Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Beriman itu Seperti Menanam Kentang

Purnawan Kristanto's picture

Hanya ada batas tipis antara iman dan kegilaan. Jika ada seorang petani yang nekad menanam kentang di wilayah yang sangat kering, maka Anda dapat mengatakan petani ini sinting. Kentang itu adalah tanaman yang membutuhkan sangat banyak air. Namun jika menggunakan kacamata rohani, kita bisa menyebut petani sebagai orang beriman. Jika Anda menjadi pengelola stadion nasional, lalu ada petani kampung yang datang untuk menyewa stadion, apa yang Anda lakukan? Mungkin Anda akan permisi sejenak untuk pergi ke kamar mandi dan tertawa terpingkal-pingkal di sana.

Akan tetapi hal ini benar-benar terjadi. Adalah petani Angus Buchan yang punya ide gila seperti ini. Angus adalah seorang kulit putih keturunan Skotlandia yang lahir di Afrika. Pada mulanya, dia tinggal di Zambia. Namun karena himpitan ekonomi dan situasi keamanan yang mengkhawatirkan, Angus membawa tiga anak dan isteri yang sedang hamil untuk pindah ke Afrika Selatan.
Di tempat yang baru, mereka harus mulai dari nol. Mereka tinggal di dalam trailer karena belum sempat membuat rumah. Angus harus membuka ladang dengan tangannya sendiri. Dia tidak percaya kepada penduduk setempat. “Tuhan pasti akan memberikan tanah pertanian kepada kita,” ujar Jill sembari memberi nama trailernya “Shallom.” Namun Angus hanya mendengus. Dia lebih percaya pada kekuatan ototnya.
Enam bulan kemudian, ternyata tidak ada kemajuan yang berarti. Angus mulai frustasi. Dia mudah tersinggung dan meledak kemarahannya. Situasi ini membuat cemas Jill, isterinya yang kemudian membujuknya untuk minum obat penenang. Angus justru tersinggung dan menolak mentah-mentah.
Hingga suatu saat, Angus dipaksa oleh isterinya untuk mengantarkan dia dan anak-anak untuk pergi gereja. Dengan perasaan berat dan enggan Angus masuk ke gereja. Di dalam gereja, Angus semakin tidak nyaman karena ternyata dia adalah satu-satunya pria dewasa yang tidak mengenakan dasi.
Dalam ibadah itu, Angus justru mendapat kejutan. Dia merasa bahwa khotbah yang disampaikan oleh pendeta itu seolah-olah ditujukan secara pribadi kepadanya. Dia mulai menyadari bahwa sumber kemarahannya selama ini adalah jiwa yang gelisah. Maka tanpa ragu-ragu Angus menyerahkan hidupnya kepada Yesus.
Keesokan harinya, pendeta menantang Angus untuk menceritakan perubahan hidupnya itu kepada tiga orang. Bagi seorang petani sederhana, tantangan ini tidaklah mudah. Namun dengan cata ajaib Tuhan membukakan jalan. Pertama, dia bertemu dengan teman lamanya yang sedang santai. Sambil minum di sebuah bar, Angus membagikan kabar sukacita kepada kawan lamanya itu.
Kesempatan kedua didapatkan ketika terjadi kebakaran besar di ladang akibat kemarau panjang. Dibantu oleh penduduk setempat, Angus berusaha memadamkan api secara manual. Tampaknya itu sia-sia.Kebakaran semakin meluas dan mulai merembet wilayah pertanian tetangganya. Jika ini terjadi, maka Angus akan dituntut ganti rugi.
Satu-satunya cara memadamkan api itu adalah dengan menyiramkan air dari langit. Maka Angus mengajak Simeon Bhengu, sahabatnya yang warga asli untuk berdoa minta hujan. Simeon tertawa mendengar ajakan itu karena bulan itu belum memasuki musim hujan. Namun tawa Simeon segera lenyap dan digantikan keheranan. Langit berubah menjadi gelap dan turunlah hujan lebat yang memadamkan api yang mengganas itu.

 

