Komentar Kirana (3 th, 1 bulan) mengagetkan kami hari ini, sekaligus membuat kami bangga.
Ceritanya begini: Malam ini tante Ninuk akan datang dari Purwakarta. Mereka akan naik kereta Turangga dari Bandung. Kereta ini berhenti di stasiun Yogyakarta dan Solo, Balapan.
Masalahnya, jam kedatangan mereka terlalu pagi, yaitu sekitar pukul 3 pagi. Padahal mereka harus meneruskan perjalanan ke Klaten (sekitar 30 km).
Ada dua pilihan untuk meneruskan perjalanan, yaitu naik kereta Prameks atau naik bis umum. Yang paling mudah adalah berganti naik kereta prameks, yaitu kereta komuter yang wara-wiri dari Kutoarjo-Yohya-Solo.
Sayangnya kereta pertama baru beroperasi sekitar pukul setengah enam pagi. Persoalan akan teratasi jika kereta Turangga itu berhenti di Klaten. Kami tidak tahu apakah kereta ini berhenti di stasiun Klaten atau tidak.
"Coba telepon stasiun Klaten dan tanya apakah kereta itu berhenti di stasiun Klaten," kataku kepada isteri. Dia langsung mengangkat telepon.
Kirana rupanya dari tadi mengamati kami berdiskusi.
"Lho, stasiun kan nggak bisa ngomong? Mengapa telepon?" tanya Kirana heran.
Kontan, tawa kami meledak dan Kirana semakin terheran-heran. Bukankah stasiun itu benda mati? Masa' ditelepon sih? Mungkin itu jalan pikiran Kirana.
"Maksud papa itu, papa menyuruh mama supaya menelepon orang yang ada di stasiun?" kataku menjelaskan. "Oooo begitu," tukas Kirana singkat. Entah dia paham atau tidak.
***

***
Kejadian lucu ini memberi pelajaran kepada kami. Sebagai orangtua, kami perlu bijak dalam bertutur kata. Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kebanggaan. Anak kami sudah mulai berpikir kritis.