Submitted by Purnawan Kristanto on

Hari ini untuk pertama kalinya saya berlaku keras kepada anak kami, Kirana (2 tahun 11 bulan). Saya mencubit pahanya sehingga membuatnya menangis sampai napasnya tersengal-sengal. Ada perasaan kasihan melihatnya menangis sejadi-jadinya. Rasanya tidak tega melihatnya. Tapi saya harus tatag, demi kebaikannya.

Entah mengapa, setiap malam minggu hampir selalu terjadi ritual seperti ini. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Isteri saya harus segera tidur sebab hari Minggu merupakan hari yang paling berat bagi dia. Dia harus memimpin ibadah hari Minggu. Kadang dalam satu hari bisa mendapat jatah tiga kali. Akan tetapi, dia tidak bisa segera tidur karena Kirana belum mengantuk. Berkali-kali isteri saya membujuk Kirana supaya segera tidur, tapi dia selalu saja memiliki alasan untuk tidak tidur. Mulai dari minta susu, minta ditemani pipis, minta ganti baju yang kebasahan keringat, sampai dengan minta dibacakan buku dongeng.
Jika sudah begitu, isteri saya mulai sedikit jengkel. Melihat perubahan sikap ini, Kirana justru mulai menjadi-jadi. Permintaannya semakin bermacam-macam. Dalam situasi ini, biasanya saya yang menjadi "penengahnya". Saya menemani Kirana  bermain sampai dia merasa mengantuk, sementara isteri saya berangkat tidur. Saya menemaninya sambil bekerja di depan laptop. Jika sudah merasa mengantuk, maka dia akan segera minta diantar pergi ke kamar dan langsung tidur tanpa banyak cing-cong.
Malam ini, ritual yang sama juga terjadi. Seperti biasa, saya menemani dia menjemput sang kantuk sambil menonton film "Jade Warrior" di MetroTV. Pukul setengah dua belas malam, dia menurut ketika saya ajak pergi ke kamar. Namun sesampai di kamar, dia buat ulah lagi. Dia tidak setuju dengan cara saya menutup pintu kamar. Supaya tidak terjadi keributan, maka saya membuka pintu kamar. Namun rupanya dia tidak berkenan dengan hal tersebut. Dia pun mulai menangis. Saya tahu, ini hanya sebagai alasan dia saja untuk tidak pergi tidur. Sudah beberapa minggu dia tidur terlalu larut sehingga bangun kesiangan. Akibatnya, dia beberapa membolos tidak ikut acara Sekolah Minggu. Padahal acara Sekolah Minggu diselenggarakan di rumah kami.Kirana
Tangisnya semakin keras. Mamanya lalu terbangun mendengar tangisannya. Dia lalu mengangkat Kirana dan membaringkannya di tempat tidur, tapi anak kami tetap memberontak sambil menendang-nendang Mamanya. Maka saat itu juga saya memutuskan untuk mendisiplinkan sang anak. Saya mencubit pahanya dengan sedikit tekanan. Kontan saja, tangisannya  semakin keras dan minta didekap oleh mamanya. Namun hanya kurang dari lima menit kemudian, dia sudah terlelap.
Kini saya malah tidak bisa tidur. Semoga dia tidak menjadi sakit hati oleh perlakun saya tadi.
"Maafkan papamu ya, Nak. Papa ingin kamu tahu bahwa tidak semua keinginanmu bisa terpenuhi."