Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Bhutan

victorc's picture

Shalom saudaraku,
Jumat kemarin kebetulan saya sempat membeli koran Kompas (22/5/2015). Yang menarik adalah di rubrik Klass ada artikel menarik dengan topik: Mencari bahagia di Bhutan. Membaca kata Bhutan, saya langsung teringat dengan dosen misiologi saya dulu waktu belajar di sekolah teologi. Beliau seorang ahli misiologi asal Amerika Serikat, sekaligus pelatih bola basket. Beliau pernah bercerita ingin berkunjung ke Bhutan, tapi peraturan di sana sangat ketat, misalnya jumlah turis per tahun dibatasi dalam kuota tertentu, dan juga setiap turis diminta membayar lebih dari $400 per hari kunjungan.Artinya hanya turis berkocek tebal saja yang boleh masuk negeri tersebut.
Singkat cerita, dosen kami ini tidak habis akal, dia lalu berusaha mengumpulkan tim basket suatu SMA untuk diajak ke Bhutan. Kemudian mereka mencari akal agar dapat diundang ke Bhutan dalam suatu turnamen persahabatan. Akhirnya, tim basket ini boleh masuk ke Bhutan dan tidak harus membayar $400 per orang per hari. Memang dengan cara itupun mereka masih belum menemukan cara untuk memberitakan Injil, tapi ada kabar bagus: salah seorang keluarga kerajaan Bhutan ternyata penggemar bola basket, sehingga dia mengundang dosen kami ini untuk memberikan kursus spesial bola basket. Dari situ mereka mulai berkenalan, dan tentunya dosen kami ini berharap suatu hari kelak akan terbuka kesempatan untuk bercerita tentang Tuhan Yesus.

Nah sekarang ijinkan saya merangkum sedikit beberapa fakta tentang Bhutan, berdasarkan artikel di Kompas tersebut, siapa tahu ada di antara Anda yang tergugah untuk pergi ke Bhutan :-)
(1) Bagi pendatang, Bhutan memang menyuguhkan rasa tenteram. Penduduk Bhutan sangat menghargai alam dan hidup menyatu dengan lingkungannya. Di bagian barat, timur, dan selatan, negeri ini berbatasan dengan India, sementara bagian utara berbatasan dengan Tibet, Tiongkok. Oleh karena itu India menjadi mitra dagang terbesar bagi Bhutan.
(2) Satu-satunya bandara di Bhutan ada di kota Paro. Sementara itu, Thimphu menjadi ibu kota dan kota terbesar di Bhutan. Jika kita berjalan dari Paro ke Thimphu, bukit-bukit yang terjal dan tinggi akan menjadi pemandangan utama.
(3) Negeri berpenduduk sekitar 700.000 orang ini memberi kesan sangat tidak hiruk pikuk dan tidak sangat sibuk dalam menjalani hidup. Pelancong yang ingin menikmati keindahan Bhutan hanya dibatasi beberapa puluh ribu pengunjung dalam setahun.
(4) Pendidikan menjadi perhatian utama pemerintahan Bhutan saat ini. Sejak 1990, pemerintah dengan bantuan ADB mengembangkan program pendidikan, baik di dalam dan di luar negeri. Bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar kedua.
Bagaimana, apakah Anda mulai tertarik? Silakan mencari info lebih lanjut tentang Bhutan di Google.

Tuhan memberkati Anda.

26 mei, 2015, pk. 6:17
VC

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.