Submitted by Andre Jonathan on

Saya cuma ingin berbagi pengalaman saya ini. Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga katolik yang taat. Saya merupakan anak laki-laki tertua dalam keluarga saya. Saya punya seorang kakak perempuan dan 2 orang adik laki-laki. Kedua orang tua saya saat ini sudah berkepala lima. Saya bersyukur karena saya dilahirkan dalam keluarga yang baik dan mendapat perhatian dan kasih sayang yang lebih dari cukup. Saya juga bersyukur karena kedua orang tua saya sejak kecil telah menanamkan nilai-nilai agama dan moral yang cukup banyak kepada saya meskipun terkadang harus dengan sikap yang sedikit keras dan otoriter. Dari kecil saya sering diajak gereja, doa sekeluarga, ikut persekutuan doa, bahkan setiap doa pagi dan malam kami sekeluarga juga bersama-sama membaca Alkitab. Saya akui terkadang saya merasa ada unsur terpaksa dalam diri saya ketika harus berdoa, pergi gereja ataupun membaca alkitab, apalagi ketika mata sudah mengantuk atau masih asik dengan kegiatan sendiri. Namun terkadang saya juga tulus ingin berdoa dan memuji Tuhan karena saya merasa Tuhan telah begitu baik kepada saya.
 

Study saya berjalan dengan lancar, sampai saat dimana saya harus pisah dari keluarga untuk meneruskan kuliah di kota lain yang jauh dari asal saya. Semasa kuliah saya mulai harus membuat keputusan sendiri, saya mulai menjalani kehidupan saya sendiri, saya mulai larut dalam hidup saya sendiri dan mulai menjauh dari Tuhan. Kedua orang tua saya sering menelpon dan mengingatkan saya untuk selalu dekat dengan Tuhan karena ketika kita sendiri hanya Tuhaan yang bisa menolong kita. Saya sendiri menyadari hal tersebut terutama ketika saya mulai mengalami banyak persoalan dalam kuliah dan hidup saya. Saya mencoba untuk mulai mendekati diri lagi kepada Tuhan, satu dua hari itu bisa berhasil, namun kemudian saya mulai malas dan menjauh lagi dari Tuhan. Begitu terus berulang-ulang dan tetap saya kembali jauh dari Tuhan. Terkadang saya berpikir, ketika saya sudah punya niat mendekati diri saya kepada Tuhan dan coba melakukannya kenapa hal tersebut tidak bisa bertahan lama dan selalu gagal. Saya merasa ada penghalang antara saya dengan Tuhan. Saya tidak tahu apa itu.
 
"Roh memang penurut tetapi daging lemah"
 
Setelah 6 tahun lebih bergelut dengan kuliah saya, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan kuliah saya. Saya lulus dan mulai mencari pekerjaan di saat Amerika sedang mengalami krisis dan hal itu berdampak kepada perekonomian semua negara termasuk Indonesia yang baru mulai membangun kembali setelah krisis moneter 1998. Waktu terus berjalan dan hampir 2 bulan sejak kelulusan saya, saya belum mendapat pekerjaan.
Suatu malam dalam masa pencarian kerja, Ayah saya menelpon saya dan seperti biasa Ayah menanyakan kabar saya dan keadaan saat ini. Saya menjawab saya baik-baik saja dan keadaan saya yang masih menganggur belum punya pekerjaan dan penghasilan. Kemudian Ayah menasehati saya supaya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara rajin berdoa dan baca Alkitab. Ayah juga mengingatkan saya supaya mencari kebenaran dan kerajaan Tuhan terlebih dahulu maka nanti semua kebutuhanmu akan di penuhi.
 
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat.6:33)
 
Kemudian Ayah menyuruh saya untuk mengikuti persekutuan doa yang diadakan di gereja disana di dekat tempat saya tinggal.
Saya mendengarkan semua nasehat tersebut dan saya mengiyakan semuanya karena saya memang sadar bahwa saya perlu kembali mendekati diri lagi kepada Tuhan.
 
Kemudian Ayah mengakhiri teleponnya dengan menceritaka suatu cerita tentang seorang ayah yang punya dua orang anak. Ayah tersebut datang kepada anaknya yang sulung dan menyuruh si sulung untuk pergi dan melakukan sesuatu, namun si sulung menjawab tidak mau. Ayahnya pun pergi ke anaknya yang satu lagi yaitu si bungsu dan menyuruh hal yang sama, si bungsu pun langsung mengiyakannya. Namun setelah ayahnya pergi, si bungsu tetap asik dengan kerjaannya dan tidak melakukan yang disuruh oleh ayahnya, sementara itu si sulung yang tadi berkata tidak, setelah ayahnya pergi, ia berpikir dan menyadari, kemudian pergi dan melakukan hal yang disuruh ayahnya tadi.
 
Saya terkejut mendengar cerita itu, bukan karena baru pertama kali mendengar cerita tersebut, namun karena saya merasa disindir oleh Ayah saya. Saya cuma diam dan telepon di tutup.
 
Setelah saya merasa ada emosi yng beranjak naik dalam diri saya. Saya marah, karena saya merasa saya sudah besar sudah dewasa dan kenapa saya masih harus dipaksa melakukan sesuatu. kenapa tidak membiarkan saya memutuskan apa yang harus saya lakukan. Kenapa harus dipaksa. Saya juga tahu apa yang harus saya lakukan, saya sadar saya telah menjauh dari Tuhan, dan saya juga punya keinginan untuk mendekat sama Tuhan, tetapi kenapa saya harus diperintah untuk dekat sama Tuhan, bukankah itu membuat saya merasa tidak nyaman dan membuat saya seperti terpaksa dekat sama Tuhan.
 
Pikiran saya penuh, perasaan juga campur aduk antara marah dan sedih. Saya mencoba menenangkan diri saya, kemudian saya teringat akan suatu ajaran :
 
'Janganlah engkau seperti bagal yang tidak berakal yang jalannya dan kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les atau kekang.'
 
 
Kenapa kita harus ragu-ragu untuk melakukan sesuatu yang baik, kenapa kita sibuk memperhitungkan untung rugi atau hal-hal lain ketika hendak melakukan sesuatu yang berkenan kepada Tuhan ??