Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Belajar Mencintai dengan Tulus

sarlen's picture

Pengucapan
kata-kata penuh mesra, adalah bagian dari ekspresi cinta kasih
seseorang kepada kekasih hatinya, terutama pada saat perasaan cinta
sedang menggebu-gebu bersemi di hati.

Sebagai bentuk ekspresi
dan apresiasi cinta, terkadang pernyataan itu disampaikan dalam dua
bentuk kalimat dengan esensi yang hampir sama, seperti dua bentuk
pernyataan dibawah ini :

Kalimat pertama mengatakan : "Aku mencintai kamu karena aku membutuhkanmu..."

Sedangkan bentuk kalimat yang kedua mengungkapkan : "Aku membutuhkanmu karena aku cinta padamu..."

Sepertinya
ada kemiripan dalam mengungkapkan kedua kalimat tersebut. Akan tetapi,
apabila diperhatikan secara cermat, kedua kalimat tersebut mempunyai
perbedaan mendasar, terutama pada sisi pengertian atau makna yang
terkandung di dalamnya.

Perbedaan terletak pada apakah ada nilai ketulusan dari orang yang mengucapkannya.

Dalam
menjalani hubungan berpacaran dengan orang yang kita cintai, memang
sudah selayaknya kita melakukannya dengan penuh ketulusan. Tidaklah
baik kiranya apabila dalam menjalani masa berpacaran, salah satu pihak
selalu memperhitungkan atau mempertimbangkan atau menimbang-nimbang
segala sesuatunya.

Ketika ada indikasi sikap tersebut tetap
dipertahankan, maka sikap tersebut pada suatu waktu nanti akan dapat
menjadi kerikil tajam sumber perpecahan atau pertengkaran, yang
akhirnya bisa menjadi penyebab putusnya hubungan cinta kasih dengan
pacar.

Ketulusan itu tidak menuntut...

Ketulusan itu, tidak mengharapkan adanya sikap balas budi... karena dalam perbuatan tulus, ada pengorbanan…

Oleh
karena perbuatan sebuah tindakan yang didasarkan pada  ketulusan hati,
seseorang akan dapat memberikan kebahagiaan  kepada orang lain karena
perbuatan yang dilandasi ketulusan tersebut, telah membuka pintu
harapan (bahkan mungkin pula pintu kehidupan) kepada orang lain yang
menerima perbuatan tulus tersebut.

Terkait dengan sebuah hubungan cinta kasih,

Pada saat kita telah menerima atau telah menyatakan pernyataan  cinta kepada seseorang yang kita kasihi, itu sama artinya kita telah siap untuk membagi hati serta sebagian waktu kita dalam mengisi hari-hari kita bersama pacar.

Adanya
penerimaan diri untuk membuka hati dalam menerima atau menyatakan rasa
cinta kepada seseorang, seharusnya diikuti pula oleh adanya keterbukaan
pola pikiran kita, karena sikap open minded kita, kelak akan sangat
mempengaruhi serta menentukan pada cara pandang atau pada cara kita
memandang kepribadian maupun kehidupan pacar dari kita.

Kenapa begitu? Karena salah satu hakekat mengasihi orang lain dengan penuh ketulusan itu, adalah mencerna terlebih dahulu baru berpendapat atau bertindak.

Berbuatlah
karena hati kita yakin bahwa perbuatan kita itu adalah sebuah perbuatan
benar. Janganlah kita membangun opini pribadi yang ingin menghadirkan
suatu pola pandangan sebagai sebuah pembenaran.

Ini merupakan suatu keadaan atau pemikiran ideal apabila kita memang benar-benar tulus mencintai serta menyayangi pacar kita.

Cara
menentukan sikap yang didasarkan pada cara memandang kepribadian serta
kehidupan pacar kita, akan turut menentukan atau mempengaruhi penilaian
kita terhadap pacar kita, yang kelak dapat berujung pada hadirnya sikap
tulus untuk mau menerima keberadaan dan kondisi pacar, atau bahkan pada
saat kita akan mengapresiasikan rasa sayang kita pada pacar kita.

Hal
itu perlu kita lakukan agar kita tidak melihat kekurangan yang ada pada
pacar kita sebagai sesuatu yang bisa merusak hubungan cinta kasih
dengan pacar, namun menghadirkan sikap diri untuk mau membantu
memperbaiki atau menutupi kekurangannya itu.

