Seorang teman bercerita tentang aktivis gereja yang hampir setiap hari main ke gereja. Pendeta yang menjadi gembala sidang memberi teguran, meminta jemaatnya ini jangan juga terlalu sering datang. Banyak hal lain yang bisa dilakukan selain mendatangi gereja setiap hari.
Kalau boleh jujur, aku pernah mengalaminya juga, tetapi pendetaku tidak menegur. Aku pernah merasakan keinginan untuk selalu datang ke gereja. Sampai sekarang aku tetap ingat suasana ketika berkumpul dengan teman-teman di sana. Aku juga cukup beruntung berkenalan dengan para aktivis gereja, orang-orang yang menganggap kuliah dan lain-lain nomor dua, karena Yesus-lah yang utama.
Lalu ada yang berkata banyak bentuk kecanduan, bahkan kegiatan gereja bisa menjadi sebuah kecanduan. Dulu aku akan menertawainya, tetapi sekarang, aku sadar apa yang kulakukan dulu hanyalah sebuah pelarian. Aku membutuhkan sesuatu dan menemukan kegiatan gereja merupakan pelarian yang lebih baik daripada MAPALA. Walaupun keduanya sama-sama memiliki anggota yang menyelesaikan kuliah di atas 5 tahun, tetapi aku tahu kegiatan gereja lebih baik.
Apakah apa yang kulakukan dulu salah? Aku yakin tidak, apalagi ada yang mengingatkan bahwa aku boleh mengikuti semua kegiatan gereja, selama tujuan utamaku sebelumnya tetap aku ingat. Lalu seseorang berkata, 'Tuhan adalah segalanya' tidak berarti membolos kuliah karena ada acara menggalang dana.
Aku ingat seorang dosen agama berkata keras kepada temanku, ketika ia meminta ijin tidak masuk kuliah karena jam sepuluh nanti akan memimpin pujian di kapel. Si Dosen hanya berkata, "Silahkan saja, tetapi kamu tetap saya anggap membolos, karena kamu memakai alasan pelayanan!"
Dulu aku tidak mengerti hal ini, tetapi sekarang aku paham setelah melihat begitu banyak orang yang akhirnya bersemangat dulu tidak mau menginjak gereja. Orang-orang yang melihat ternyata gereja tidak memberikan hiburan yang memuaskan, atau gereja ternyata bukan tempat kumpul-kumpul yang menyenangkan.
Aku bersyukur ada yang mengingatkan aku, orang yang berkata, "Jadilah anak Tuhan yang bukan hanya tahu berapa jumlah istri Salomo, tetapi juga tahu bagaimana menghitung tinggi salib di atas gereja tanpa harus naik ke atas atap."
Tiba-tiba aku ingat sebuah puisi dalam buku pelajaran bahasa Indonesia waktu kelas kelas 6 SD. Aku selalu ingat puisi ini, bahkan ingat ilustrasinya, gambar seorang yang sudah tua, duduk menopang dagu. Pose yang sampai sekarang sering aku tiru kalau melamun.
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang.
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke atas padang bakti!
A. Hasjmi