Namaku Brian Plead.
Dan aku baru saja muntah.
Sudah bertahun-tahun aku mual. Dan sudah berhari-hari aku muntah. Serius. Aku baru saja muntah.
Seminggu lalu ada seseorang mendatangiku. Dan menasihatiku dengan memakai ayat alkitab," semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."
Aku muntah.
Lalu aku berkata kepadanya,"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
Orang tersebut berlari menjauhiku.
Dua hari lalu ada seorang lain memegang bahuku. Dia mengayunkan alkitab yang dipegangnya sambil berkata,"Dan seorang malaikat lain datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya: "Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak."
Aku muntah.
Aku mengusirnya,"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
Orang tersebut berlalu dariku.
Tadi pagi ada seorang lain berteriak di depanku, sampai ludahnya terkena wajahku,"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Dan aku menghardiknya,"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
Orang tersebut terkena muntahku. Tepat di wajahnya.
"Apa kabar, sayang?" Tanya kekasihku.
Aku tersenyum memandangnya.
Itu adalah ungkapanku, tanda sayangku kepadanya. Setelah kami bergandengan tangan untuk pertama kali, dia tidak pernah suka dengan pertanyaan itu. Apa kabar? Dia bilang aku boleh menggunakan pertanyaan itu untuk siapa saja, tapi jangan untuk dia. Seorang kekasih yang baik, tahu kabar orang yang disayanginya. Demikian alasannya.
Tapi aku selalu bertanya apa kabar. Sampai dia menyerah. Dan bertanya kenapa aku selalu bertanya seperti itu kepadanya. Aku menjawab, bahwa aku tidak pernah menggunakan pertanyaan itu untuk siapapun, kecuali untuk dia. Ketika aku bertanya kepadanya bagaimana kabarnya, itu tandanya hanya dia yang aku cinta.
Dan sekarang, dia bertanya apa kabarku. Dia tahu kabarku. Aku ada di sisinya. Dia membersihkan sisa muntah di sekitar mulutku.
Aku tersenyum.
"Ingatkah engkau,"Tanyaku kepadanya,"ketika engkau bertanya kepadaku, kenapa Adam diusir dari Taman Eden?"
Dia mengangguk. Manis sekali.
Manisnya dia seperti gula tebu. Bukan fabrikasi. Bukan karena make-up. Ketika dulu dia pernah berjalan bersamaku, segerombolan remaja SMA bersiul-siul menggodanya. Bahkan ketika si Luna Maya melintasi kami berdua. Mereka tidak menyadari kehadiran si artis tersebut. Membuatnya sedikit merenggut. Membuat kekasihku tertunduk malu. Membuat hatiku terbang bahagia.
"Di situlah aku tahu, bahwa engkau akan menjadi istriku."
Gantian. Dia yang tersenyum.
Manis sekali.
"Aku lelah. Aku muak. Aku mual." Jawabku.
Dia tahu itu. Aku tidak harus mengatakannya.
Aku lelah. Aku muak. Aku mual.
Aku muntah.