Sikap ini merupakan
tanda penerimaan kita, untuk mau mengenal serta perduli atas apa yang
ada dalam diri kekasih hati kita, sehingga apabila pada suatu waktu
kita menerima informasi yang kurang menyenangkan tentang pacar kita,
itu tidak akan membuat kita langsung terpengaruh atau terbakar emosi.

Sisi
kekurangan dalam diri seseorang, adalah sisi rentan yang dapat
dijadikan alasan bagi seseorang untuk berubah sikap setia (melakukan
perselingkuhan) atau memutuskan hubungan pacaran dengan kekasih hatinya.

Apabila
dalam menjalin hubungan kasih dengan kekasih hatinya  tidak ada
kesungguhan hati dari dalam diri seseorang untuk tulus mencintai serta
dengan sepenuh hati menyayangi kekasih hatinya itu, maka besar
kemungkinan, orang tersebut sulit untuk dapat menjaga kesetiaannya
kepada sang pacar.

Dalam menjalin hubungan dengan orang lain,
kita tidak boleh bersikap egois. Kita tidak boleh banyak menuntut,
memaksakan diri kita dan menganggap diri kita adalah yang terbaik atau
sebagai pribadi yang tidak memiliki kesalahan. Kita seharusnya sadar,
bahwa kita juga bukanlah individu yang sempurna.

Jadi, ketika
ingin membuat sebuah keputusan untuk memutuskan hubungan tali kasih
dengan pacar, selama kesalahan atau kekurangan dalam diri pacar memang
benar-benar tidak dapat diperbaiki, maka sebaiknya kita tidak
menyederhanakan sebuah masalah dengan memvonis hubungan kasih dengan
kekasih hati kita itu dengan kata putus...

Kelanjutan kisah
percintaan pada sepasangan anak manusia yang sedang berpacaran, dapat
menghadapi suatu kendala pada saat salah satu dari pasangan tersebut
masih mempertahankan sikap ego diri, terutama ketika sikap ego tersebut
ditunjukkan secara berlebih-lebihan.

Egoisme sikap, pada
dasarnya dapat menghalangi tumbuhnya sikap tulus di dalam diri
seseorang karena sikap egois membuat seseorang cenderung hanya
memperhatikan atau mementingkan kepentingan diri sendirinya, dan
seakan-akan lupa untuk berbuat baik kepada orang lain.

Adanya
egoisme, dapat membuat seseorang menjadi selalu memperhitungkan setiap
perbuatan yang dilakukannya kepada orang lain. Hal tersebut justru
membuat kita sulit untuk berbuat tulus pada orang lain.

Untuk
apa kita mempertahankan sikap egoisme kita, kalau sikap egois tersebut
justru membuat kita menghadapi dilema dalam membina hubungan harmonis
dengan pacar karena pacar kita telah kecewa terhadap sikap kita itu?

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Untuk
apa kita lebih mementingkan diri (tidak memiliki respon baik pada
lingkungan sekitar) kita sendiri, kalau sikap egois tersebut justru
membuat pacar menjadi tidak senang sama kita? Hubungan dengan pacar
dapat merenggang, bahkan bisa membuat putus hubungan pacaran.

Apabila
kita memang sudah memutuskan untuk bersedia berbagi kasih dengan orang
lain, maka kita juga harus bisa menyatakan sikap tulus kita pada
pasangan kita (dalam arti positif, tentunya).

Cinta memang indah
seperti yang pernah kita dengar, seperti yang kita lihat, seperti yang
tertuliskan, dan seperti yang dibicarakan  setiap orang.

Oleh karena itu, cinta yang tumbuh dan bersemi dalam hati, patut untuk diperjuangkan, dengan mempertaruhkan segala yang ada, termasuk dengan menempatkan ketulusan hati nurani pada saat menjalankannya.

Dengan
bersikap tulus, berarti kita telah memberi makna indah akan adanya
sikap menghargai orang lain, serta menghargai hubungan yang telah kita
bangun dengan kekasih hati kita.

Ketulusan sikap, bukan hanya
membuat orang lain senang, namun juga bisa membahagiakan diri
sendiri.Oleh karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang bisa mendorong
kita untuk dapat mencintai orang lain dengan tulus.

Bersikap
tulus memang seharusnya dijadikan budaya dalam kehidupan setiap orang
karena dengan bersikap tulus, itu sama artinya telah menyatakan
perbuatan kasih kepada orang lain.

… hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
 

Selamat berbagi kasih di dalam ketulusan (dalam arti positif tapinya yaaa...)

 

 

.Sarlen Julfree Manurung