Suatu sore, ketika menyalakan TV , acara yang terpampang adalah Minta Tolong. Biasanya saya tidak pernah suka melihat acara semacam ini karena umumnya hanya mengeksploitasi kemiskinan dan tidak memberikan tontonan yang menarik dan bermutu. Saya tidak melihatnya dari awal.
Tema acara itu adalah seorang wanita yang maaf cebol yang hendak menukarkan sepatu lama dan rusak milik adiknya dengan sepatu yang lebih baru / baik. Respon orang yang dimintai tolong sungguh negatif, tidak ada seorangpun yang berkenan membantu. Bahkan ada yang marah marah karena dia sendiri sedang dalam kesusahan.
Sampai suatu ketika, dijumpailah seorang nenek tua yang setengah berbaring diatas tumpukan barang bekas ( sampah ? ) karena sudah tidak bisa berjalan dengan terpal seadanya sebagai penutup. Nenek ini adalah penjual sepatu bekas, sepatu yang didapatnya dari pemberian orang. Nenek Sri ( nama lengkapnya saya tidak ingat ) ini ternyata bersedia menukarkan sepatu dagangannya dengan sepatu yang sudah rusak tadi.
Selanjutnya cerita berfokus kepada Nenek Sri. Ketika ditanya mengapa ia rela dan ikhlas memberikan sepatunya, jawabnya dengan ringan: "Saya juga diberi kok."
Nenek Sri lahir tahun 1915 menurut pengakuannya, ia tinggal seorang diri tanpa anak dan suami. Suaminya telah meninggal beberapa puluh tahun sebelumnya. Mereka menikah tanpa dikaruniai anak. "Bagaimana mau dikaruniai anak, wong tidak pernah "kumpul!?" Sang suami tanpa alasan jelas tidak melakukan aktivitas seksual kepada istrinya maupun dengan wanita lain. Pewawancara kemudian menanyakan apakah Nenek Sri tidak tergoda untuk menyeleweng karena alasan tersebut. Nenek Sri menjawab," Suami saya itu orang baik dan perhatian kok, kenapa saya harus membalas kebaikannya dengan menyeleweng?"
Nenek Sri ini begitu luar biasa, ini membuat saya enggan berpindah kanal dan terus mengikuti kisahnya. Ketika masih agak muda dan sudah ditingal suami, Nenek Sri bekerja sebagai makelar / membantu mencarikan penumpang di terminal. Pekerjaan ini kemudian direbut oleh temannya.
Nenek Sri kemudian berdagang sepatu yang akhirnya terpaksa berhenti juga karena alasan yang sama, direbut temannya. Nenek Sri tidak marah ataupun melawan, ia cuma pasrah, katanya :"Ya tidak apa apa, toh akhirnya mereka berdua sudah mati duluan. Gusti Allah yang membalasnya.
Ketika ditanya apakah yang diingini Nenek Sri selanjutnya, jawabannya membuat saya trenyuh," Saya minta mati saja!". Hadiah uang yang diberikan diterimanya biasa biasa saja. Tidak ada tanda kegembiraan yang meluap sekalipun dia tidak berhenti berterima kasih.
Selanjutnya, Nenek Sri ditawarkan untuk tinggal di panti jompo. Tawaran ini ditolaknya, karena menurutnya barangkali sebentar lagi dia sudah dipanggil Tuhan. Tawaran ini akan diterimanya setahun lagi, jika ia masih hidup.
Sungguh kepasrahan yang sangat memukau dan menyentuh. Hampir menetes air mata saya. Ketika diujung umur, hal hal jasmani sudah nyaris tak berarti. Hanya satu yang tinggal, menunggu dipanggil pulang.
Mazmur 90:12 : Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian , hingga kami beroleh hati yang bijaksana