Submitted by
ebed_adonai
on
Kekasih-kekasih yang budiman…
Bagi anda yang menyenangi musik heavy metal, mungkin anda belum tepat dikatakan sebagai seorang penggemar musik hingar-bingar sejati, bila belum “mencicipi” supergrup yang bernama Metallica ini (isu-isunya dulu berasal dari paduan kata “metal” dan “vodka”). Apalagi pada tahun 1993 silam, mereka juga pernah tampil di stadion Lebak Bulus Jakarta.
Perkenalan saya dengan grup heavy metal ini bermula saat saya masih di bangku SMA, tidak lama setelah mereka menelurkan album Metallica (1991), yang biasanya juga dikenal dengan nama Black Album. Sebutan ini muncul karena pada kover albumnya (waktu itu masih berupa kaset) tidak ada judul khusus, dan berwarna hitam thok, dengan bayangan seekor ular yang tidak begitu kentara. Jadi memang mirip dengan kasus White Albumnya The Beatles dulu, yang disebut demikian karena kover albumnya yang berwarna putih itu. Apapun itu, saat itu di sekolah saya Metallica sangatlah populer, dan mungkin hanya bisa ditandingi kepopulerannya oleh grup DEWA19, yang juga sedang naik daun. Saking populernya, grup band yang kami yang terdiri dari lima teman sekelas waktu itu senangnya juga membawakan lagu-lagu Metallica ini. Saya masih ingat, saking kepinginnya tampil seperti mereka, kami sampai bela-belain memanjangkan tali bahu gitar supaya gitarnya melorot ke bawah (meniru gaya James Hetfield yang jangkung itu), walau tangan kita jadi susah untuk memetik gitarnya, karena kurang panjang, he..he..he.. Sebetulnya saya ingin juga memainkan lagu-lagu grup-grup musik lainnya (jujur, sejatinya saya adalah penggemar berat The Beatles). Namun, karena berada di tengah-tengah para fans Metallica sejati, ya sudah, saya nikmati saja bermusiknya.
Saat saya pertama mengenal mereka, Metallica masih beranggotakan James Hetfield (vokal; gitar), Kirk Hammett (gitar), Jason Newsted (bass, menggantikan Cliff Burton, yang tewas dalam sebuah kecelakaan mobil saat mereka sedang tur), dan sang penggagas grup ini, Lars Ulrich (drum). Setelah “menangkap” nikmatnya musik mereka, akhirnya saya pun membeli album-album lama mereka. Dari situlah saya jadi mengerti, kalau musik Metallica itu dulunya (sebelum album And Justice for All tepatnya) ternyata berbeda, dan lebih mirip musik trashnya Sepultura, dengan tempo yang sangat sangat cepat, dan bikin kepala seperti mau pecah mendengarnya, bagi anda yang tidak terbiasa. Namun banyak orang bilang, justru perubahan mereka itulah, yang membuat mereka semakin melambung dalam kancah musik heavy metal.
