Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Terbul

victorc's picture
Shalom, selamat pagi saudaraku. Kali ini izinkan saya menulis sedikit tentang terbul (terang bulan). Meski terbul bisa dialihbahasakam menjadi "moonlight", namun artikel ini tidak akan mengulas atau memberikan spoiler tentang film berjudul itu yang baru memenangi Piala Oscar untuk kategori the best Pictures.
Ceritanya, salah seorang saudari di gereja kami baru beberapa bulan ini merintis usaha kuliner dengan menu utama "terbul." Ukurannya mini, sekitar 10 cm, sehingga cukup dengan 2-3 gigitan selesai. Dia membuat terbul dengan berbagai rasa, ada yang coklat, strawberry, keju, kismis dll. Pokoknya mantap dan maknyus...*

Refleksi
Kalau mau dianalogikan dengan Gereja, sebagai tubuh Kristus gereja membentuk satu kesatuan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai denominasi (aliran) gereja yang ada sekarang menampilkan berbagai "rasa" dan "sentuhan" yang berbeda. Rasa dan sentuhan dalam tiap denominasi itu mungkin bisa dihubungkan dengan frekuensi yang ditimbulkan dalam ibadah mereka, sebagai contoh:
- frekuensi rendah (sangat tenang): Gereja Katolik non-karismatik
- frekuensi sedang (tenang): Gereja Protestan/Reformed
- frekuensi tinggi (bersemangat): gereja-gereja yang bernuansa karismatik, baik Pentakostal maupun Katolik
Tentu tidak dimaksudkan di sini, bahwa seseorang atau satu keluarga sebaiknya berkeliling setiap minggu dari satu frekuensi ke frekuensi lainnya, meskipun hal ini agaknya cukup lumrah terjadi pada banyak keluarga masa kini.

Posmodernisme
Memang salah satu akibat derasnya pengaruh posmodernisme adalah jemaat gereja saat ini sulit untuk diajak loyal pada satu gereja.(4) Misalnya: hari minggu beribadah di GKJW, senin persekutuan di GBI, lalu rabu ikut ibadah kaum ibu di Bethany...dst
Sebaiknya, keluarga atau pribadi yang rutin menjalani ibadah keliling kota tersebut segera bertobat, menentukan satu pilihan gereja yang paling cocok dengan karakternya, lalu beribadah secara loyal di sana.
Tentu hal ini lain dengan gerakan Oikumenis, di mana keberagaman (diversity) justru diberikan ruang untuk hadir, namun dengan tetap menghayati keutuhan (unity) sebagai tubuh Kristus yang tunggal.(1) Itulah yang dapat kita pelajari dari Gereja Perdana, lihat misalnya bagaimana mereka menyelesaikan perbedaan yang berpotensi menyebabkan skisma (perpecahan dalam Kisah Para Rasul 15:

    1  Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
      2  Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.  

Lihat misalnya paper saya berjudul: Kesatuan dan Perbedaan dalam Gereja Perdana (5).

Penutup
Sebagai penutup, akan sangat baik jika semua jemaat dalam sebuah gereja menghayati kebersamaan dalam keberagaman. Memang gereja terdiri dari berbagai manusia dengan beragam karakter dan cita rasa, baik selera dalam pujian, selera dalam beribadah, selera dalam pergaulan dll. Yang namanya kumpulan manusia berdosa, ya kadangkala ada gesekan dan ketidakcocokan, namun semuaya kiranya bisa diselesaikan jika masing-masing belajar untuk saling mengampuni dan menerima perbedaan.
Akhirnya, alangkah indahnya jika keberagaman tersebut tidak diseragamkan, melainkan justru dibiarkan tumbuh, bagaikan taman yang indah dengan bunga berwarna-warni, atau bagai terbul dengan aneka rasa... Mungkin itulah yang dimaksud pemazmur dengan syairnya yang terkenal:

    1  Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!  
    2  Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  
    3  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. (Mzm. 133)

Versi 1.0: 6 maret 2017, pk. 11:12
VC

*catatan: tulisan ini didedikasikan untuk Mbokdhe dan grup Arlak ;-)

Referensi:
(1) Gerardo Marti. A mosaic of believers. Bloomington: Indiana University Press, 2005. url: http://iupress.indiana.edu
(2) Philip Jenkins. The new faces of Christianity: believing the Bible in the global south. Oxford: Oxford University Press, 2006.
(3) Donald Miller and Tetsunao Yamamori. Global Pentecostalism. London: The Regents of The University of California, 2007.
(4) Kevin J. Vanhoozer. The Cambridge Companion to Postmodern Theology. Cambridge: Cambridge University Press, 2003.
(5) Victor Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam gereja perdana. IJT vol. 2 no. 2. Url: https://journalteologi.files.wordpress.com/2015/02/05-ijt2-2-kesatuandanperbedaandalamgerejaperdana.pdf
__________________

Publikasi:
a. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
b. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com
c. Http://independent.academia.edu/VChristianto