Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Mengatasi Rasa Cemas Ketika Berbicara di Depan Umum

Purnawan Kristanto's picture

Berbicara di muka umum, entah itu berkhotbah, mengajar, berpidato atau memberi sambutan, sering mendatangkan stress bagi orang mendapat mandat itu. Sedapat mungkin kita biasanya berusaha menghindar. 

Namun pada saat tertentu kita akan tidak bisa mengelak lagi.  Sesungguhnya, berbicara di depan umum itu TIDAK HARUS MEMBUAT ANDA STRESS!

Rahasianya adalah jika Anda mengetahui penyebab stress ini, dan jika Anda menerapkan beberapa prinsip-prinsip ini, maka Anda justru akan menikmati ketika berbicara di depan umum. 

Prinsip #1--Kecemasan Berbicara di Muka Umum BUKAN Berasal dari Dalam

Kebanyakan kita percaya bahwa seluruh hidup ini patut dicemaskan! Untuk mengatasi kecemasan ini secara efektif, Anda mesti menyadari bahwa Anda TIDAK perlu mencemaskan hidup Anda, termasuk juga dalam berbicara di depan umum. Ribuan orang telah belajar untuk berbicara di depan umum tanpa rasa cemas (kalaupun ada hanya sedikit sekali).

Pada mulanya, mereka ini juga sangat cemas.  Lutut mereka gemetaran, suara mereka bergetar, pikiran menjadi kacau . . . selanjutnya Anda tahu sendiri. Tapi akhirnya mereka berhasil menghapus kecemasan itu. 

Sebagai manusia biasa, Anda pun juga tidak berbeda dengan mereka. Jika mereka mampu mengatasi kecemasan itu, berarti Anda pun bisa! Anda hanya perlu mendapat pedoman, pengertian dan rencana aksi yang tepat untuk mewujudkan hal itu. Percayalah, sudah banyak berhasil, termasuk saya.  Tetapi ingat juga, keberhasilan ini tidak bisa diraih dalam semalam. Ada proses yang harus dilalui.

Prinsip #2--Anda tidak Harus Cerdas dan Sempurna 

Ketika melihat seorang sedang berkhotbah, kita lalu bergumam "Wow, saya tidak mungkin bisa secerdas, setenang, selucu dan semenarik dia." Sesungguhnya, Anda tidak harus cerdas, lucu atau menarik.  Saya mengatakan ini dengan serius.  Walaupun Anda hanya memiliki kemampuan rata-rata--bahkan di bawah rata-rata--Anda masih bisa menjadi pembicara sukses. Itu tergantung bagaimana Anda mendefinisikan kata "sukses" itu sendiri. Percayalah, hadirin itu tidak mengharapkan Anda tampil sempurna.

Inti dari berbicara di depan umum adalah: memberikan sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi hadirin. Jika hadirin itu pulang sambil membawa sesuatu yang bermanfaat, maka mereka akan menilai Anda telah sukses. Jika mereka pulang dengan perasaan yang lega atau merasa mendapat manfaat untuk pekerjaannya, maka mereka akan menganggap bahwa tidak sia-sia meluangkan waktu untuk mendengarkan paparan Anda. Bahkan sekalipun lidah Anda terpeleset atau mengucapkan kata-kata yang tolol . . . mereka tidak peduli. 

Yang penting mereka mendapat manfaat lain (Bahkan sekalipun Anda mengkritik mereka dan membuat gusar, Anda pun tetap berhasil karena membuat mereka lebih baik lagi.) 

Prinsip #3--Anda hanya Butuh Dua atau Tiga Pokok Utama

Anda tidak perlu menyuguhkan segunung fakta pada hadirin. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali yang mampu diingat hadirin (kecuali jika mereka mencatat, tentu saja). Pilihlah dua atau tiga point utama saja.

Yang diinginkan hadirin sebenarnya adalah mereka bisa membawa pulang dua atau tiga hal yang bermanfaat. Jika Anda bisa memasukkan hal ini dalam materi Anda, Anda bisa menghindari kompleksitas yang tidak perlu.