(Metallica dulu, dari kiri ke kanan: Lars Ulrich, Kirk Hammet, James Hetfield, dan Jason Newsted)
Sulit untuk menjelaskan penyebab ketertarikan saya dengan grup pengusung musik cadas ini, karena hal-hal yang menyangkut selera seringkali sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun paling tidak petikan gitar ritem mereka, yang khas, unik, itulah yang saya ingat pertama kali mengusik rasa ingin tahu saya. Ya, suara distorsi yang berat, full bass, tidak cempreng, yang bisa anda tirukan dengan (saya mengetahuinya dari rekan satu band yang memang lebih lihai daripada saya dalam bermain gitar) menaruh sisi kanan telapak tangan anda (kalau anda seorang gitaris normal, artinya tangan kanan) di pangkal senar gitar, dengan tidak terlalu menekan. Setelah itu, atur distorsi sound effect anda pada posisi maksimal, setel ekualisernya hingga berbentuk huruf V, lalu mulailah dengan membawakan riff-riff pembuka lagu “Sad But True”, maka anda akan tahu apa yang saya maksudkan. Dan setelah lebih lama lagi mengenal musiknya Metallica, saya jadi lebih memahami dan menikmati kekhasan Metallica dalam bermusik. Lagu-lagu yang durasinya panjang-panjang, transisi dari lembut ke keras, lambat ke cepat, dan begitu juga sebaliknya, penyisipan permainan gitar klasik, entah di tengah-tengah lagu (“Master of Puppets”), atau di awal (“Battery”), wuiiihhhh, edan tenan…. Bahkan permainan gitar klasik inilah, yang tidak banyak dieksplorasi grup-grup musik rock lainnya, yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan Metallica. Anda pernah mendengar lagu “Nothing Else Matters” , atau “The Unforgiven”? Kalau “Nothing Else Matters”, saya tidak pernah lupa dengan lagu slow rock yang satu ini (kami pernah membawakannya dalam salah satu lomba musik di kota kami dulu). Bahkan bertahun-tahun setelah itu, saya masih bisa membawakannya dengan baik dari awal hingga akhir lagu (bukan mau nyombong nih, he..he..).
Lima tahun berlalu sejak Black Album, hingga akhirnya mereka mengeluarkan album terbaru mereka, Load (1996). Banyak ekspektasi terhadap album ini, mengingat jeda waktu yang cukup lama dengan album sebelumnya yang sangat sukses itu. Lagi-lagi, ada perubahan dalam musik Metallica yang saya rasakan. Namun kali ini perubahan itu bukanlah perubahan yang mengasyikkan. Musik Metallica dalam album tersebut seperti menggantung, dan tidak ada gregetnya. Dibilang seperti era Kill’Em All tidak, seperti era Metallica pun tidak juga. Begitu juga dengan album ReLoad (1997), yang sebenarnya merupakan dobel album dengan Load, hanya dilepas secara terpisah. Apakah mereka sudah mulai dilanda kejenuhan, atau sudah mulai dimakan usia, sangat boleh jadi. Namun puncak “kejatuhan” mereka adalah album St. Anger (2003), dimana Kirk Hammet benar-benar ”tidak bermain apa-apa”. Petikan solo gitarnya yang mendadak dan cepat bagaikan anak panah itu, yang perlahan mulai memudar dalam dua album sebelumnya, sekarang benar-benar sudah hilang. Lupakanlah sayatan-sayatan khasnya seperti pada lagu “Seek’N Destroy”, “Master of Puppets”, atau “Blackened”.
Tidak banyak lagu-lagu Metallica yang saya sukai dari era baru mereka ini. Beberapa lagu yang menarik bagi saya hanyalah “I Disappear” (1996, Soundtrack MI II), “Until It Sleeps” (Load, 1996), dan “St. Anger” (St. Anger, 2003). Usai rekaman album St. Anger, Robert Trujillo masuk di tahun 2003 menggantikan Jason Newsted (saya tidak akan pernah lupa gaya do’i yang sangat atraktif di atas panggung, paling atraktif malah, menurut pandangan saya, dibanding personil-personil Metallica lainnya) sebagai basis Metallica. Namun hal itu tidak banyak mengubah apresiasi saya terhadap mereka saat itu. Apalagi penampilan Trujillo yang seperti rocker punk itu tampak sangat tidak serasi dengan personil Metallica lainnya yang berbusana setelan panjang hitam-hitam khas mereka. Lambat-laun, tanpa melupakan rasa hormat saya terhadap supergrup yang satu ini, saya pun menjadi bosan dengan musik mereka, dan lebih memilih untuk memutar lagu-lagu lamanya saja. Saya tidak tahu bagaimana kabarnya dengan album terakhir mereka, Death Magnetic (2008), apakah mereka berubah lagi, atau tetap begitu-begitu saja, seperti album-album sebelumnya (ada yang sudah pernah mendengarnya?).
