Aku mau mengirimkan sesuatu, daripada menyalin, ini berdasarkan pikiranku ditengah ke-erroran sabdaspace
Aku mau bahas tentang orang tua yang broken home. Salah satu penyebab kebrutalan anak-anak adalah melihat orang tuanya bertengkar. Dan hal tersebut memiliki banyak pengaruh.
Sepupu saya, sebutlah ia Mose, dan adiknya, sebut saja annie, adalah korban perceraian orang tuanya. Banyak hal yang diusahakan seorang ibu (single parent) lewat materi untuk menyenangkan hati kedua anaknya, didukung mereka adalah keluarga yang lumayan mampu untuk membeli barang mahal.
Sejak papanya tiada, saya sempat menginap selama rumah saya direnovasi. Setiap berdoa, mereka selalu meminta Tuhan mengembalikan papanya ke pelukan mereka.
Selalu, saya hampir menangis mendengarnya, untunglah saya bisa menahan sebelum saya ditonton kedua adik sepupu saya.
Saya bukan tipikal orang cengeng, sebenarnya. Tapi beberapa hal yang episod lalu saya bahas ini membuat perasaan dan penampilan saya jauh berbeda, dimana saya adalah orang yang pemarah, tapi saya malah menangis, tanpa dikehendaki.
cukup banyak yang bisa diberikan mamanya kepada mose dan Annie, dalam hal materi. Tetapi waktu saya berada di lingkungan keluarga mereka, sebelum bercerai, saya merasakan kelainan. Saya tidak merasakan kehangatan keluarga yang bisa saya rasakan dirumah, setidaknya ketika orang tua saya tidak marah-marah.
Saya merasakan kecukupan materi, bahkan lebih, di dalam keluarga ini. Tapi saya tidak merasakan sama sekali kebahagiaan keluarga.
Kembali.
Apa sih dampaknya terhadap anak??
Anak akan menjadi nakal, suka perkelahian. Anak akan merasa tidak nyaman dan menanti kebahagiaan dari seorang ayah-ibu yang utuh.
Setiap anak memiliki kebenaran yang tidak bisa diubah : Ketika mereka melihat orang pertama yang dekat dengan mereka, mereka akan menjadikan orang tersebut miliknya dan ia tidak mau berpisah - itu tetap saya pegang sampai saat ini.
Lambat-laun memang akan menghilang, tapi dalam lingkup luasnya, mereka menganggap bahwa orang tua itu adalah satu paket Tuhan yang diberikan dan mereka bergantung penuh mengenai keselamatan hidupnya. Ketika mereka merasa takut, pasti tidak seperti yang kita ucapkan: "Tuhan tolong!", tetapi, "Mama! Tolong aku! Aku takut!!" Dan bila ada kekacauan di antara orang yang melindungi mereka, mereka merasa bahwa keselamatannya terancam bila tidak ada orang tua, dan mereka akan berusaha untuk menyatukannya. Pasti, tidak ada anak yang bisa memilih mengikuti siapa di antara kedua orang tuanya, kecuali seorang bayi yang tidak bisa mengingat apapun nantinya.
Orang tua dipercayai Tuhan melindungi seorang anak kesayangan-Nya, dan bila lalai dan bercerai, entah kemarahan apa yang Tuhan rasakan, dan kesedihan apa yang Tuhan pancarkan dimata-Nya.