Ketika hati tak mau bekerjasama untuk cerah ceria menyambut hari, maka kelabu yang menggantung di langit itu pun bisa dianggap setuju bahwa hari ini muram... muram... dan muram. Katanya sel kelabu di antara dua telinga itu bisa mendikte hati supaya tetap bersinar, tapi hari ini si kelabu itu kompak dengan kelabu awan di luar sana -- diam menggantung tak kunjung pergi. Maka kucoba bangunkan dia; kupasang sepasang earphone dan mulai kumainkan musik rancak dengan volume terkeras. Siapa tahu bunyi itu bisa membangunkan si kelabu yang hari itu meringkuk malas di rongga kepalaku. Tapi dia diam meski musik itu mulai memekakkan gendang telingaku.
Aku ingin berteriak, tertawa selepas-lepasnya, berkejaran dengan anak-anak tetangga, atau berburu anak kucing liar, ataupun memandangi bebek yang berenang di persawahan tak jauh dari tempat tinggal -- apa saja asal aku bisa mengusir mendung itu. Tapi, ah.... aku jenuh.. jenuh.. jenuh...
Apa yang salah? Tak ada. Semua berjalan sebagaimana adanya. Tapi mengapa hati-- yang selalu kupertanyakan letaknya, di dadaku atau di sel-sel kelabu kepalaku-- serasa begitu berat. Hal-hal yang biasanya begitu menyenangkan, mengapa kini tak sedikitpun menggugah gairahku. Bingung... bingung... bingung...
Ketika aku sendiripun bahkan tak tahu apa yang kurasakan, kubutuhkan, ataupun kuinginkan, yang tertinggal hanya sepenggal rasa yang mengambang --tak panas pun tak dingin, tak manis pun jua tak pahit. Ah, inikah yang disebut jenuh?
Ah, sel kelabuku tersayang, beristirahatlah bila memang kau lelah, tapi kumohon janganlah kiranya engkau berhenti.
Submitted by
clara_anita
on