Submitted by rahseto on

Sudah beberapa tahun ini saya sangat malas untuk pergi ke Gereja. Pasalnya hati ini terasa tidak “sreg” untuk beribadah.

 Gereja sebagai institusi buatan manusia sebagai tanggapannya terhadap ke Esaan Tuhan Yesus telah menjadi sebuah institusi yang menghakimi seseorang dengan dalih firman Tuhan.

 Tatanan Gereja yang sarat dengan intrik pribadi membuat suasana gereja menjadi hanya sebuah institusi tanpa kasih.

 Gereja hanya berkutat pada tata ibadah dan doktrin-diktrin yang menurut saya tidak lagi perlu diperdebatkan.

Sebagai institusi yang perpusat pada penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan bersifat manusiawi, kehidupan bersama bergereja hendaknya juga didasari pada pelayanan holistic bukan hanya pelayanan yang bersifat tata ibadah dan konseling saja.

 Tulisan ini tidak mengeneralisasi sebuah semua gereja, hanya (mungkin) pada gererja-gereja tertentu yang karena tirani kepemimpinannya hanya menguntungkan suatu pihak saja.

 Dalih bahwa gereja dikelola oleh manusia yang juga harus memahami kelemahan dan dosa manusia tidak boleh dibenarkan begitu saja. Sebagai “perwakilan” Tuhan gereja wajib menjaga kepercayaan yang diberikanNya dengan baik dan hati hati.

 Gereja harus kembali ke dalam garis panggilan Allah untuk melayani (secara holistic) kepada semua manusia tanpa memandang umur, agama, ras, golongan dan suku. Apapun perbedaan manusia, gereja harus siap untuk melayani.

GBU