Peluang ketiga terjadi ketika seorang perempuan dewasa tewas disambar petir. Karena pernah mendengar bahwa Angus pernah berhasil berdoa menurunkan hujan, maka mereka meminta Angus untuk mendoakan perempuan yang sudah terbujur kaku itu. Dengan perasaan bingung, Angus mendoakan dan secara ajaib perempuan itu membuka mata lagi.
****
Film ini diangkat dari kisah nyata. Meskipun tanpa aksi tembak-menembak atau adu jotos, film ini tetap menarik untuk ditonton. Dengan disuguhi lanskap pemandangan yang indah, kita diajak menikmati alur penceritaan yang sederhana namun mengajak kita untuk melakukan refleksi. Kehidupan kekristenan itu tidak menjanjikan perjalanan kehidupan yang selalu mulus. Justru pada saat memasuki lembah yang kelam, kita akan mendapat pengalaman bahwa tangan Tuhan yang perkasa selalu menuntun dan menjaga dari bahaya.
Kisah tentang mukjizat yang dialami oleh Angus ini mulai tersebar. Dia mendapat undangan dari berbagai tempat. Bahkan dia punya kesempatan untuk berkunjung ke tanah leluhurnya di Skotlandia. Namun di tengah euforia ini, terjadi tragedi yang mengenaskan. Saat bersantai bersama Alistair,--anak sahabatnya--, kendaraan yang disopiri Angus melintasi lobang kecil. Alistair oleng, jatuh dan terlindas oleh roda traktor. Angus berusaha membawa ke rumah sakit, tapi nyawa anak laki-laki ini tidak tertolong.
Angus sangat terpukul. Dia dihantui oleh perasaan bersalah dan terseret dalam arus depresi. Jemaat yang semula menyanjung mulai meragukan keimanan Angus. “Mengapa waktu itu Angus tidak mendoakan anak laki-laki itu? Bukankah dulu dia pernah menghidupkan kembali perempuan yang sudah mati?” Demikian cecar beberapa jemaat.
Sebelum tragedi itu terjadi, Angus pernah bercerita pada isterinya bahwa Allah akan memanggil dia untuk menjadi bahan ejekan dan cemoohan orang lain. Panggilan ini tidak hanya untuk Angus, tetapi juga bagi seluruh anggota keluarganya. “Apakah kamu sudah siap menerima panggilan ini?” tanya Angus pada Jill. Isterinya terdiam terpana.
Pergumulan Angus mengalami titik kulminasi setelah menerima telepon dari ayah Alistair pada sebuah malam. Sahabatnya bercerita bahwa dia baru saja bermimpi bertemu mendiang anaknya. “Aku memanggilnya supaya pulang,” kata sahabatnya terisak, “tapi anakku berkata, ‘Tidak ayah. Aku menunggu ayah di sini’”. Beban yang menindih itu seketika lepas dari pundak Angus.
Angus bersemangat lagi. Sebagai petani dia merasakan dampak dari kemarau penjang. Sebagai pendatang, dia juga merasa khawatir akan situasi keamanan yang mulai genting. Di beberapa tempat sudah berkobar isu rasial. Maka dia berinisiatif menyelenggarakan pertemuan doa nasional yang dihadiri para petani untuk meminta hujan dan keamanan.
Untuk keperluan ini, Angus ingin menyewa stadion Kings Park. Bagaimana tanggapan pengelola stadion? “Stadion ini pernah dipakai untuk konser Michael Jackson. Apakah Anda membayar sewanya?” tanya pengelola stadion. Angus meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi jika pengelola stadion mengizinkan pemakaian.
Ternyata Angus bukan orang gila. Pertemuan yang digagasnya ini berhasil diselenggarakan di stadion ini. Sayangnya film ini tidak menceritakan bagaimana Angus mendapatkan uang sewanya. Pada saat memimpin doa di hadapan ribuan petani, Angus sekali lagi mencetuskan ide yang sensansional. Dia akan menanam kentang karena dia punya keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan hujan.
Karena idenya itu, dia mendapatkan cemoohan dari berbagai pihak. Pihak bank menyarankan supaya Angus mengurungkan niat menggunakan uang pinjaman dari bank untuk menanam kentang. Sahabat-sahabatnya juga mewanti-wanti supaya jangan bertindak gegabah. Bahkan pendetanya juga meragukan kewarasan Angus.
Angus tidak surut. Dia yakin Tuhan pasti menjawab doanya. Dibantu oleh warga setempat, Angus menanam kentang di tanah berhektar-hektar. Seminggu, dua minggu, hujan yang dinantikan tak mengguyur. Bahkan setetes pun tidak. Empat bulan kemudian, menurut perhitungan adalah saatnya memanen kentang. Namun di atas bedeng-bedeng tanah pertanian itu bahkan belum tumbuh tunas-tunas baru.
“Besok pagi kita akan panen raya,” kata Angus pada Simeon, “Siapkan teman-teman untuk memanen kentang. Sebelumnya, kita akan berdoa mengucap syukur.” Mendapat perintah itu, Simeon tak habis pikir. Apanya yang akan dipanen? Bahkan benih kentang ini belum bertunas. Mungkin ini pikiran yang terlintas di benaknya.
Namun itulah iman. Menurut Angus, iman itu seperti kentang. Bisa diraba dan dicium. Iman itu begitu dekat dengan diri kita. Demikian juga, menumbuhkan iman itu seperti bertanam kentang. Kalau menanam sayur, kita bisa melihat perkembangannya. Berbeda dengan kentang. Setelah membenamkan benih kentang ke dalam tanah, kita tidak akan tahu perkembangannya. Kita baru bisa tahu setelah musim panen tiba.
Bagaimana akhir dari film ini? Apa yang ditemui Angus saat membongkar bedeng-bedeng tanah pertaniannya? Rasanya tidak seru kalau saya menuliskan di sini. Tonton saja sendiri DVDnya yang sudah beredar di Indonesia [Purnawan].

Kalau mau melihat Angus Buchan yang asli, lihat video klip ini:

__________________

 

Tulisan PurnawanFoto Purnawan  Video karya Purnawan

Anak El-Shadday's picture

wuiss

pengin liat filmnya.. udah masuk ke indonesia kan pak?? di rental film udah ada blum ya?

but the one who endure to the end, he shall be saved.....

__________________

but the one who endure to the end, he shall be saved.....

Tante Paku's picture

Pengen nonton juga.

Iya nih, baca resensinya menarik, jadi pengin nonton juga. Udah dijual bebas ndak ya DVDnya, atau masih ada di dapur sensor? Jangan2 keluar fatwa dilarang menonton film ini?

Purnawan Kristanto's picture

 @ AES dan TP: Sudah ada

 @ AES dan TP: Sudah ada kok. Isteriku beli DVD ini waktu mengikuti Konven di Bandung. Kalau di rental saya pesimis kalau ada.

 


 www.purnawan.web.id

__________________

 

Tulisan PurnawanFoto Purnawan  Video karya Purnawan