Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Kritik

victorc's picture
Shalom, selamat pagi saudaraku. Ada yang menanyakan tentang mengapa kita tidak boleh mengkritik segala hal? Di mana batas-batasnya?* Artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun dengan membatasi diri dalam ranah studi biblika dan hermeneutik. Batasan ini saja sebenarnya sudah sangat luas cakupannya.

Keterbatasan rasio
Suatu kritik biasanya adalah hasil dari olah pikir atau rasio. Menurut para ahli, fungsi kritik biasanya didominasi otak kiri, sementara otak kanan lebih berorientasi ke pemikiran kreatif / holistik. Selain itu, dalam ilmu hermeneutik, rasio berfungsi dengan mengandaikan serangkaian dalil yang disebut pra-anggapan. Jadi alurnya adalah sebagai berikut:

Pra-anggapan --> rasio --> kritik

Dari alur di atas kiranya jelas bahwa suatu kritik senantiasa bertolak dari pra-anggapan atau asumsi tertentu. Dan hal ini bisa dikonfrontir dengan data, misalnya dengan merujuk pada dokumen-dokumen sejarah primer. Misalnya, banyak orang khususnya kalangan non-kristen berpraduga bahwa Alkitab sudah diubah (dipalsukan), dan tidak ada lagi naskah Alkitab yang asli. 
Namun, temuan-temuan arkeologis telah menunjukkan bahwa: a. Naskah PL tetap sama walaupun berselang waktu hampir 1000 tahun (lihat Naskah Laut Mati tentang kitab Yesaya dll), b. Naskah-naskah tertua PB sudah ditemukan, dan tarikhnya berselang hanya belasan tahun dibandingkan dengan tahun penulisannya. Artinya naskah-naskah tertua PB sangat dekat dengan dokumen aslinya. Jadi tidaklah benar tuduhan bahwa naskah-naskah Alkitab telah dipalsukan (forgery), seperti sering dituduhkan misalnya oleh Bart Ehrman dalam buku-bukunya. (3)
Dengan kata lain, kritik-kritik yang liar cenderung menghasilkan pemikiran-pemikiran yang ahistoris dan tidak berdasar.
Namun, jika kritik diletakkan pada proporsinya, misalnya pada metode kritik historis, maka metode ini cukup berguna untuk memperoleh pemahaman akan teks-teks Alkitab yang sulit (Verstehen). Tentunya, metode kritik historis mengandaikan bahwa Alkitab cukup bisa diandalkan dan dipercaya. Lihat artikel Prof. Ian Howard Marshall. (1) dan juga buku Eldon Epp & Gordon Fee tentang kritik teks (textual criticism). (5)
Sebaliknya, jika kritik ditujukan bukan untuk memperoleh pemahaman, namun hanya kritik untuk membongkar segala hal secara radikal, itu yang disebut "radical criticism." Misalnya jika Anda beranggapan bahwa Yesus tidak pernah ada dalam sejarah, seperti pandangan Marx & Engels. Itu sebabnya kaum Marxis mengambil posisi sebagai ateis.
Jika Anda dengan sengaja mengambil posisi seperti itu, maka itu berarti Anda tidak termasuk sebagai orang Kristen lagi.
Namun, jika Anda ingin sedikit mempelajari tentang teori kritis atau Mazhab Frankfurt, silakan lihat misalnya (4).

Ilustrasi
Izinkan saya menyampaikan sebuah ilustrasi kuno yang mungkin berguna dalam konteks ini:

Seorang anak muda sedang berburu di hutan, tapi tiba-tiba dada kirinya terkena peluru dari pemburu yang lain. Ia jatuh rebah dan merasa hampir mati. Lalu seorang pertapa menemukan dia, dan bermaksud menolongnya. Namun pemuda itu berkata: "Tolong cari siapa orang yang menembak saya, dan apa maksudnya?"
Pertapa itu lalu menjawab, "Anakku, kamu hampir mati tapi kamu menolak untuk ditolong sebelum kamu tahu berbagai jawaban: siapa yang menembakmu, dengan peluru apa kamu ditembak, dan kenapa dia menembakmu. Bukankah lebih baik kamu membiarkan saya mengobatimu, supaya lukamu tidak membawamu pada kematian?"

