Hari ini tepat enam bulan, kematian anjing saya. Alpha namanya. Seekor Siberian Husky. Walaupun saya dan istri saya memiliki 2 anjing yang lain, namun kesedihan itu tetap terasa sampai sekarang. Karena Alpha menemani dan mengisi hidup saya selama sepuluh tahun terakhir.
Ketika ayah saya selesai melewati disertasinya, saya langsung berteriak "Kita makan besar!" Beliau hanya tersenyum. Seminggu setelah makan-makan di rumah, beliau memberikan sebuah bingkisan ke tangan saya, yang ternyata merupakan hadiah. Saya bertanya,"Kenapa malah papa yang memberikan saya hadiah. Harusnya saya yang memberikan hadiah karena papa sudah lulus ujian." Dia hanya memberantaki rambut saya. Membuka bungkusnya, saya tahu bahwa itu hanyalah pajangan kecil yang bisa digantung di tembok. Pajangan yang di atasnya terukir lukisan seekor anjing kecil, dan di bawahnya ada tulisan yang berwarna-warni (setelah besar saya baru tahu jenis huruf tersebut adalah Comic Sans). Tulisan yang berkata, "Be An Alpha"
Saya tidak ingat tepatnya kapan, mungkin dua bulan setelah saya mendapatkan pajangan tersebut, tapi yang pasti saya mendapatkan hadiah lagi. Seekor anjing Hiberian Susky -maklumi saya yang dyslexic ini-, dan karena satu-satunya memory yang saya ingat tentang anjing adalah pajangan yang ayah saya berikan, maka anjing tersebut saya panggil Alpha sejak hari pertama dia ada di rumah kami.
Tentu saya tidak akan berbicara mengenai Alpha anjing saya. Bukan apa-apa, saya bisa menulis buku tentang pengalaman saya dan Alpha karena dalam sepuluh tahun kami bersama, bukan saja ratusan photo yang kami punya di mana ada Alpha di situ, tapi juga ratusan cerita unik dan menarik. Kalau saya menulis tentangnya di sini, mungkin bisa dibuat cerita bersambung, minimal 10 kali posting blog. Lagipula di sini ada Hai-Hai sebagai pelatih anjing yang bisa bercerita panjang lebar mengenai spesies yang satu ini.
Alpha.
Ayah saya memberi tahu saya, bagaimana anjing memiliki kemiripan dengan manusia. Hidup berkelompok, memiliki aturan, memiliki pemimpin atau leader, memiliki pengikut atau anggota. Pemimpin biasanya diistilahkan sebagai alpha, anggota atau pengikut seorang alpha biasanya dilabeli sebagai beta atau followers.
"You're our Alpha!" Ujar saya menepuk-nepuk jidat beliau
"Yup!" Dengan diriingi tawanya yang khas
Di hari itu, cuma sesingkat itu penjelasan beliau. Atau setidaknya hanya itu yang saya ingat. Selanjutnya, saya menemukan banyak alpha di sekeliling saya, dan juga di dalam hidup saya.
Di gereja kami, saya melihat pendeta kami berkotbah dengan semangat setiap minggunya. Tapi sewaktu saya kecil saya tidak pernah mendengarkan kotbahnya secara utuh. Karena saya harus mengikuti sekolah minggu. Pendeta tersebut adalah alpha di gereja saya, sebagaimana ayah saya adalah alpha di rumah kami.
Setelah sering mendengar cerita tentang Yesus dari guru sekolah minggu kami, saya juga menyadari bahwa Yesus juga seorang alpha. Muridnya ada 12, belum ditambah yang 70 dan ditambah yang kroco alias sekedar ikut-ikutan.
DI sekolah, saya menyadari bahwa di kelas saya ternyata ada alpha juga. Atau setidaknya itu yang saya sangka. Seorang yang berbadan tinggi, besar, dan ditakuti oleh seisi kelas. Bahkan banyak teman-teman di kelas yang lain juga takut berhadapan dengannya. Kadang dia meminta uang dengan paksa kepada salah satu dari murid-murid, bahkan tidak segan mencuri barang dari kami.
Suatu hari saya mengadukan hal tersebut kepada ayah saya. Lagi-lagi, dengan senyumnya yang khas, beliau bilang, "He's not an alpha".
"But Dad, we all are afraid of him!" Begitu seru saya dengan polos.
"Scared, huh?" Tanya beliau rethorically, seakan membenarkan kosa kata yag saya pilih.
Dagu saya turun naik dengan cepat, sambil memandang mata beliau yang juga turut tersenyum.
Dari penjelasan beliau, baru saya tahu lebih lagi mengenai seorang alpha.
Seorang alpha tidak pernah membuat anggota-anggota atau pengikutnya menjadi takut. Teman saya itu, menurut kata ayah, adalah bully. "He's a bully". Ayah membuka dunia baru. Juga sebuah kosa kata yang baru saya dengar di hari itu.
Seorang bully, sering disangka sebagai alpha. Padahal perbedaannya begitu menyolok. Demikian beliau menyambung kalimatnya.
Seorang alpha, tidak akan memulai keributan.
Seorang alpha, tidak akan memamerkan kekuatannya.
Seorang alpha, tahu soal batas wilayah, teritori, dan sadar akan kemampuannya
Seorang alpha, akan menjawab tahu jika tahu, dan tidak tahu jika memang tidak tahu
Seorang alpha, akan bangkit melindungi dan membantu anggotanya yang menderita
Seorang alpha, tidak akan ikut campur urusan orang lain
Seorang alpha, tidak akan memihak jika melihat orang lain berkelahi. Bahkan dia akan tertidur pulas, pertarungan orang lain dianggapnya sebagai hal yang biasa terjadi sehari-hari
Seorang alpha, tidak terbiasa mengeluh
Seorang alpha, mencari inisiatif ketika dia terbentur tembok
Seorang alpha, akan mencari jalan keluar untuk setiap masalah
Seorang alpha, akan mengenali alpha yang lain
Di suatu komunitas, hanya ada satu alpha.
Sebaliknya, a bully will do the opposites.
Begitu mendengar penjelasan beliau, saya seperti merasa mata saya berbinar.
Seminggu kemudian, tidak ada lagi yang menjadi bully di sekolah.
That bully? He's gone.
In memory of my loved dog, Alpha