Ini berarti juga membuat tugas Anda sebagai pembicara jadi lebih ringan, dan lebih menyenangkan juga! 

Prinsip #4--Anda Punya Tujuan yang Tepat

Prinsip ini sangat penting . . . jadi simaklah baik-baik. Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh orang yang berbicara di depan umum adalah mereka tidak punya tujuan yang tepat. Inilah yang secara tidak mereka sadari menyebabkan kecemasan dan stress. 

Seorang pembicara mengisahkan pengalamannya:"Dulu, saya pikir tujuan utama berpidato adalah membuat semua orang yang hadir setuju dengan pendapat saya." Karena itu, dia berusaha keras untuk meyakinkan semua hadirin. Jika ada satu orang saja yang tidak setuju, dia langsung meradang.  Jika ada orang yang pulang duluan, jatuh tertidur, atau kelihatan tidak tertarik, orang ini merasa telah gagal. Tetapi kemudian dia menyadari hawa ambisi seperti ini terlihat menggelikan.

Apakah ada pembicara yang bisa meyakinkan 100%  orang yang mendengarnya? Jawabannya: tidak ada! Sesungguhnya, sekeras apapun upaya Anda. . . selalu saja ada orang yang tidak sepakat dengan Anda.  Tetapi tidak apa-apa.  Ini hal yang biasa.

Di dalam kumpulan orang banyak selalu ada perbedaan pendapat, penilaian dan tanggapan. Ada yang positif, ada pula yang negatif. Tidak ada yang pasti dalam hal ini. Jika lamban menyelesaikan pekerjaan Anda, ada yang bersimpati pada Anda, ada pula yang mengkritik Anda dengan tajam. Jika Anda menuntaskan pekerjaan Anda dengan baik, ada yang memuji kemampuan Anda, ada pula yang sangsi bahwa Anda bisa mengerjakannya sendirian. Orang yang pulang duluan, mungkin bukannya tidak tertarik pada uraian Anda melainkan mungkin karena ada keperluan mendesak. Yang tertidur, mungkin semalaman begadang karena anaknya sakit.  

Ingat, inti dari berbicara di depan umum adalah memberi nilai atau makna tertentu pada hadirin.  Kata kuncinya adalah MEMBERI, bukan MENDAPAT! Dengan kata lain, tujuannya bukan mendapat sesuatu(persetujuan, ketenaran, penghormatan, pengikut dsb) dari pendengar Anda, melainkan memberikan sesuatu yang bermanfaat. 

Prinsip #5--Kunci Sukses adalah Tidak Menganggap Diri Anda Seorang Pembicara! 

Prinsip ini tampak paradoks. Kebanyakan orang telah terpengaruh oleh pembicara yang sukses. Kemudian agar sukses, kita berusaha sekuat tenaga memperlihatkan kualitas tertentu yang sebenarnya tidak kita miliki. Akibatnya kita menjadi putus asa ketika gagal meniru karakteristik dari orang terkenal, yang kita anggap sebagai kunci suksesnya.

Jelasnya, alih-alih menjadi diri sendiri, kita sering berusaha menjadi seperti orang lain! Padahal sebagian besar pembicara yang sukses itu melakukan hal yang sebaliknya! Mereka tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi menjadi diri mereka sendiri. Dan mereka pun terkejut sendiri karena mereka bisa menikmati tugas yang bayak dicemaskan orang ini. 

Rahasianya, karena mereka tidak berusaha menjadi pembicara tetapi menjadi diri mereka sendiri! Kita bisa melakukan hal yang sama. Apapun jenis kepribadian Anda, ataupun ketrampilan dan talenta yang Anda miliki, Anda pasti mampu berdiri di muka umum dan menjadi diri Anda sendiri. 

Prinsip #6--Kerendahan Hati dan Humor Sangat Menarik Perhatian 

Ada dua hal yang dapat dipakai oleh siapa saja untuk menarik perhatian orang ketika berbicara di muka umum, yaitu: kerendahan hati dan humor. Semua orang mengenal humor.  Jika humor itu tidak menyakiti siapapun, cukup lucu dan sesuai dengan tema pembicaraan Anda, silahkan gunakan.  Humor selalu menarik meskipun Anda tidak cakap menyampaikannya. 

