Submitted by
Purnawan Kristanto
on
“Waktu” itu memang relatif. Waktu selama satu jam yang dipakai untuk
bercengkerama dengan orang-orang tercinta rasanya terlalu singkat. Satu jam menunggu tanpa kepastian rasanya sewindu. Pesawat ultra ringan yang akan menerbangkan kami ke Tasikmalaya sebenarnya sudah siap. Kapten Pilot, pak Agus, sudah meminta izin ke menara pengatur lalu lintas udara. Langit di kota Yogyakarta terlihat cerah. Cuaca di Cilacap, yang akan kami lalui nanti, juga baik. Sayangnya, jarak pandang di landasan udara Wiriadinata, Tasikmalaya hanya 4 km. Maka izin terbang masih ditahan karena menurut peraturan, jarak pandang minimal 5 km. Kami harus menunggu ada perubahan visual.
Pesawat pun dipindah di samping pesawat Charlie-Bravo, yaitu pesawat latih yang dipakai oleh taruna Akademi Angkatan Udara.
“Belum terbang, Cap?” tanya seorang pilot instruktur, mengenakan uniform oranye.
“Belum dapat izin,” jawab pak Agus dari kursi kokpit,”soalnya jarak pandang hanya 4 km di Tasikmalaya.”
“Sebenarnya 4 km itu masih aman, kok,” sahut pilot instruktur.
“Iya, tetapi peraturan tetap peraturan. Petugas di menara itu harus taat pada aturan,” jawab pak Agus.
Sambil menunggu izin, pak Agus bercerita bahwa jarak pandang 4 km sebenarnya aman. Para pilot berani mengambil risiko terbang dengan kondisi itu. Akan tetapi, semenjak banyak pesawat militer yang rontok, maka aturan pun diperketat.
“Kalau kita kelamaan menunggu, saya justru takut cuaca akan memburuk,” keluh pak Agus, sambil menyalakan radionya dan memanggil menara kontrol. “Adisucipto, Papa Kilo Siera Seven Seven Seven, selamat pagi!’ sapanya.
Terdengar respons dari petugas di menara.
“Bagaimana pak? Apakah kami mendapat clearance?”
“Sudah kami koordinasikan dengan Tasikmalaya dan belum ada perubahan, “ jawab menara.
“Kalau begitu, kami meminta izin dengan responsibility by pilot,” pinta pak Agus dengan yakin.
Itu artinya pilot meminta izin dengan tanggungjawab sepenuhnya pada pilot atas semua konsekuensi dari keputusannya. Jika nanti terjadi kecelakaan karena jarak pandang hanya 4 km, maka pilot yang memikul tanggungjawab. Pukul 07:30 WB, izin diberikan.
Pesawat bergerak landasan pacu dari arah hangar AAU. Baling-baling menderu menghempas udara. Kami berhenti di persimpangan menunggu Batavia Air mendarat lebih dulu. Begitu burung besi bermesin jet itu lewat di depan hidung kami, kami segera masuk lintasan pacu.
“Kita berangkat,” suara pak Agus terdengar lewat headphone. Dia lalu memacu pesawat melaju ke arah timur. Badan pesawat terguncang-guncang karena aspal landasan yang tak mulus lagi. Kurang dari 200 meter, hidung pesawat terangkat ke atas.
“Yippiiiii…..airborne”
Pemandangan dari kokpit
Badan pesawat miring ke kanan, berbelok 180 derajat ke arah barat, menerobos awan putih tipis. Kota Yogya terlihat jelas. Jalan raya disesaki orang-orang yang berangkat kerja dan bersekolah.
Melintasi Kulonprogo terdengar musik pada headphone yang kami kenakan.
“Suara seperti ini sangat mengganggu penerbangan,” keluh pak Agus.
“Suara darimana ini?” tanyaku.
“Ini bocoran dari stasiun radio FM.”
“Apakah stasiun illegal?”
“Sebenarnya legal, tapi mereka sengaja memperbesar daya pancar mereka. Mereka ‘kan ingin memperluas jangkauan siaran supaya udah cari iklan, tapi akibatnya sinyal mereka masuk ke dalam gelombang penerbangan.”
Interferensi itu memang sudah keterlaluan. Suara dari stasiun radio itu me meningkahi komunikasi pilot dengan dari menara. Pak Agus melaporkan gangguan ini ke menara.
“Apakah sudah ada keluhan dari pilot lain tentang gangguan ini?” tanya pak Agus.