Demikianlah, kiranya ilustrasi di atas dapat berguna. Pesannya adalah bahwa Yesus Kristus datang ke bumi untuk menyelamatkan manusia berdosa, dan bukan untuk beradu argumentasi. Lagipula hati memiliki logikanya sendiri, yang akal tidak dapat menjangkaunya. Artinya fenomena spiritual seperti iman dan keselamatan berada di luar jangkauan rasio.

Versi 1.0: 25 juni 2016, pk. 12.18
VC

* artikel ini ditulis untuk dan-dan

Referensi:
(1) Ian Howard Marshall. Historical criticism. Url: http://www.biblicalstudies.org.uk/pdf/nt-interpretation/nti_7_historical-criticism_marshall.pdf
(2) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Verstehen
(3) Bart D. Ehrman. Forged. HarperCollins ebooks.
(4) Bob Cannon. Rethinking the normative content of the critical theory. New York, Palgrave, 2001.
(5) Eldon J. Epp & Gordon D. Fee. Studies in the Theory and Method of New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publ. Co., 1993.
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.

DAN-DAN's picture

@victorc. Masih sama Pak, saya belum mendapat jawaban.

Dear, Pak Victor

Disini lagi2 saya belum mendapatkan jawaban seperti kasus perbincangan kita yang sudah2.

Di dalam blog ini Pak Victor menerangkan tentang suatu critics dan beberapa metode critics. Misal: Higher Criticism, Lower Criticism, dll.

Sedangkan pertanyaan saya adalah:

(Saya Copas).

Mengapa hanya dalam batasan tertantu kita boleh kritis Pak? Apa yang membuat kita tidak boleh kritis terhadap hal apapun? Dan hukum apa yang melarang hal itu? Tatanan usang itu apa Pak? Dalam kategori apa kita bisa menyebut satu hal sudah usang atau belum? Bukankah sikap kritis adalah juga suatu bentuk pertanyaan? Mengapa tidak kita jawab saja pertanyaan itu jika memang kita bisa menjawabnya? Bukankah malah kita bisa memberikan jalan keluar bagi orang tersebut?

Jika ada orang yang mempertanyakan iman mereka termasuk soal status ke-Allah-an Yesus, kenapa tidak sehat? Jika kita punya jawabannya maka orang yang mempertanyakan tersebut akan menjadi lebih mengerti. Jika tidak ada jawabannya maka apakah lantas kita bilang pertanyaan itu bukan pertanyaan sehat? Apakah karena pertanyaan itu bisa memperkecil keimanan maka dianggap tidak sehat?

Baiklah anggap saja pertanyaan seperti itu tidak sehat karena bisa memperkecil keimanan, lantas apakah pertanyaan seperti itu bisa hilang dari benak sang penanya? Saya rasa tidak bisa. Si penanya hanya dibungkam saja. Pertanyaannya akan selalu ada di otak si Penanya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Anda menulis:

Suatu kritik biasanya adalah hasil dari olah pikir atau rasio. Menurut para ahli, fungsi kritik biasanya didominasi otak kiri, sementara otak kanan lebih berorientasi ke pemikiran kreatif / holistik. Selain itu, dalam ilmu hermeneutik, rasio berfungsi dengan mengandaikan serangkaian dalil yang disebut pra-anggapan. Jadi alurnya adalah sebagai berikut:

Pra-anggapan --> rasio --> kritik

Dari alur di atas kiranya jelas bahwa suatu kritik senantiasa bertolak dari pra-anggapan atau asumsi tertentu. Dan hal ini bisa dikonfrontir dengan data, misalnya dengan merujuk pada dokumen-dokumen sejarah primer. Misalnya, banyak orang khususnya kalangan non-kristen berpraduga bahwa Alkitab sudah diubah (dipalsukan), dan tidak ada lagi naskah Alkitab yang asli.

