yang melebihi jatah kita, justru kita bisa kehilangan hal tersebut.
Contoh yang sederhana, jika kita mendapat fasilitas mobil dari kantor, dan kita belum memiliki mobil sendiri. Kita bisa mensyukuri, merawatnya dan mepegunakannya tanpa berambisi supaya mobil tersebut menjadi milik kita. Kita harus bersyukur karena kita bisa mengendarai mobil tanpa perlu mengeluarkan biaya perawatan, pajak, perpanjangan STNK, dan lain sebagainya, karena itu akan menjadi tanggungan kantor. Namun jika timbul ambisi dalam hati kita untuk memiliknya, dan kita melarikannya, kita justu akan kehilangan mobil tersebut. Bukan hanya kehilangan mobilnya, kita juga bisa kehilangan pekerjaan kita, bahkan kita bisa berurusan dengan yang berwajib karena kita telah melakukan usaha pencurian.
Kebahagiaan bukan soal apa yang kita miliki. Tetapi soal bagaimana kita menikmati apa yang ada pada kita sekalipun tanpa menjadi milik kita. Karena ada orang-orang yang justru memiliki tanpa bisa menikmati.
Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan sesuatu yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya!
(Pengkhotbah 6:2)
Bisa menikmati apa yang ada pada kita tanpa berambisi memilikinnya bukan berarti kita tidak boleh menginginkan sesuatu yang lebih baik, dan puas dengan apa yang ada serta berhenti berusaha. Kita harus terus berusaha untuk mencapai yang terbaik dan mengoptimalkan kemampuan yang Tuhan berikan pada kita. Namun, jika Tuhan belum memberikan kita karunia untuk memiliki, paling tidak Tuhan sudah memberikan kita karunia untuk menikmati. Dan kita harus selalu bersyukur untuk apa pun yang Tuhan percayakan pada kita. Entah untuk memiliki, atau untuk menikmati. Dan itulah keberhasilan hidup yang sejati, hidup yang selalu bersyukur kepada Tuhan.
Glory to The Lord