Submitted by Bayu Probo on

Saya sudah berkali-kali membaca dan mendengar kisah dalam Injil Yohanes ini. Namun setiap kali menelitinya kembali, selalu ada detail baru yang menarik dan mengejutkan saya.

Kisah Yesus memberi makan 5.000 orang (laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak—cara penghitungan yang diskriminatif pada zaman dahulu) memiliki banyak detail menarik.

Pertama, tafsir apakah hanya dengan lima roti dan dua ikan yang di bagikan Yesus, benar-benar mengenyangkan orang-orang sebanyak itu. Atau, apakah sebenarnya —seperti ditafsir beberapa pakar—sebenarnya hendak mengajarkan bersyukur dan berbagi kepada orang-orang Yahudi itu (konon dianggap sebagai orang pelit). Sebab, kenyataannya mereka sebenarnya masing-masing membawa bekal dan saat mereka melihat Yesus membagi-bagikan lima roti dan dua ikan, orang-orang itu tergerak hatinya untuk saling berbagi. Dan, saat mereka berbagi ternyata semua bekal mereka sebenarnya cukup—bahkan berlebih 12 bakul—jika mereka rela berbagi. Apa pun tafsir itu, semuanya mewujud sebagai mukjizat, apakah itu mengenyangkan lima ribu lebih manusia hanya dengan lima roti dan dua ikan, atau pun Yesus menggerakkan mereka menjadi murah hati kepada sesamanya sehingga akhirnya makanan pun berlimpah ruah (catatan untuk tafsir terakhir—kalau orang-orang itu membawa bekal, masakan murid-murid tidak tahu dan menjawab, ” Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja”?).

Kedua, eforia massa yang memaksa Yesus menjadi raja setelah mereka kenyang. Dan, tanggapan Yesus dengan cara segera menyingkir begitu mendapat paksaan, menolong saya memahami arti kepemimpinan.

Ketiga, yang terbaru adalah: adanya anak kecil yang sampai akhir kisah tidak pernah disebutkan namanya. Bocah laki-laki yang membawa lima roti dan dua ikan. Inisiatif bocah (atau keluarga bocah itu atau beberapa keluarga yang mengutus bocah itu, tergantung dari sudut mana kita memandangnya) untuk tidak memikirkan diri sendiri dan merelakan bekalnya dibagi-bagikan seakan menjadi pemicu suatu keajaiban yang selalu diingat-ingat para murid Kristus.

Tidak terdengar pujian Yesus kepada bocah itu (atau keluarga-keluarga itu). Bisa jadi karena murid-murid tidak mengingat apakah pada kejadian itu Yesus sempat menyinggung-nyinggung tentang bocah itu atau sebenarnya bocah itu menghilang di telan kerumunan sehingga sulit diikuti jejaknya. Tidak ada catatan juga jika bocah itu atau keluarga yang menyumbang lima roti dan dua ikan itu menjadi anggota komunitas Kristen pertama. Atau, sebenarnya mereka menjadi anggota gereja, tetapi bukan menjadi golongan para pemimpin sehingga namanya tidak pernah tercatat dalam Injil.

Jadi, terima kasih untuk kemurahan hatimu bocah tak bernama. Kemurahan hatimu (atau keluargamu) menjadi penguat imanku.