Saya:

Tentu saja memang harus memakai pra-asumsi Pak. Bukan hanya Critics, tetapi setiap obrolan harus berdasarkan suatu pra-asumsi. Jika tidak, lalu apa fondasi kita untuk berpikir dan berdialog? Setau saya justru itulah cara pikir orang2 Postmodern. Beberapa bukan merelativkan segala sesuatu, tapi memang kenyataannya kita harus berdasarkan Pra-asumsi tertentu. Makanya biasanya mereka akan bilang, hal itu relativ, relativnya adalah teragantung berdasarkan apa? Alias mau dimulai dari pra-asumsi apa pembahasannya. Jika tidak, maka akan jadi absurd pembahasannya.

Misalnya seperti yang telah saya obrolkan kepada Pak Victor sebelumnya, yaitu:

(Saya Copas)

  1. Jika ada orang yang mempertanyakan iman mereka termasuk soal status ke-Allah-an Yesus, kenapa tidak sehat? Jika kita punya jawabannya maka orang yang mempertanyakan tersebut akan menjadi lebih mengerti. Jika tidak ada jawabannya maka apakah lantas kita bilang pertanyaan itu bukan pertanyaan sehat? Apakah karena pertanyaan itu bisa memperkecil keimanan maka dianggap tidak sehat? Baiklah anggap saja pertanyaan seperti itu tidak sehat karena bisa memperkecil keimanan, lantas apakah pertanyaan seperti itu bisa hilang dari benak sang penanya? Saya rasa tidak bisa. Si penanya hanya dibungkam saja. Pertanyaannya akan selalu ada di otak si Penanya....
  2. Menurut saya tidak selalu akan berakibat pada 3ketiga hal tersebut. Tapi baiklah, katakanlah akan berakibat pada 3 hal tersebut. 3 hal tersebut adalah efek atau katakanlah lebih jauh sebagai konsekuensi atau akibat. Suatu akibat hanyalah mengikut saja Pak. Yang menjadi pertanyaana adalah "penyebab"nya. Jika kita bicarakan akibatnya maka menurut saya kurang nyambung dengan permasalahannya.

 

 

Anda menulis:

Namun, jika kritik diletakkan pada proporsinya, misalnya pada metode kritik historis, maka metode ini cukup berguna untuk memperoleh pemahaman akan teks-teks Alkitab yang sulit (Verstehen). Tentunya, metode kritik historis mengandaikan bahwa Alkitab cukup bisa diandalkan dan dipercaya.

Saya:

Berguna itu berguna untuk apa ya Pak? Untuk lebih membela iman kita? Permasalahannya bukan disitu Pak. Tetapi seperti yang telah saya bahas, bahwa orang2 yang berseberangan dengan kita itu butuh jawaban. Jika kita bisa memberikan jawaban kepada mereka maka itu akan sangat berguna juga untuk mereka.

 

 

Anda menulis:


Sebaliknya, jika kritik ditujukan bukan untuk memperoleh pemahaman, namun hanya kritik untuk membongkar segala hal secara radikal, itu yang disebut "radical criticism." Misalnya jika Anda beranggapan bahwa Yesus tidak pernah ada dalam sejarah, seperti pandangan Marx & Engels. Itu sebabnya kaum Marxis mengambil posisi sebagai ateis.
Jika Anda dengan sengaja mengambil posisi seperti itu, maka itu berarti Anda tidak termasuk sebagai orang Kristen lagi.

