Saya mengamati adanya pergeseran kesaksian akhir-akhir ini di dalam gereja2 atau komunitas rohani karismatik yang cenderung mengarah ke teologi kemakmuran. Bahwa ketuhanan itu SANGAT identik dengan keberadaan uang, kemampuan YHWH memberikan rejeki kepada manusia. Benarkah bila YHWH tidak memberikan rejeki / uang berarti kita di dalam kutuk ? Juga banyak issu negatif seputar uang dan kekuasaan di dalam gereja2 karismatik di Indonesia, terutama di GBi, mirip sekali dengan kaum Farisi & ahli Taurat di jaman 2050 th lalu ?
Jauh para pengkotbah datang dari luar kota, yang dibicarakan di mimbar ya... ujung ujung nya hal duit lagi alias UUD. Seperti yang tahun lalu marak issu teologi kemakmuran oleh grupnya Petrus Agung dari Smg, berdalih membangun gereja bagai stadium olah raga, bahkan sound sistem nya sekitar Rp.5 milyar. Petrus Agung grup mendapat banyak kecaman, termasuk hak menggunakan ayat alkitab untuk memuluskan tujuannya sendiri, permainan intrik dalam tiap KKR menggunakan "money politic", mengorganisir persekutuan doa atau komsel untuk menggalang dana untuk kepentingan acara gereja yang wah... untuk mencari nama atau cari perhatian dari manusia, untuk menarik orang2 bergabung menjadi jemaatnya. Termasuk issu penyalahgunaan kuasaNya.
Penindasan dan penipuan dan juga "racun" ternyata banyak di gereja "palsu". Kita digiring halus berkedok alkitab untuk semakin keduniawian. Yesus tidak pernah menekankan keduniawian.
Sebaiknya kita berhati-hati, terutama generasi muda untuk meningkatkan pembelajaran dan pengenalan akan TUHAN dan Lord Jesus.