“Sampai saat ini belum ada,” jawab menara.
“Beberapa kali sudah diadakan razia untuk menindak para pengganggu, tapi sesudah itu mereka muncul lagi,” kata pak Agus kepadaku.
Pada ketinggian 5000 feet, gumpalan awan putih menghadang di depan. Pak Agus meminta izin menara untuk menambah ketinggian menjadi 5500 feet. Ternyata di ketinggian ini masih berawan juga. Maka ketinggian ditambah menjadi 6000 feet. Dilihat dari kokpit, awan yang terhampar mirip dengan karpet dari kapas. Aku teringat adegan di sorga dalam film seri Highway to Heaven yang dibintangi Michael Landon. Persis seperti yang kulihat saat ini. Seakan-akan kalau aku keluar dari pesawat, aku akan berjalan di hamparan awan putih yang padat. Aku akan terbenam di dalam gumpalan awan putih sebatas lutut, namun masih bisa berjalan menuju pintu gerbang sorga. Di sebelah utara, terlihat puncak gunung Slamet yang menyembul gagah menembus awan-awan.
Gunung Slamet tampak di kejauhan
Memasuki Cilacap, pak Agus menjalin kontak dengan menara di landasan Tunggul Wulung, Cilacap. Petugas menara cukup ramah dan sudah mengenal baik pak Agus.
“Selamat pagi kapten Agus. Cuaca di bawah agak berawan,” sapa petugas di menara.
“Selamat pagi, langit di ketinggian 6000 feet cukup cerah,” jawab pak Agus.
“Silakan mampir sejenak di Cilacap. Nanti kami siapkan penyambutan yang meriah.”
“Maaf, kami sudah terlambat nih..”
“Kalau begitu fly pass saja biar kami bisa melihat pesawat kapten Agus yang baru,” pinta petugas di menara.
“Lain kali saja deh diadakan acara khusus ke Cilacap,”jawab pak Agus,”Kami tidak akan melewati Cilacap, tapi langsung berbelok ke kanan.”
Sebelumnya, pak Agus menggunakan pesawat jenis trike yang bentuknya mirip dengan gantole yang diberi roda dan mesin. Terbang menggunakan pesawat jenis ini harus menggunakan jaket tebal dan siap-siap kerokan karena tidak ada penutupnya. Pilot dan penumpang akan terpapar angin.
Sedangkan pesawat yang kami tumpangi saat itu adalah jenis CTSW yang langsung diimpor dari Jerman. Bodi pesawat tertutup oleh serat fiber yang ringan namun sangat kuat. Lahunya dua kali lebih cepat daripada trike. Pesawat bercat putih ini memang kecil-kecil cabe rawit. Jika adu balap dengan pesawat Cesna, pesawat CTSW ini akan menjadi lawan yang tangguh. Bahkan secara teori, akan mampu memenangi pertandingan itu. Meski begitu, pak Agus tidak pernah memacu pesawatnya lebih dari separuh batas maksimal. “Biar mesinnya awet,” demikian alasannya.
Meski dengan kecepatan yang sangat rendah, namun jarak Jogja-Tasikmalaya dapat dicapai hanya dalam waktu 90 menit. Memasuki Majenang, awan justru semakin menggumpal tebal. Pak Agus meminta izin menambah ketinggian sampai 7000 feet. Sejauh mata memandang kami hanya melihat hamparan awan putih keperakan di bawah langit biru. Matahari menyinar kuat di belakang kami.
Sesampai di atas Ciamis, pak Agus melakukan manuver untuk menurunkan ketinggian. Pesawat melakukan gerakan spiral menurun, berkelok-kelok mencari celah kosong di antara awan-awan. Akan tetapi gumpalan awan itu terlalu tebal. Pesawat dinaikkan kembali pada ketinggian 6600 feet.
Selepas Ciamis, langit mendadak cerah dihiasi awan tipis berserakan. Aku menengok ke bawah, berharap melihat tanda-tanda kerusakan akibat gempa. Aku sudah siapkan kamera video untuk merekam. Akan tetapi tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Semula aku menduga akan mendapati kerusakan yang masif seperti kerusakan di Jogja dan Jateng akibat gempa bumi 27 mei 2006. Dari atas, pemandangan terlihat normal. Rumah-rumah masih berdiri tegak. Perbukitan tidak menunjukkan tanda-tanda longsor. Jalan raya terlihat lengang, namun tidak rusak sama sekali.