Saya:

Menurut saya, dalam permasalahan ini tidaklah penting anggapan dan sebutan apakah ini orang Kristen atau tidak. Menurut saya yang lebih penting adalah, apakah kita bisa menjawab pertanyaan mereka? Jika tidak, maka posisi kita sebenarnya sama saja dengan mereka2 yang berseberangan dengan kita Pak. Jika bisa kita buktikan dengan suatu dasar dari keilmuan tertentu, ya bagus.

Masalah Yesus Historis atau tidak, menurut saya masih tidak terlalu susah dibandingkan dengan misalnya masalah yang dr pertama kita bahas yaitu Otoritas Alkitab lalu misalnya lagi masalah2 Kristologi seperti ke-Allah-an Yesus dll.

Permasalahan di luaran yang sering saya lihat adalah, seringkali orang2 Kristen menyalahkan pra-asumsi2 yang ada dan dilontarkan dari pihak yan berseberangan, sedangkan orang2 Kristen ini pun membangun sistematikanya diatas suatu pra-anggapan pula. Begitu pula sebaliknya yang dilakukan dari pihak yang berserberangan dengan Kristen. Menurut saya hal ini tidaklah fair. Lebih baik kita membicarakan pra-asumsinya dulu berdasarkan suatu pra-asumsi lainnya, karenal itu akan lebih asik dan lebih berguna dan lebih bermutu, menurut saya.

 

 

*BTW Pak Victor, Masih banyak pertanyaan2 saya yang lain yang belum terjawab. Usul saya, untuk membahas secara sistematis, apakah tidak lebih baik kita berdiskusi lewat comment aja Pak? Jadi bisa gampang tracking-nya. Kalo Bapak bikin blog terus, ntar lompat2 dan susah untuk berdiskusi secara sistemik. Dan mungkin akan banyak point2 yang terlewatkan.



 

__________________

Saya Suka Bebek Panggang...

victorc's picture

@dan-dan: kalau yang kamu tanyakan adalah...

Pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan keraguan orang-orang yang belum percaya, lebih baik kamu ambil mata kuliah apologetika di salah satu STT terdekat di kota kamu, atau kamu bisa cari buku-buku apologetika, misalnya Ravi Zacharias.
Saya sudah berusaha menjawab pertanyaan kamu, kenapa kritik atau pertanyaan ada batasnya. Kalau terlalu menuju misalnya pada poin-poin yang dipercayai dalam pengakuan iman rasuli, maka itu disebut kritik radikal.
maaf, minat saya bukan apologetika,tapi lebih ke studi biblika.
VC
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.

DAN-DAN's picture

@Victorc. Baik, Terimakasih Pak Victor

Oh, Kalo begitu baiklah Pak Victor. Terimakasih.

BTW, Ravi Ahmad ...eh salah, Ravi Zakarias juga menurut saya tidak menjawab pertanyaan seputar hal ini. Secara filosofis juga ndak terlalu difokuskan. Yang saya lumayan suka adalah Alvin Plantinga, hanya beliau adalah seorang Filsuf dan tidak ke arah biblika. Apologetikanya tidak bergaya presupotitional seperti ala Van Til. Tetapi lebih ke arah onologikal. Tapi sepertinya beliau tidak pernah membahas ke arah otoritas alkitab, hanya teodise2 saja. Tentang seputar Alkitab dan otoritasnya, dengar2 dr beberapa murid Plantinga, beliau ini seorang erantis ya hehehe Laughing

 

Beberapa pelajaran Apologetika yang saya dapat, tidak bisa menjawab seputar permasalahan ini. Seperti kebanyakan yang saya temui, jawaban2nya hanya difokuskan pada akibat2 saja. Tidak benar2 membahas tuntas akar permasalahannya.

 

Tapi, baiklah. Terimakasih banyak Pak Victor untuk jawaban2 nya. Mungkin nanti kita bisa bertemu di ranah biblika, ranah yang Pak Victor minati.

 

 

 

__________________

Saya Suka Bebek Panggang...