Submitted by Waskita on

Sejak kecil saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan mesin waktu. Rasanya asik ya kalau kita melakukan time travel, mengunjungi berbagai abad peradaban manusia.

Jika masih ingat dengan film Back to The Furture, Quantum Leap, Time Trax atau novel klasik The Time Machine karangan H.G. Wells, di sana dikisahkan petualangan dengan mesin waktu, meskipun itu hanya merupakan novel fiksi ilmiah yang bertentangan dengan Hukum Fisika, tapi cukuplah menggugah imajinasi, yang semakin menggoda keingintahuan saya, benarkah mesin waktu itu bisa diciptakan?

Lebih dari 100 tahun silam Albert Einstein menulis artikel berjudul Zur Elektrodynamik bewegter Körper atau On The Electrodynamics of Moving Bodies di jurnal Annalen der Physik, Jerman, yang mengusulkan teori Relativitas Khusus. Menurut Teori Relativitas Khusus, ruang dan waktu tidak absolut, melainkan relatif. Artinya, ruang dan waktu berbeda untuk setiap orang.

Entah apakah itu betul-betul bisa diciptakan suatu hari nanti. Tapi sekarang, mari berandai-andai. Seandainya mesin waktu itu ada dan kita miliki, kita ingin kemana dan mau berbuat apa?

Kalau saya ... saya ingin kembali ke zaman Kristus, saya ingin membuat dokumentasi lengkap dari Yesus lahir sampai terangkat ke sorga. Semua kata-kata dan ajarannya akan saya rekam dan tulis dengan lengkap.

Lalu saya ingin menjelajah ke berbagai tempat zaman perjanjian lama, semoga tidak salah mendarat di kota Sodom dan Gomora saat timbul bencana hujan belerang. Atau ikut tenggelam saat banjir bandang di zaman Nuh.

Atau mendingan saya kembali ke waktu aku masih bayi lalu aku akan menyertai diriku sendiri, mencegah supaya aku tidak jadi melakukan beberapa kebodohan yang dulu pernah aku lakukan.

Ah atau mending sekarang aku catat semua hasil pertandingan bola, lalu balik ke masa lalu ikut pasang taruhan. ha...ha...ha.... ups jangan dosa ah, lagian harta yang cepat diperoleh akan cepat pula menguapnya, tapi mereka yang mengumpulkan sedikit demi sedikit akan menjadi kaya.

Hlo kok jadinya malah berkhotbah. Balik lagi ah, siang-siang, habis makan enaknya melamun. Andai ....