Submitted by Purnomo on

Kisah cinta sepasang kekasih yang tinggal dalam sebuah gang mendadak macet karena yang gadis mendapat kekasih baru dari kawasan gedongan. Biar mantannya telah berlapang dada seluas lapangan sepak bola, tidak demikian dengan ibunya. Perempuan setengah baya ini marah. Ia berteriak-teriak di depan rumahnya melancarkan tendangan-tendangan jarak jauh ke arah rumah mantan calon besannya yang berjarak 8 rumah. “Perempuan matrek! Begitu anakku tidak bisa lagi membelikan baju baru, dia cari laki-laki lain untuk dikuras dompetnya. Giwang emasku sampai digadaikan anakku gara-gara setiap 2 hari dia minta diajak jalan-jalan jajan bakso. Selalu setiap makan dia menghabiskan 2 mangkok. Sudah begitu, masih bawa pulang 5 bungkus buat orang rumah!”

 
Sesabar-sabar orang yang diserang, lebih sabar lagi para provokator kelas kampung sehingga serangan itu terus diulang-ulang. Jika peluru senapan mesin tidak mempan, mengapa tidak dicoba peluru mortir? Maka paparan yang dihalo-halokan makin rinci dan confidential. Tentang ciuman pertama yang harus didahului dengan upeti satu set lipstick. Tentang ukuran anggota tubuh gadis itu yang tidak simetris yang dipaparkan dengan body language sehingga membuat anak-anak yang menontonnya terkekeh-kekeh seperti nonton lenong. Bukan, bukan yang itu. Ukuran telapak kakinya itu lho yang tidak sama sehingga dari dulu gadis itu tidak punya sepatu dan anaknya harus keliling kota mencari perajin sepatu agar gadis itu tampil rapi waktu digandeng pergi kondangan.
 
Sekeras-keras batu bila terus ditetesi air akan berlobang juga. Pada suatu sore ibu gadis itu berdiri berkacak pinggang di depan rumahnya dan meneriakkan maksudnya untuk mengembalikan semua pemberian mantan kekasih gadisnya. Setelah yakin seluruh tetangga mendengar maklumatnya, ia memanggul sebuah kotak kardus dan berjalan menuju rumah musuhnya. Anak-anak mengiringinya sambil memukuli kaleng dan bersahutan menyanyikan sebuah lagu dolanan Jawa.
 
E, dayohe teko (e, tamunya datang)
           E, jerengno kloso (e, bentangkan tikar)
E, klosone bedah (e, tikarnya robek)
           E, tembelen jadah (e, tamballah dengan jadah)
E, jadahe mambu (e, jadahnya bau)
           E, pakakno asu (e, makankan kepada anjing)
E, asune mati (e, anjingnya mati)
           E, guwaken kali (e, buanglah ke sungai)
E, . . . . . . .
 
Lagu ini mereka pilih karena kalimat pertamanya berkabar tentang kedatangan seorang tamu. Di peristiwa ini tepatnya seorang lawan. Anak-anak memang berharap bisa menonton pertandingan smack down wanita yang bukan tontonan asing di gang sumpek ini. Mereka tidak menyadari lagu dolanan Jawa itu mengajarkan bahwa ketergesaan menangani masalah akan menimbulkan masalah lain.
– o –
Uncivilized people!” mungkin begitu komentar Anda selesai membaca kisah di atas. Sebagai orang yang berpendidikan dan Kristen, tidak akan terpikir oleh kita untuk melakukan tindakan yang memalukan itu. Paling kita hanya berandai-andai saja. “Seandainya tahu akhir ceritanya seperti ini, tidak akan aku membelikan dia cincin emas artistik. Cincin perak di kaki lima Malioboro sudah cukup. Seandainya tahu cinta pertama ini akan mangkrak, tidak akan aku membawanya makan steak. Makan nasi liwet Keprabon tidak beda kenyangnya.” Tetapi kita tak akan tega untuk meminta dia mengembalikan semua barang yang pernah kita berikan. Kita masih mencintainya walaupun tahu pasti tidak akan memilikinya. Kita tak ingin menyakiti hatinya. Biarlah kita saja yang merasakan pedihnya hati yang tercincang.
 
Tetapi bagaimana bila suatu pagi kita menemukan sebuah kotak bekas mi instan di depan pintu rumah yang berisi semua barang yang pernah kita berikan kepada mantan kita?
 
Dalam “Cinta pertama beralas harta” saya menulis, “Aku mencintainya bukan karena hartanya,” kata Mei esok hari sambil sibuk memasukkan barang-barang pemberian pacarnya ke dalam sebuah kardus besar.” tanpa memberi penjelasan bagaimana kemudian nasib kardus besar itu.
 
Apa yang dilakukan Mei adalah sesuatu yang umum. Dengan menyingkirkan semua barang-barang pemberian mantannya ia ingin otaknya tidak lagi mengingat peristiwa itu. Kita tidak tahu apa yang kemudian dilakukannya dengan kotak itu. Jika Anda ada dalam posisi Mei, apa yang sebaiknya Anda lakukan?
 
Mungkin Anda akan menyimpannya di gudang. Siapa tahu mantan kekasih mendadak memintanya kembali dengan menunjukkan sebundel faktur pembelian. Bila setelah lewat beberapa bulan mungkin Anda akan memberikan kotak itu ke panti asuhan atau membagi-bagikan barang itu kepada sanak-famili atau teman-teman. Semuanya? Pasti! Ah, yang benar saja.
 
Bagaimana bila di antara barang-barang itu ada arloji Dior yang bertabur butiran berlian dan kristal safir? Atau kalung salib emas yang ia berikan ketika menyatakan cintanya? Boleh saja Anda menyimpannya bukan karena harganya yang tinggi, tetapi karena barang itu menyimpan kenangan indah yang sayang untuk dilupakan.
 
