Gadis itu mengangkat kepalanya mencari sumber suara yang mengimbangi denting-denting pianonya. Kami beradu pandang. Aku menganggukkan kepala kepadanya sambil mengacungkan jempol. Dia tersenyum, manis sekali.
Lima belas tahun yang lalu sewaktu bekerja di Medan, pagi hari aku sering ke hotel yang terletak di kawasan pecinan untuk menjemput para menejer dari kantor pusat Jakarta yang datang untuk meninjau daerah kerjaku. Aku menempatkan mereka di situ agar malam hari mereka mudah mencari makan di pecinan.
Bila aku datang ke hotel itu dan mereka belum kelihatan di lobi, aku memilih duduk di lobi daripada menelepon mereka. Bahkan kalau mereka sudah di lobi dan meminta aku menemani mereka sarapan, aku lebih suka mempersilakan mereka ke restoran sendiri. Mengapa?
Di tengah lobi ada kolam air mancur dan aku senang duduk di tepinya. Di dekatnya ada piano. Seorang gadis setiap pagi memainkannya. Bukan lagu-lagu klasik yang dimainkannya, tetapi lagu-lagu slow pop. Tidak berlebihan bila aku katakan tidak ada orang yang lalu-lalang memperhatikannya, atau sejenak berhenti untuk menikmati denting-denting pianonya. Tetapi ia selalu bermain dengan baik, dengan penuh kesungguhan seolah-olah sedang bermain di sebuah ruang konser di mana setiap mata dan telinga menyimak permainannya.
Kenangan ini muncul ketika aku membaca tulisan Saroni Asikin di koran Suara Merdeka (05.01.2014) dengan judul “Tuhan Mendengarkan”. Dia bercerita tentang seorang pemain piano yang bermain di sebuah pesta di ballroom sebuah hotel tanpa seorangpun hirau kepadanya.
Ketika si pemain piano rehat dan keluar ruangan, Saroni ikut keluar dan bertanya kepadanya, “Saya lihat Anda begitu takzim saat bermain kayak sedang berada di ruang orkestra yang sangat besar. Tapi maaf, apakah Anda menyadari bahwa tidak seorang pun di pesta yang memperhatikan Anda?”
Pianis itu tertawa. “Itu sudah biasa, Mas.”
“Tapi kenapa Anda begitu takzim, begitu serius, seolah-olah Anda takut melakukan kesalahan walau kecil ketika bermain? Dan tampaknya Anda begitu menikmati permainan piano Anda sendiri.”
“Mas, saya ini pemain piano, maka saya harus bermain sebaik-baiknya. Saya tahu ini bukan resital piano di sebuah ruang orkestra. Ini pesta, dan saya tak bisa mengharapkan diri saya atau permainan piano saya jadi pusat perhatian. Tapi sekali lagi, sebagai pemain piano, saya harus bermain sebaik-baiknya, syukur-syukur yang terbaik menurut ukuran saya.”
“Tapi lumrah seorang pemain ingin diperhatikan, bukan?”
“Saya tak khawatir, Mas. Saya punya 2 pendengar tetap setiap saya bermain. Saya dan Tuhan. Saya yakin, bila saya bekerja atau melakukan sesuatu dengan baik, bila saya bermain dengan baik, Tuhan pasti mendengarkan.”
Jadi ingat Firtu di Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Suatu pagi gadis di lobi hotel itu memainkan sebuah lagu, lagu lama, tetapi aku pernah sangat menyukainya. Tak terasa mulutku menyenandungkan syairnya.
I don't know how to love Him.
What to do, how to move Him.
I've been changed,
yes really changed.
In these past few days,
when I've seen myself,
I seem like someone else.
Gadis itu mengangkat kepalanya mencari sumber suara yang mengimbangi denting-denting pianonya. Kami beradu pandang. Aku menganggukkan kepala kepadanya sambil mengacungkan jempol. Dia tersenyum, manis sekali.
(31.08.14)
** gambar diambil dari google sekedar ilustrasi.