Sedangkan yang dimaksud kerendahan hati adalah ketika berbicara Anda  membagikan pergumulan, kelemahan dan kegagalan Anda. Sebagai manusia biasa kita punya kelemahan dan ketika Anda jujur mengungkapkannya Anda menciptakan suasana yang nyaman sehingga orang lain juga bersedia mengungkapkan hal yang sama. 

Dengan rendah hati di depan orang lain, justru akan membuat Anda lebih kredibel, bisa dipercaya dan disegani. Anda lebih mudah menjalin komunikasi dengan mereka karena dianggap sebagai "orangnya sendiri". 

Kombinasi antara  humor dan kerendahan hati seringkali sangat efektif. Dengan menceritakan pengalaman hidup Anda yang lucu dapat menjadi sarana komunikasi yang menarik. Demikian juga dengan menceritakan perasaan Anda saat itu. Misalnya, jika Anda merasa grogi ketika itu, jangan tutup-tutupi (karena mereka pasti bisa melihat).  Dengan rendah hati, akuilah ketakutan itu dengan jujur. 

Prinsip #7--Apa yang Terjadi Selama Anda Berbicara,  Bisa Anda Manfaatkan untuk Keuntungan Anda! 

Salah satu alasan orang takut berbicara di depan umum adalah karena dia tidak mau dipermalukan di hadapan orang banyak. Bagaimana nanti jika aku gemetaran dan suaraku tercekat?  Bagaimana jika aku lupa sama sekali apa yang harus kusampaikan? Bagaimana jika hadirin menolakku dan melempari aku dengan benda-benda? Bagaimana nanti jika mereka keluar ruangan semua? Bagaimana nanti jika mereka mengajukan pertanyaan sukar dan komentar tajam?  

Jika semua ini memang terjadi, memang akan membuat pembicara itu mendapat malu.  Untungnya, hal ini tidak sering terjadi. Sekalipun ini terjadi, ada jurus jitu yang dapat dipakai untuk menangkalnya. Ingin tahu?  Jika orang mulai beranjak pergi, Anda bisa bertanya: "Apakah dari yang saya sampaikan ada yang tidak Anda setujui?  Apakah gaya dan cara saya menyampaikan kurang tepat?  Apakah yang saya sampaikan tidak sesuai dengan harapan Anda?  Ataukah ada yang salah masuk ruangan?" Dengan menanyakan hal ini secara jujur dan rendah hati, maka hadirin yang masih duduk akan setia hingga Anda selesai berbicara.

Pertanyaan ini juga memberikan kesempatan pada Anda untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan saat itu. Prinsip yang sama juga dapat diterapkan menghadapi penentang dan pengejek Anda. Anda selalu punya kesempatan untuk memakai situasi apapun yang terjadi untuk keuntungan Anda. 

Prinsip #8--Anda Tidak Bisa Mengatur Perilaku Khalayak Anda 


Ada beberapa hal yang bisa Anda atur, yaitu: pikiran Anda, persiapan Anda, pengaturan alat peraga Anda,  penataan ruang pertemuan--tetapi satu hal yang tidak bisa diatur, yaitu audiens atau khalayak Anda. Mereka akan bertindak sesuai kehendak mereka sendiri.

 Jika mereka terlihat lelah atau gelisah, jangan coba-coba untuk mengaturnya. Jika mereka membaca koran, atau tertidur biarkanlah itu sepanjang tidak mengganggu yang lain. Jika mereka tidak menyimak, jangan menghukum mereka 


Jika Anda menganggap bahwa Anda harus mengatur perilaku orang lain, maka Anda akan stress sendiri.  Anda hanya bisa mengatur diri Anda sendiri dan sarana pendukung. 