Tetapi waspadailah pengaruh barang-barang itu terhadap hidup kita di kemudian hari. Jikalau barang-barang itu membuat kita sulit memulihkan hati yang berantakan, jikalau benda-benda itu membuat kita mati rasa terhadap “para pendatang” baru, jikalau prasasti-prasasti itu membuat kita berharap mantan kita menceraikan pasangan hidupnya atau mau menjadikan diri kita selingkuhannya seumur hidup, buanglah semua! Benda itu telah memancarkan kekuatan magisnya sementara iman kita terlalu lemah untuk menaklukannya.
 
Bukankah hal yang sama juga – dengan tujuan yang sama – kita lihat dalam tradisi Tionghoa yang “mengharuskan” seseorang masuk kedalam peti matinya bersama barang-barang pribadinya? Ketika jenazah ayah saya dimasukkan ke peti mati, semua pakaiannya, kacamatanya bahkan tongkat aluminiumnya yang mahal ikut serta dimasukkan.
 
Seorang teman wanita saya yang yang segereja dengan Ayah nyinyir bertanya, “Mengapa Alkitabnya juga kamu masukkan? ‘Kan lebih baik diberikan kepada orang yang membutuhkannya? Alkitab besar itu mahal harganya.”
“Bapakku sudah membacanya habis 37 kali tetapi belum juga berhasil menghafalkannya,” jawab saya. “Kalau nanti di surga tanpa Alkitabnya ia harus ikut lomba quiz Alkitab, pasti ia frustasi.”
“Aku lihat pakaian yang dimasukkan tidak ada yang bagus. Apa ia tidak bingung kalau diundang pesta oleh Tuhan Yesus?” dia membalas.
“Ia yakin sudah disediakan pakaian baru di surga. Sesuai dengan pesan bapakku, semua pakaiannya yang masih bagus, juga jas-jasnya, sudah dibagikan kepada para pendeta muda dan pembantu pendeta gereja kamu karena ia tidak tega melihat pakaian mereka ketika menungguinya di rumah sakit.”
Mukanya merah dan dia tak lagi bertanya.
 
Tentunya pemusnahan barang-barang pribadinya tidak begitu tujuannya. Kami tidak ingin barang-barang itu membuat Ibu terus bersedih karena selalu terkenang kepadanya. Tidak semua barang kami musnahkan karena ada yang diambil oleh anak-anaknya. Yang penting Ibu tidak lagi melihat barang-barang itu. Saya sendiri memindahkan peralatan pertukangan Ayah ke rumah saya. Sehari-hari ia menyibukkan diri dengan bertukang. Entah menambal retakan tembok, membetulkan kandang anjing, menyambung pipa air, menambal panci bocor atau mencat ulang pagar rumah.
 
Selama sebulan saya tidak mendengar Ibu mengeluh, sampai suatu hari adik saya panik menelepon, “Mama minta pindah rumah baru!” Segera anak-anaknya berkumpul untuk merundingkan permintaannya ini. Kami menggerutu karena kami harus merogoh tabungan kami lagi untuk patungan membeli rumah baru. Tetapi kami tahu urgensinya permintaannya ini. Dia bisa sakit-sakitan bila berada di rumah yang penuh kenangan itu. Kami tahu inilah kesempatan menyenangkan hatinya. Mungkin, ini kesempatan terakhir kami. Kami membeli sebuah rumah bobrok, merobohkannya dan membangun rumah baru sesuai dengan denah yang diingininya. Empat bulan kemudian kami ramai-ramai mengantarnya ke rumah yang baru. Sekarang sudah tidak ada lagi barang yang membuatnya terkenang-kenang.
 
Suatu hari ketika saya mengunjunginya saya mendengar suara radio di dalam kamar tidurnya. Ibu sedang di dapur. Saya membuka kamarnya untuk mematikannya. Di atas tempat tidurnya saya melihat radio transistor kecil 7 bands. Itu radio kesayangan Ayah!
 
Jadi, tak perlu malu bila terpaksa menyingkirkan semua barang-barang pemberian mantan kekasih. Jika kita yakin barang-barang itu tidak akan memberi pengaruh negatip, juga tidak ada salahnya menyimpan satu-dua di antaranya. Misalnya CD yang berisi sederet lagu cinta dan rohani yang huruf pertama judul-judulnya membentuk nama kita dan namanya.
 
Yang kemudian perlu ditelisik adalah apakah kita berani menceritakan kisah yang tersimpan dalam benda itu kepada kekasih kita yang baru? Jika tidak, berarti kita telah melakukan apa yang tersirat dalam lagu dolanan Jawa “E, dayohe teko” – solusi masalah lama menerbitkan masalah baru.
 
Seperti juga yang digambarkan dalam lagu jaman dulu di bawah ini,
 
Selendang warna merah,
kau berikan dulu padaku,
kini akan kupakai
pada hari pertunanganmu.
 
Ingat disaat itu
selendang merah pengikat hati,
sebagai tanda mata
sebelum kita berpisah,
kini kita bertemu
kau bukan milikku lagi.
 
Waktu aku melihat
engkau tersenyum bahagia,
ingin ‘ku menggantikan
gadis yang duduk disampingmu,
 
Aku pulang dahulu,
sebelum selesai pestamu itu,
selendang merah itu
pengusap air mataku,
akan kusimpan selalu
sebagai kenangan hidupku.
 
(Selendang Merah – Titiek Sandhora)
 
(selesai bagian ke-8)
 
Serial Cinta Pertama,
bagian ke-8: Cinta pertama dalam sebuah kotak

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}

bagian ke-9: Cinta pertama terkubur tapi tak lebur.