(Metallica sekarang, dari kiri ke kanan: Robert Trujillo, James Hetfield, Lars Ulrich, dan Kirk Hammett)
Namun apapun yang terjadi, Metallica adalah salah satu supergrup heavy metal terbesar sepanjang masa, yang susah untuk dicari tandingannya sampai sekarang. Di tengah-tengah hingar bingar grup-grup musik cadas saat ini (seperti Korn, Linkin’ Park, POD, Muse, dan lain-lain), kalau saya mengingat masa-masa ngeband saat SMA dulu, maka dengan bangga saya akan menoleh kepada sang maestro heavy metal ini.
Satu hal, yang masih mengusik saya sampai hari ini adalah klaim bahwa Metallica itu grup sesat, grup pemuja setan. Baiklah. Hal ini memang termasuk masalah klasik dalam dunia kekristenan, dimana musik rock sering dianggap sebagai sesuatu yang menyesatkan. Entah sudah berapa banyak grup-grup rock yang mendapat tuduhan sesat. Jadi teringat masa kecil saya dulu, ketika grup rock KISS (yang terkenal dengan cat mukanya yang unik itu) juga disebut-sebut sebagai pemuja setan, hanya karena plesetan akronim nama grup mereka (KISS=Kids In Satan’s Service). Saya tidak memungkiri, kalau musik rock memang bisa meningkatkan agresifitas seseorang. Namun yang penting dalam hal ini, menurut hemat saya, adalah pengendalian diri. Itu saja. Karena hal apa pun kalau berlebihan bisa berabe, bukan? Ingat saja tahun 80’-an dulu, dimana lagu-lagu “cengeng” sempat dilarang pemerintah, karena dianggap tidak membangkitkan semangat seseorang dalam berkarya. Lha, kalau kita sekedar mendengarkan satu dua lagu-lagunya Betharia Sonata yang mendayu-dayu itu, apa lantas kita berubah menjadi manusia cengeng, tidak bukan?
Jadi apa sebenarnya yang menyebabkan pandangan yang agak berat sebelah ini? Apa karena iramanya yang menghentak-hentak itu? Nah, lagu-lagu rohani juga banyak yang seperti itu. Atau karena lirik-liriknya yang memang seram-seram (seperti lirik lagu “Leper Messiah” misalnya)? Namun kalau memang hal itu yang dipermasalahkan, penting untuk kita cermati apakah mereka benar-benar serius mengatakannya, atau hanya sekedar gaya-gayaan metal saja. Yang jelas, sulit untuk mengonfirmasi kebenaran di balik isu ini kalau hanya berdasarkan klaim sepihak, yang seringkali tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Hal ini juga bergantung dari pengakuan grup musik itu sendiri, apakah mereka memang berniat untuk menghujat Tuhan dalam lagu-lagu mereka itu. Jadi jawabannya bisa ya, bisa pula tidak. Saya sendiri, selama ini belum pernah mendengar berita kesaksian para personil Metallica bahwa mereka adalah pemuja setan, atau suka melakukan ritual aneh-aneh yang biasanya sering dilakukan oleh grup-grup musik pemuja setan.
Terakhir, ada satu penjelasan teman kuliah saya dulu, kalau suara James Hetfield itu katanya mirip suaranya lucifer (contohnya ada di bagian akhir lagu “Enter Sandman”, dimana James Hetfield tertawa terkekeh-kekeh). Hmmm. Saya tidak tahu harus berkomentar apa. Saya biasanya selalu terbuka untuk hal-hal baru, seberapa anehnya pun itu, selama tidak bertentangan dengan iman saya. Sungguh. Namun untuk satu hal ini, sementara waktu saya hanya bisa berkomentar: “Hanya Tuhan yang tahu……”
“Exit light,…enter night,…take my hand,…we’re off to never never land…”,
Salam Metalll…!!!!
Album-album Metallica:
Kill’Em All (1983)
Ride The Lightning (1984)
Master of Puppets (1986)
And Justice For All (1988)
Metallica (1991)
Load (1996)
ReLoad (1997)
St. Anger (2003)
Death Magnetic (2008)
Shalom!
(…shema‘an qoli, adonai…)