Prinsip #9--Hadirin Sesungguhnya Menginginkan Anda Berhasil 

Para hadirin menghendaki Anda sukses menyampaikan materi.  Sesungguhnya, sebagian besar dari mereka sangat takut berbicara di depan orang banyak.  Mereka tahu risiko kegagalan dan dipermalukan yang Anda ambil ketika Anda maju di depan mereka. Mereka mengagumi keberanian Anda mengambil risiko itu. Mereka akan di pihak Anda, apa pun yang terjadi. 

Ini artinya, sebagian besar khalayak itu bisa memahami jika Anda membuat kesalahan. Tingkat toleransi mereka terhadap kesalahan Anda cukup tinggi.  Anda perlu meyakini prinsip ini, terutama ketika merasa bahwa penampinan Anda sangat buruk.

Prinsip #10--Roh Kudus Akan Memampukan Anda 

Prinsip terakhir ini sangat penting.  Siapa pun Anda, ketika Roh Kudus berkarya dalam diri Anda, maka Anda akan menjadi pembicara yang mengubah hidup orang lain. 

Ingatlah peristiwa Pentakosta. Petrus yang dikuasai Roh Kudus bisa menjadi pembicara yang hebat.  Tetapi siapa sebenarnya Petrus?  Dia "hanya" seorang Nelayan! 

Nah, dengan mengingat kesepuluh prinsip ini, percayalah Anda tidak akan merasa cemas lagi ketika harus berbicara di depan umum.  Cara paling mudah untuk mengingatnya, adalah dengan mempraktikannya dengan tekun. Saya sudah mengalami sendiri.  Dulu, setiap kali harus memimpin PA, saya selalu basah keringat dingin. Perut saya juga mulas.  Tetapi setelah beberapa kali melakukannya, perasaan cemas itu mulai sirna.  Jika saya bisa, Anda pun pasti bisa!

__________________

 

Tulisan PurnawanFoto Purnawan  Video karya Purnawan

ebed_adonai's picture

@PK: Sumuk'eeee.....

Nuwun sewu ngasih satu input lagi mas.

Kalau saya pribadi yang jadi masalah terbesar kalau bicara di depan umum cuma satu: "Saya nggak tahan panas..." Tongue out Masa kecilku tinggal di daerah yang cuacanya lumayan panas. Jadi dari kecil saya biasa koloran kalau lagi leyeh-leyeh di kamar.

Entah dari mana bermula (dan bagaimana pula jadi lestari), umumnya di gereja-gereja kalau khotbah, kaum pria mesti pake setelan jas lengkap. Sudah kayak cacing kepanasan saya kalau make jas (fhuhhhh....). Paling biasanya tak siasati dengan sedikit "memberontak"; kancing bawah saya buka, dan dasi sedikit dilonggarkan (ini agak sulit, sering ketemu warga gereja yang justru berbaik hati merapihkan, mungkin dikira tidak sengaja). Namun kalau itu sudah tak mempan, mulailah peluh bercucuran ke kacamata (mungkin ini masuk kategori #7 ya, bisa jadi menguntungkan, kalau dikira saya terharu... Embarassed), lalu jatuh ke Bibel, dst.

Pengalaman paling parah saat KKN di Surabaya dulu, di GPIB Bahtera Hayat. Tahulah Sby, puanase pwolll. Baru duduk di kursi penatua aja udah gerahnya minta ampun. Sempat bener-bener panik saya. Puji Tuhan, ada dua kipas angin besar tepat di belakang mimbar, yang siap menghembuskan udara segar ke punggung kita (serrrrrrr......). Selamatlah.

Waktu ujian skripsi di Jogja juga begitu. Yang kutakutkan bukan karena harus bicara di depan dosen-dosen atau para hadirin, tapi mesti pake jas (!). Ternyata di kampus manapun memang sama saja budayanya. Ya sudah, lagi-lagi saya nekat. Pake kemeja lengan panjang (tapi lengannya digulung dikittt), walaupun sudah ditakut-takuti sama temen-temen (katanya dinilailah, ntar diproteslah, nggak luluslah, dll).

Nice blog mas Wawan. Oldies but goodies.. Public speaking memang masih jadi momok bagi banyak orang.

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)