Submitted by Purnawan Kristanto on

Photobucket Komentar Kirana (3 th, 1 bulan) mengagetkan kami hari ini, sekaligus membuat kami bangga.

Ceritanya begini: Malam ini tante Ninuk  akan datang dari Purwakarta. Mereka akan naik kereta Turangga dari Bandung. Kereta ini berhenti di stasiun Yogyakarta dan Solo, Balapan.

Masalahnya, jam kedatangan mereka terlalu pagi, yaitu sekitar pukul 3 pagi. Padahal mereka harus meneruskan perjalanan ke Klaten (sekitar 30 km).

Ada dua pilihan untuk meneruskan perjalanan, yaitu naik kereta Prameks atau naik bis umum. Yang paling mudah adalah berganti naik kereta prameks, yaitu kereta komuter yang wara-wiri dari Kutoarjo-Yohya-Solo.

Sayangnya kereta pertama baru beroperasi sekitar pukul setengah enam pagi. Persoalan akan teratasi jika kereta Turangga itu berhenti di Klaten. Kami tidak tahu apakah kereta ini berhenti di stasiun Klaten atau tidak.

"Coba telepon stasiun Klaten dan tanya apakah kereta itu berhenti di stasiun Klaten," kataku kepada isteri. Dia langsung mengangkat telepon.

Kirana rupanya dari tadi mengamati kami berdiskusi.

"Lho, stasiun kan nggak bisa ngomong? Mengapa telepon?" tanya Kirana heran.

Kontan, tawa kami meledak dan Kirana semakin terheran-heran. Bukankah stasiun itu benda mati? Masa' ditelepon sih? Mungkin itu jalan pikiran Kirana.

"Maksud papa itu, papa menyuruh mama supaya menelepon orang yang ada di stasiun?" kataku menjelaskan. "Oooo begitu," tukas Kirana singkat. Entah dia paham atau tidak.

***

 

Sekali lagi celetukan Kirana mengagetkan kami. Senin pagi (22 Juni), kami menghantarkan tante Ninuk dan Citra ke stasiun Klaten. Mereka akan pulang ke Purwakarta, melalui Bandung.Photobucket
Kirana selalu antusias jika pergi ke stasiun. Dia menyukai kereta api. Jika ada kereta yang lewat, maka dia akan melambaikan kereta sambil berkata, "Da. . .da . . . kereta."
Kereta Lodaya datang tepat waktu. Tante Ninuk dan Citra bergegas naik, karena kereta hanya berhenti 5 menit. Pelan-pelan, kereta mulai bergerak dan para pengantar melambaikan kereta. Tidak seperti biasa, Kirana tidak melambaikan tangan kepada kereta.
"Kirana, ayo da..da.. kepada kereta," ajakku kepada Kirana sambil mencontohkan melambaikan tangan ke kereta.
"Lho kereta 'kan nggak punya tangan?' sergah Kirana, "masa da. . . da… sama kereta sih."
Ah, benar juga kamu Nak.

 

***

Kejadian lucu ini memberi pelajaran kepada kami. Sebagai orangtua, kami perlu bijak dalam bertutur kata. Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kebanggaan. Anak kami sudah mulai berpikir kritis.