Di depan, terlihat gunung Galunggung teronggok kelu. Siapa sangka pada 5 Mei 1982, gunung ini pernah murka dan memuntahkan lava panas. Puluhan nyawa melayang, ratusan raga lara dan menimbulkan kerusakan yang tak terkira. Gunung itu seperti bara dalam sekam. Dari luar terlihat teduh, tapi dalamnya bergemuruh.
“Tuh, landasannya sudah kelihatan,” tunjuk pak Agus.
Aku mengikuti arah yang ditunjukkan pak Agus, namun yang tak kulihat landasan yang dimaksud. Ketajaman mata seorang pilot memang jauh berbeda dengan mata orang awam. Setelah mendekat, barulah kulihat garis hitam memanjang di atas lahan kosong.
“Wiria, Papa Kilo Siera Seven Seven Seven, selamat pagi,” sapa pak Agus.
“Papa Kilo Siera Seven Seven Seven, Wiriadinata, selamat pagi,” sambut petugas di menara Wiriadinata.
“Numpang tanya, pak. Dimanakah lokasi yang terkena dampak gempa terparah?” tanya pak Agus. Menurut rencana, kami akan berputar-putar dulu untuk melihat kondisi Tasikmalaya dari atas. Itu sebabnya, tangki bahan bakar telah diisi penuh di Jogja. Bisa untuk terbang selama 18 jam.
“Lokasinya 15 km, sebelah barat Tasikmalaya, arah ke gunung Galunggung,” jawab petugas di menara. “Tapi mungkin tidak akan terlihat dari atas, pak” lanjut petugas di menara.
Mendengar informasi itu, pak Agus memutuskan membatalkan rencana terbang berkeliling Tasikmalaya. Kami langsung mengarah ke landasan Wiriadinata. Pesawat mengitari landasan searah jarum jam sambil menurunkan ketinggian. Pukul sembilan pagi, pesawat mendarat mulus di Tasikmalaya. Pesawat diparkir di depan kantor landasan yang sangat sederhana. Kami disambut sekitar sepuluh petugas di landasan militer. Mereka langsung mengerumuni pesawat dan bertanya ini dan itu. Bagi mereka, jarang sekali ada pesawat yang mendarat di sana. Hanya setelah gempa saja landasan itu menjadi ‘hidup’ kembali. Sehari sebelumnya, pesawat wakil presiden, Jusuf Kala, mendarat di sana.
Dikerumuni
Pak Philipus dan pak Jonson sudah menantikan kedatangan kami. Mereka berdua adalah aktivis di GBI Tasikmalaya, yang baru kami kenal karena peristiwa gempa. Kami bahkan belum pernah ketemu sebelumnya. Saya menjalin kontak dengan mereka atas saran mas Joko Prihanto. Pada hari terjadinya gempa, saya mengirim SMS pada pak Philipus menanyakan kondisi Tasikmalaya. Menurut pak Philipus, kondisi di Tasikmalaya baik-baik saja. Namun dua hari kemudian, beliau mengabarkan bahwa wilayah di luar kota membutuhkan bantuan.
Sekitar pukul 9:30, mobil Kijang yang kami tumpangi meluncur ke jalan Veteran, Tasikmalaya. Tujuan kami adalah GKI Tasikmalaya yang menjadi posko Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Truk berisi bantuan dari Klaten yang dikawal oleh Januar dan Doddy sudah membongkar muatannya. Kami bertemu dengan pak Cahya, ketua posko, namun tidak bisa berbincang lama karena kami harus segera meninjau lokasi bencana.
Sebelum ke lokasi, pak Philipus menyarankan supaya kami sarapan lebih dahulu. “Sekarang sedang bulan puasa. Kita akan kesulitan mencari makan siang di luar kota, “sarannya. Sebenarnya perut kami masih kenyang karena di pesawat tadi sudah makan sepotong roti. Namun tak urung kami setuju juga dengan mereka. Koh Januar, Dodi dan pak Hasan [sopir teruk] bergabung dengan kami. Kami menyantap mie asin di sebuah warung makan yang pintunya hanya ditutup sedikit. Di Tasikmalaya, selama bulan puasa, semua warung makan harus tutup. Kalau pun ada yang berani beroperasi, mereka hanya membuka sedikit daun pintu. Pengunjung harus menyelinap satu demi satu.
Usai sarapan, tujuan berikutnya meninjau akibat bencana di desa Sukajaya, kecamatan Purbaratu.
[bersambung].
Baca juga:
Lihat Videonya di sini:




