Submitted by Vantillian on

Apakah perempuan diperbolehkan mengajar dan berkhotbah di depan jemaat? Atau diperbolehkan berdiri di mimbar menjelaskan Firman Tuhan? Beberapa ahli Alkitab dan penafsir Alkitab menyatakan bahwa ada larangan bagi wanita menjadi gembala sidang, hamba Tuhan, pengkhotbah dan pengajar di hadapan jemaat ( ibadah umum ). Tulisan dua blogger di SS juga menyatakan hal yang sama. Anda bisa membaca tulisan mereka disini dan disini. Alasan ajaran ini didasarkan atas Firman Tuhan berikut ini :

I Korintus 14:34 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.
 
I Korintus 14:35 Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.
 
I Timotius 2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
 
I Timotius 2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
 
Dalam surat Korintus dan Timotius Paulus JELAS menuliskan bahwa perempuan HARUS berdiam diri dan tidak boleh mengajar dan memerintah atas laki-laki. Perempuan tidak boleh berbicara dalam pertemuan jemaat. Atau diterjemahkan dalam bahasa sekarang, perempuan tidak diperbolehkan berkhotbah di hadapan jemaat. Apakah memang demikian? Apakah Paulus memang melarang wanita menjadi Gembala Sidang, pendeta/pastor?
 
PANDANGAN SEORANG VANTILLIAN
 
PRINSIP PENCIPTAAN---Lelaki dan Perempuan
 
Laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang "sama" sekaligus "berbeda". Mereka dicipta sesuai dengan GAMBAR RUPA Allah. 
 
Kejadian 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kejadian 5:1 Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah;
Kejadian 5:2 laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama "Manusia" kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan.
 
Laki-laki dan perempuan mempunyai derajat kesamaan dalam gambar rupa Allah. Meskipun Hawa diciptakan belakangan, tetapi Hawa diciptakan melalui bahan tubuh Adam. Dengan ini, menunjukkan adanya kesetaraan antara Adam dan Hawa. Kesetaraan ini juga ditunjukkan melalui BERSATUNYA mereka sehingga menjadi satu daging melalui pernikahan. 
Kejadian 2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
Kejadian 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
 
Hawa diciptakan untuk menjadi penolong yang sepadan bagi Adam. Hawa tidak diciptakan menjadi objek bagi laki-laki. Apa itu penolong yang sepadan? Itu menunjukkan adanya kederajatan ( kesepadanan/nehghed) yang saling melengkapi (komplementer ). Nehghed dapat diartikan sebagai mate ( one of a pair, companion, match ). Dalam arti Hawa adalah ciptaan yang cocok bagi Adam karena sama-sama memiliki esensi kemanusiaan. ( Bnd dengan hewan pada Kej 2:20 )
 
Kejadian  2
2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
 
Kita telah melihat bahwa dari awal penciptaan, Allah TIDAK membedakan pria dan wanita dalam status dan mandat. Pria dan wanita sama-sama diberikan amanat untuk memenuhi dan menaklukkan bumi. 
 
Kejadian 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
 
Disamping kesetaraan, Hawa juga mempunyai perbedaan dengan Adam. Selain berbeda dalam aspek biologis ( Wanita mengandung dan melahirkan anak ), juga berbeda dalam PERAN mereka dalam melaksanakan tugas mereka. Laki-lakilah yang meninggalkan ayah ibunya, untuk bersatu dengan isterinya, bukan wanita. Setelah jatuh dalam dosa, Laki-lakilah yang bersusah payah mengusahakan tanah supaya bisa mendapatkan rezeki bagi kehidupan keluarganya. Sedangkan perempuan akan melahirkan anak, berahi kepada suami dan suaminya akan berkuasa atas dia. 
 
PENTINGNYA PEMAHAMAN PRINSIP PENCIPTAAN INI
Apa pentingnya kita membahas secara panjang lebar mengenai penciptaan manusia dan hubungannya dengan topik yang kita bahas? Melalui prinsip penciptaan dan kondisi setelah jatuh dalam dosa, Allah telah menetapkan suatu ordonansi antara laki-laki dan perempuan. Allah berkuasa atas manusia. Manusia berkuasa atas alam. Laki-laki berkuasa atas perempuan. Tetapi keduanya tunduk kepada FirmanNya. Meskipun sama-sama mengemban amanat dalam mengelola bumi, tetapi laki-laki dan perempuan melakukannya dengan DASAR  dan CARA yang berbeda. Prinsip “headship” sebenarnya secara tersirat sudah terdapat pada Kitab Kejadian. Dasar dari ordonansi laki-laki adalah Allah. Dasar ordonansi wanita adalah laki-laki. Setelah kita memahami hal ini, maka kita akan memahami mengapa Rasul Paulus menuliskan tentang prinsip kepala (kephale) antara hubungan laki-laki dan wanita. Laki-laki mempunyai kuasa atas wanita di dalam konteks penyatuan keduanya ( menjadi satu daging ). Dan itu terjadi  di dalam hubungan suami istri. 
 
KONTEKS DAN PRINSIP NATS TERKAIT
 
Ketika kita menyelidiki sebuah teks Alkitab, haruslah kita perhatikan apa konteks dan apa prinsip yang hendak diungkapkan oleh teks tersebut. Konteks harus dilihat dari tujuan penulisan , latar belakang kejadian(historis) dan pandangan umum yang berlaku saat itu. Hal ini juga termasuk dalam pemahaman ayat I Korintus 14 dan I Timotius 2 di atas. Pertama-tama, marilah kita melihat kesejajaran antara ayat-ayat I Korintus 14 dan I Timotius 2 tersebut. Menafsirkan gegabah secara literal, tanpa memperhatikan konteks, lalu menarik prinsip penerapan, berarti tidak memperlajari Firman dengan baik. 
 
I Timotius 2
 
2:9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
2:10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.
2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
2:13 Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
2:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
2:15 Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.
 
I Korintus 14
 
14:34 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbole