Submitted by hai hai on

 Kisah Penciptaan Iblis dan Manusia 2

Setahu saya, hampir tidak ada kotbah dari atas mimbar gereja rerformed yang tidak menyebut nama Iblis. Namun herannya, walaupun Iblis begitu penting di dalam kotbah namun sayangnya, Satanologi (Ilmu yang mempelajari Iblis) yang juga disebut Demonologi (Ilmu yang mempelajari roh-roh jahat) justru dianggap sebagai doktrin minor atau tidak penting. Yang mengenaskan adalah banyak sarjana teologi yang justru meyakini dongeng para dukun dan mantan dukun sebagai kebenaran dan mengajarkannya sebagai ajaran Alkitab. Teologi reformed mengajarkan bahwa Iblis memimpin sepertiga malaikat di sorga untuk memberontak kepada Allah. Allah membuang mereka ke bumi sebagai hukuman atas pemberontakan mereka. Walaupun diyakini dan diajarkan dari generasi ke generasi namun sesungguhnya, tidak ada satu ayat Alkitab pun yang mendukung ajaran demikian. Ajaran demikian justru bertentangan dengan ajaran Alkitab.

Tiga Manusia Dalam Dua Tubuh

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah  diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1:27

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah  banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara SORGA dan atas segala binatang MAKLUK BERJIWA yang merayap di bumi. " Kejadian 1:28

SHAMAYIM <08064> = SORGA

Binatang = CHAY <02416>  = HIDUP; MAKLUK BERJIWA

Ada DUA jenis manusia yang diciptakan oleh Allah. Yang pertama adalah DIA dan yang kedua adalah MEREKA. DIA artinya hanya ada SATU. Mereka artinya LEBIH DARI SATU. DIA tidak disebutkan JENIS kelaminnya. MEREKA jenis kelaminnya LAKI-LAKI dan PEREMPUAN. DIA diciptakan menurut gambar Allah. MEREKA tidak diciptakan menurut gambar Allah. Siapakah DIA? Siapakah MEREKA?

Makluk Berjiwa Menjadi Makluk Berjiwa Hidup

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang BERJIWA hidup. Kejadian 2:7

Ketika selesai dibentuk dari debu tanah, manusia itu adalah MAKLUK BERJIWA (CHAY <02416>). Setelah menerima Nafas Hidup (N@SHAMAH <05397> CHAY <02416>) maka manusia pun menjadi MAKLUK BERJIWA HIDUP (NEPHES <05315> CHAY <02416>).

Banyak orang menyangka bahwa penciptaan manusia itu ibarat Zepeto menciptakan Pinokio. TUHAN Allah membuat sebuah arca tanah lalu menghembuskan Nafas Hidup ke dalam arca itu sehingga menjadi makluk hidup. Alkitab tidak mengajarkan hal demikian. Alkitab mengajarkan tentang tiga jenis makluk hidup yagn dibuat dari tanah. Yang pertama disebut binatang yang kedua disebut makluk berjiwa (chay). Makluk berjiwa yang dihembusi Nafas hidup disebut makluk berjiwa hidup (Nephes chay).

Debu tanah itu dibentuk menjadi manusia lalu manusia itu dihembusi Nafas Hidup sehingga menjadi  makluk berjiwa hidup (Nephes chay). Kisahnya sama sekali bukan debu tanah itu dihembusi Nafas Hidup lalu menjadi manusia.

Manusia Laki-laki Itu Mahatahu

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Kejadian 2:21

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22

Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Kejadian 2:23

Aneh sekali! Walaupun tidur namun manusia itu tahu apa yang terjadi. Dia tahu pasti bahwa perempuan itu adalah tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya. Itu berarti manusia itu mahatahu.  

Mengungkap Rahasia Menjadi Satu Daging

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Kejadian 2:24

Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Kejadian 2:25

HAYAH <01961> = MENJADI

ECHAD <0259> = SATU

BASAR <01320> = DAGING

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." Kejadian 4:1

YADA <03045> = MENGENAL

Teologi Reformed mengajarkan bahwa menjadi satu daging artinya bersetubuh. Benarkah demikian? Tentu saja salah! Bersetubuh sama sekali tidak membuat seorang lelaki dan perempuan menjadi satu daging. Untuk bersetubuh, kitab Kejadian menggunakan kata Ibrani YADA yang artinya MENGENAL.

Handai taulan sekalian, Hawa dibangun dari tulang rusuk lelaki itu. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki saat ini, maka kita tahu bahwa pada hakekatnya, manusia-manusia yang dilahirkan oleh wanita, bukan ciptaan baru namun hasil PEMBANGUNAN. Sperma meninggalkan ayah dan ibunya lalu menjadi satu daging dengan istrinya (sel telur). Sperma bukan jaringan tubuh namun makluk hidup. Dari mana kita tahu bahwa sperma adalah makluk hidup? Sperma bisa bergerak secara mandiri, ibarat seekor ikan berenang-renang di dalam air dengan satu tujuan, mencari sel telur (ovum) dan menyatu dengannya. Ovum juga bukan jaringan tubuh namun makluk hidup karena bisa bergerak secara mandiri dengan satu motivasi, menyambut sperma. Ketika sperma bertemu dengan ovum maka keduanya pun menjadi satu daging (satu sel). Satu daging itu lalu memecah menjadi dua daging, dua daging lalu menjadi empat daging hingga akhirnya membentuk satu tubuh. Itulah yang disebut proses membangun.

Karena manusia-manusia yang dilahirkan oleh perempuan bukan ciptaan baru itu berarti mereka sudah ada walaupun belum dibangun dan dilahirkan. sebelum Hawa tercipta maka semua umat manusia ada di dalam Lelaki itu. Dan setelah Hawa tercipta, maka umat manusia ada di dalam kedua manusia itu.

Lelaki itu akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Sperma itu akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya (sel telur - ovum) sehingga keduanya menjadi satu daging. Itulah yang dipersatukan Allah dan MUSTAHIL dipisahkan oleh manusia.

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. Kejadian 3:20

Handai taulan sekalian, itu sebabnya pada mulanya dia disebut manusia, lalu disebut perempuan, lalu disebut istri, lalu disebut ibu baru kemudian dinamakan Hawa yang artinya ibu dari semua makluk berjiwa. Hal yang sama juga berlaku bagi si Ular. Pada mulanya dia disebut manusia, lalu disebut lelaki, lalu disebut suami lalu disebut Ular.  Manusia Lelaki itulah yang memberi istrinya nama Hawa. Bagaimana dengan lelaki itu? Istrinya menamainya Ular.

Makluk Berjiwa Yang Paling Cerdas

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang  MAKLUK BERJIWA di darat PADANG yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman  ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Kejadian 3:1

Darat = SADEH <07704> = PADANG

Binatang = CHAY <02416>  = HIDUP; MAKLUK BERJIWA

Handai taulan sekalian, Ular di dalam Kejadian 3:1 bukan binatang ular yang ada di dunia, bukan ular yang kita ketahui. Semua binatang di bumi tidak memiliki AKAL BUDI itu sebabnya mustahil disebut CERDIK. Di samping itu, ular itu ada di taman Eden, bukan di bumi. Dia paling cerdik di antara segala MAKLKUK BERJIWA di PADANG, bukan di bumi. PADANG adalah Taman Eden alias kumpulan air alias Laut, bukan bumi sebab bumi adalah bagian yang kering setelah air berkumpul menjadi satu. 

Melanggar Perintah TUHAN Allah Menyebabkan Pemisahan

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Kejadian 3:6

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Kejadian 3:7

Bukankah sejak awal keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu? Handai taulan sekalian, apa yang sesungguhnya terjadi dengan manusia dan istrinya setelah mereka makan buah pengetahuan pengetahuan? PEMISAHAN! Melanggar perintah TUHAN Allah menyebabkan PEMISAHAN. Lelaki dan perempuan berpisah. PEMISAHAN menyebabkan lelaki dan perempuan tidak saling mengenal. Perasaan MALU adalah salah satu CIRI dari pengetahuan bahwa kita berbeda, kamu dan aku berbeda. Keterasingan menyebabkan manusia merasa malu untuk menunjukkan diri apa adanya. Malu dengan keadaan diri sendiri! Itu sebabnya, keduanya lalu menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Apa yang terjadi? Keduanya menyembunyikan diri alias mengasingkan diri.

Melanggar Perintah TUHAN Allah Menyebabkan Ketakutan

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Kejadian 3:8

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Kejadian 3:9

Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut,  karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Kejadian 3:10

Melanggar perintah TUHAN Allah juga menyebabkan PEMISAHAN antara manusia dan TUHAN Allah. Dosa membuat manusia merasa malu untuk menunjukkan diri apa adanya kepada TUHAN Allah. Dosa membuat manusia Menyembunyikan diri alias mengasingkan diri dari Allah. Dosa membuat manusia TAKUT kepada TUHAN Allah.

Melanggar Perintah TUHAN Allah Menyebabkan Hilangnya Solidaritas

Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Kejadian 3:11

Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." Kejadian 3:12

Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." Kejadian 3:13

Dosa mengakibatkan pemisahan. Dosa juga memicu lenyapnya cinta kasih dan munculnya perasaan mementingkan diri sendiri. Dosa membuat manusia tidak segan-segan untuk mengorbankan manusia lainnya untuk keselamatan diri sendiri. Itu sebabnya baik laki-laki maupun perempuan itu saling menyalahkan dan beraksi sendiri-sendiri. Padahal keduanya adalah suami istri. Solidaritas hilang sama sekali.

TUHAN Allah Mengutuk Ular 

Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah  engkau di antara segala ternak BINATANG BERKAKI dan di antara segala binatang MAKLUK BERJIWA hutan DI PADANG; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Kejadian 3:14

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Kejadian 3:15

Ternak =  B@HEMAH <0929> = BINATANG BERKAKI

Binatang = CHAY <02416>  = HIDUP; MAKLUK BERJIWA

hutan = SADEH <07704> = PADANG

menjalar = HALAK <01980> = BERJALAN

RAMAS <07430> = MERAYAP

SHARATS <08317> = BERKERIAPAN

Ular adalah MAKLUK BERJIWA. Makluk berjiwa makanannya tumbuhan. Namun karena menipu perempuan itu maka ular dikutuk untuk hanya makan debu tanah dan berjalan dengan perutnya seumur hidupnya. Berjalan dengan perutnya berarti pada mulanya ular berjalan dengan kakinya. Berjalan dengan perutnya bukan merayap sebab merayap artinya RAMAS atau SHARATS. Berjalan dengan perutnya artinya punya kaki namun tidak bisa digunakan untuk berjalan.

Siapakah Ular itu? Handai taulan sekalian, di taman Eden ada tiga jenis MAKLUK BERJIWA (CHAY). Yang pertama adalah manusia. Yang Kedua adalah burung sorga dan yang Ketiga adalah SHERETS <08318> = MAKLUK MERAYAP. Yang berjalan (HALAK) adalah manusia. Itu sebabnya dapat disimpulkan bahwa Ular adalah MANUSIA. Karena perempuan itu yang tertipu maka ular itu adalah suaminya, sebab saat itu hanya ada dua orang manusia di taman Eden. 

Kata Ular adalah nama pribadi, bukan nama jenis binatang seperti yang kita pahami saat ini. Nama ular diberikan oleh perempuan itu kepada suaminya. Nama itu terus melekat atau digunakan untuk Iblis hingga akhir jaman (Wahyu 12:9). Kenapa demikian? Karena Kejadian 2:19 mencatat bahwa TUHAN Allah memberi manusia KUASA untuk memberi nama kepada makluk berjiwa hidup (Nephes chay). Karena laki-laki itu adalah satu-satunya makluk berjiwa hidup (Nephes chay) maka dapat disimpulkan bahwa laki-laki itulah yang dinamai Ular oleh perempuan itu. 

Pada saat kutukan itu dilontarkan hanya ada satu perempuan di taman Eden. Perempuan itu lalu diberi nama Hawa. Itu berarti yang akan bermusuhan dengan ular itu adalah Hawa. Keturunan Hawa akan bermusuhan dengan keturunan ular itu. Keturunan Hawa akan meremukkan kepala ular itu sementara ular itu akan meremukkan tumitnya. Keturunan Hawa adalah umat manusia. Keturusan Hawa juga adalah keturunan ular itu. Itu berarti ada keturunan Hawa yang bukan keturunan ular itu. Bagaimana hal itu mungkin sebab Hawa sendiri adalah keturunan ular itu karena Hawa dibangun dari tulang rusuk ular itu. Handai taulanku sekalian, itu adalah sebuah misteri yang akan kita bahas lebih lanjut lain kali.

TUHAN Allah Mengutuk Perempuan

Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Kejadian 3:16

Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kejadian 4:7

Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju. Kidung Agung 7:10

Berahi = TASHUQAH <08669> = BIRAHI; KERINDUAN; KASMARAN

Handai tualanku sekalian, Di dalam Perjanjian Lama kata Ibrani TASHUQAH hanya digunakan TIGA kali yaitu di dalam ketiga ayat tersebut di atas. TASHUQAH sama sekali tidak berarti perasaan ingin bersetubuh dengan seseorang namun keinginan untuk MEMILIKI orang itu seutuhnya. dalam generasi ini kata BERAHI tidak hanya dipahami sebagai perasaan Sesungguhnya kata BERAHI memiliki arti yang lebih luas dari itu. Birahi adalah perasaan cinta kasih antara dua orang yang berlainan jenis kelamin. Kerinduan untuk memiliki dan dimiliki, perasaan ingin bersama-sama, perasaan mencintai dan kerinduan untuk dicintai. Birahi adalah DENDAM ASMARA atau KASMARAN. Itulah arti kata Ibrani  TASHUQAH ata kata Indonesia BERAHI.

Kutukan TUHAN Allah tersebut di atas tidak hanya diberikan kepada SATU wanita namun kepada PEREMPUAN, itu berarti semua perempuan di dunia akan menanggung hal demikian, kesusahannya akan banyak ketika mengandung, melahirkan dengan kesakitan dan birahi kepada suaminya serta dikuasai oleh suaminya.

TUHAN Allah Mengutuk Manusia

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya,  maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: Kejadian 3:17

semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; Kejadian 3:18

dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." Kejadian 3:19

Ketiga ayat di atas adalah akibat yang ditanggung oleh manusia karena mendengarkan perkataan istrinya untuk makan buah pohon pengetahuan. Umat manusia harus bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menghidupi diri dan keluarganya.  Apabila manusia itu adalah Ular, kenapa dia menerima kutukan lagi? Bukankah Ular sudah menerima kutukan dari TUHAN Allah sebelumnya?

Kutukan kepada Ular adalah kutukan kepada PRIBADI lelaki itu. Kutukan kepada manusia adalah kutukan kepada seluruh umat manusia. Kepada lelaki itu dan kepada seluruh umat manusia yang masiha ada di dalam lelaki itu. Itu sebabnya seluluh umat manusia menanggung kutukan untuk bekerja keras sepanjang hidupnya. Itu sebabnya Ular tidak segera menanggung kutukannya sebab di dalamnya ada umat manusia. Itu sebabnya manusia itu baru menjadi Ular setelah seluruh umat manusia KELUAR dari dirinya. Manusia itu baru menjadi Ular setelah tubuhnya mati. Namun walaupun tubuhnya belum mati namun sudah mati di hadapan TUHAN Allah, itu sebabnya Alkitab sama sekali tidak mencatat kata-kata maupun kalimatnya setelah dia diusir dari taman Eden.

Hawa, Ibu Semua Makluk BERJIWA

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup MAKLUK BERJIWA. Kejadian 3:2

Handai taulanku sekalian, Kejadian 3:20 kembali menunjukkan kepada kita bahwa manusia lelaki itu mahatahu, itu sebabnya dia tahu bahwa istrinyalah yang menjadi ibu semua yang hidup atau semua makluk berjiwa. Perempuan yang dinamai Hawa itu akan menjadi ibu semua MAKLUK BERJIWA (CHAY <02416>) namun dia bukan ibu dari semua MAKLUK BERJIWA HIDUP (NEPHES <05315> CHAY <02416>). Hal itu berarti umat manusia yang akan dilahirkannya HANYA Makluk Berjiwa, BUKAN makluk berjiwa hidup. Itu berarti umat manusia yang akan dilahirkannya tidak memiliki Nafas Hidup (N@SHAMAH <05397>  CHAY <02416>) di dalam dirinya.

Korban Pertama? Korban Dari hongkong?

Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. Kejadian 3:21

Untuk menutupi ketelanjangannya manusia dan istrinya menyemat daun ara. TUHAN Allah mengajari mereka untuk membuat pakaian dari kulit binatang. Banyak teolog yang menafsirkan Kejadian 3:21 sebagai permulaan tradisi korban binatang untuk menebus dosa manusia. Dengan memotong hewan TUHAN Allah sedang mengajarkan kepada manusia bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa. Penafsiran demikian sangat berlebihan sebab Alkitab dengan gamblang mengajarkan bahwa yang dilakukan TUHAN Allah adalah membuat pakaian bagi manusia, bukan MENGAMOUNI dosa manusia karena korban binatang. Yang tidak diajarkan oleh Alkitab sebaiknya tidak diajarkan sebagai ajaran Alkitab.

Hanya Satu Yang Tahu

Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita,  tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." Kejadian 3:22

Handai taulanku sekalian, tentang ayat tersebut di atas, banyak teolog reformed yang mengajarkan, "Allah mahatahu. Dia pasti malu jadi Allah bila tidak tahu. Ayat tersebut tidak boleh dipahami secara hurufiah namun harus harus ditafsirkan secara rohani. Ayat itu hanya mengajarkan kepada kita adanya komunikasi di antara Allah Tritunggal. Tidak boleh DITAFSIRKAN bahwa Allah tidak tahu." Ajaran yang benar-benar mengenaskan. Sebuah unjuk tafsir 1001 mimpi yang luar biasa. 

Siapakah yang dimaksudkan oleh TUHAN Allah sebagai salah satu di antara Kita? Kita tidak tahu! Kita bisa saja menganalisanya lalu menarik kesimpulan namun semuanya itu tetap adalah kesimpulan dari hasil analisa belaka, tidak ada kepastiannya sama sekali. Kita harus menunggu hingga menemukan ayat lain yang lebih gamblang yang membahas hal itu.

Bukan Hukuman Namun Penugasan

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Kejadian 3:23

Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub  dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. Kejadian 3:24

Manusia diusir dari taman Eden untuk mengusahakan tanah dari mana ia diambil, sama sekali bukan hukuman karena melanggar perintah TUHAN Allah untuk makan buah pengetahuan. Kita mengetahui hal itu sebab sejak semula sudah diberitahu bahwa amanat yang diemban oleh manusia adalah mengusahakan bumi.

Apa yang dilakukan oleh manusia itu, melanggar perintah makan buah pengetahuan di mata TUHAN Allah adalah suatu KEGAGALAN namun hal itu BUKAN suatu KEGAGALAN di mata Allah. Kenapa demikian? Karena SEJAK semula Allah SUDAH MENETAPKAN agar manusia TURUN ke dunia untuk mengusahakan BUMI.