Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Berdamai Dengan Masa Lalu

petrus f. setiadarma's picture

 

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

 

Kita hidup dalam tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bagaimana sikap dan cara kita melewati masa-masa itu menentukan keberhasilan kita dalam hidup di dunia ini, bahkan dalam kekekalan kelak.

Salah satu di antaranya adalah sikap kita terhadap masa lalu. Kita akan mem-bahasnya melalui Yesaya 43:18-21. Tuhan tidak melarang kita mengingat masa lalu. Kita boleh mengingat masa lalu, dan mengevaluasi masalalu. Tetapi kita tidak boleh ‘mengingat-ingat’, yaitu menaruh dalam memori kita secara begitu mendalam. Mengapa TUHAN melarang umat-Nya untuk mengingat-ingat masa lalu?

 

  1. Keberhasilan Di Masa Lalu

 

Apabila di masa lalu ada keberhasilan, maka ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu: bisa menimbulkan kesombongan, atau kita merasa cukup puas dan tidak mau memacu diri lagi untuk prestasi yang lebih baik lagi.

Dalam keberhasilan tersebut ada dua kemungkinan bagaimana sikap kita terhadap orang lain. Pertama, kita menghargai peran serta orang lain. Bersama-sama merupakan satu tim (TEAM = Together Everyone Achieve More). Kedua, dalam keberhasilan kita melupakan peran serta orang lain. Kita merasa bahwa keberhasilan itu merupakan prestasi seseorang saja. Dan ini tentunya bisa menimbulkan kepahitan di hati orang yang pernah memberikan kontribusi penting dalam keberhasilan atau prestasi tersebut.

2. Kegagalan Di Masa Lalu

 

Apabila di masa lalu terjadi kegagalan, maka kita bisa mengalami rasa bersalah yang berkepanjangan, atau merasa trauma akibat kegagalan tersebut sehingga tidak mau terjun dalam bidang pelayanan itu lagi.

Dalam kegagalan tersebut ada dua kemungkinan bagaimana sikap kita terhadap orang lain. Pertama, kita menyalahkan orang lain. Ini adalah hal yang paling mudah yang dilakukan manusia ... sejak di Taman Eden. Hal ini tentu ini juga akan menimbulkan kepahitan di hati orang yang dituduh sebagai penyebab kegagalan. Kedua, kita kemudian memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang lain. Hal ini merugikan diri kita. Mungkin saja memang ada orang yang salah dalam mengambil keputusan atau dalam mengeksekusi keputusan di lapangan di masa lalu, tetapi kesalahan itu belum tentu diulanginya kembali. Bahkan orang bisa belajar banyak dari kesalahan di masa lalu kemudian menjadi semakin berhati-hati dan semakin bijaksana.

3. Ada Hal-hal Baru

 

TUHAN hendak membuat sesuatu yang baru. Jika kita terus mengingat-ingat masa lalu, kita bisa tidak bersedia menerima hal baru yang TUHAN kerjakan karena kita telah merasa mapan, atau kita menjadi frustrasi karena kegagalan. Jika kita menolak hal-hal baru yang Tuhan sediakan maka kita akan mengalami stagnasi.

Selalu harus ada hal yang baru: cara pandang yang baru, cara berelasi yang baru, kreativitas baru, dan sebagainya. Tuhan memberi kepada kita kreativitas untuk menghasil-kan hal-hal baru.

Hal baru yang Tuhan sediakan bagi kita adalah seperti ‘jalan di padang gurun’ (a way in the wilderness) dan ‘sungai di padang belantara’ (rivers in the desert). Itu berarti hal-hal baru tersebut menyegarkan, menggembirakan, memulihkan.

 

 

4. Proses Pembentukan

 

Damai dengan masa lalu berarti menjadikan masa lalu sebagai pengalaman yang amat berharga, di mana Tuhan telah menuntun kita. Yang Tuhan nilai bukan prestasi kita, melainkan lebih kepada pembentukan karakter dalam diri kita. Karakter ilahi terbentuk dalam pelayanan bersama, bukan dalam pelayanan sendiri-sendiri (Efs. 4:1-7). Bukankah besi menajamkan besi dan orang menajamkan sesamanya? (Ams. 27:17).

Bersyukurlah kepada Tuhan untuk proses pembentukan karakter dalam diri Anda melalui rekan-rekan Anda. Tidak boleh ada kepahitan hati, sebab kepahitan akan menjadi sumbat karya Allah selanjutnya dalam diri Anda, dan kepahitan merupakan suasana kondusif bagi sel-sel patogen dalam diri kita yang bisa membawa kita kepada penyakit yang menyengsarakan (Ibr. 12:15).

Untuk bisa berdamai dengan masa lalu, inilah yang harus kita lakukan:

 

  1. Menerima karya pendamaiaan Yesus Kristus di kayu salib Golgota yang mendamai-kan kita dengan Allah.

  2. Menerima dan mengampuni rekan sepelayanan kita jika mereka bersalah.

  3. Mensyukuri adanya teguran dari rekan sepelayanan kita ketika kita bersalah.

  4. Menerima keberhasilan dengan kerendahan hati dan penuh pengucapan syukur kepada Tuhan

  5. Menerima kegagalan diri sendiri sebagai satu pelajaran berharga untuk keberhasilan yang akan datang.

 

----- 00000 -----