Submitted by cahyadi on

Satu aja usulnya, kurangi makian di SS, nggak enak kalau dilihat saudara-saudara yang lain. Karena beberapa orang yang pernah masuk SS kabur setelah mengetahui suasana pasar yang begitu” entah ini bisa dilakukan atau nggak..., ya nggak tahu... ini kan cuma usulan... ‘tul kan?

Begitu tulisan yang pernah diposting oleh Mbak Iik beberapa waktu lalu. Dan setelah tulisan ini muncul, segera saja bermunculan coment-coment berkaitan dengan hal tersebut.

Pak Pur menulis, makian itu alkitabiah (Matius 12:34). Wong Tuhan Yesus aja memaki. Trus ia juga cerita soal teman yang memaki lantaran mengungkapkan kegembiraan dapat berjumpa lagi setelah sekian lama berpisah. Atau juga teman laen yang memaki untuk mengungkapkan pujian.

Dennis Santoso menulis, aneh.... justru maki-memaki itulah istimewanya SS....

Ia suka SS yang apa adanya, nggak berlagak sopan (jika aslinya emang nggak sopan) dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Lalu Mas Dennis mempersilakan (mengajak) pergi bagi siapa saja yang endak suka dengan makian juga perlunya orang belajar ‘legowo’ ketika menghadapi orang-orang yang suka memaki.

Hai-hai menulis cerita tentang seorang teman yang nekat melakukan pertolongan ketika melihat dirinya tenggelam di pantai. Padahal si teman tidak bisa berenang. Dan saking meluapnya cinta, Hai-hai mengeluarkan serentetan makian.

Jesus freaks juga setuju untuk memaki selama dasarnya alkitab

Dan Noni bercerita tentang Bapak temannya yang hobi misuh. Biasanya dia memaki untuk mengungkapkan keheranan, kekaguman dan rasa akrabnya. Dan selama ini tidak (belum) ada orang yang sakit hati akibat makiannya.

Ketika membaca coment-coment ini aku jadi merasa aneh.

Aneh, kok alkitab bisa dipakai sebagai dasar untuk memaki. Alkitab itu kan mengajarkan cinta kasih sedangkan memaki berkonotasi negatif. Kalo saya enggak salah mengartikan, memaki = mengata-ngatai orang lain dengan kata/kalimat yang cenderung kasar. Mungkin bisa disimak Matius 12:35-37

Aneh yang lebih aneh lagi; maki-memaki itulah istimewanya SS. Oalah… maki memaki kok dibilang istimewa. Kalo tentang menjadi diri sendiri, it’s okay. Tetapi menjadi diri sendiri bukan terus membawa kebiasaan yang enggak baik untuk ditularkan dalam komunitas. Kan aneh… katanya aja komunitas blogger Kristen… kok ada yang maki-maki. Mending diganti aja  singkatan SSnya jadi Sumpah Serapah, Komunitas Blogger orang yang seneng maki-memaki biar klop. Gmana admin?

 Untuk teman yang suka memaki atau dimaki kayaknya enggak begitu pas kalo diterapkan sebagai contoh untuk menyetujui tindakan maki-memaki dalam komunitas. Mereka kan teman yang emang kita udah kenal kebiasaannya, kepribadiannya trus kalo dalam komunitas itu kan orangnya kompleks. Ada yang sifatnya begini ada yang begitu. Ada yang punya kebiasaan ini atau kebiasaan itu. Pokoknya beragam banget. Jadi intinya kita kudu mau toleransi. Mosok yang nggak suka memaki malah disuruh keluar cari blogger yang lain padahal kalo mau diteliti lebih jauh, mungkin yang seneng maki-memaki itu cuma segelintir orang aja. Nggak ada ceritanya kan yang minoritas mau ngalahin yang mayoritas.

Jadi, mengapa kita harus berkata-kata kasar jika dengan kelemahlembutan kita malah bisa menyampaikan sesuatu dengan lebih baik. Mengapa harus memaki jika masih banyak pilihan kata-kata indah yang bisa disampaikan. Ingat, mendapatkan 1000 musuh itu lebih mudah daripada mencari 1 orang teman. Setuju?