Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Dari Seni Rupa sampai Linguistik: Membuat Prakarya

Indonesia-saram's picture

Waktu SD, ada mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Yang dipelajari macam-macam. Mulai dari urusan menghormati orang tua, sampai urusan dapur. Namun, sering kali pelajaran ini mengajak siswa untuk membuat kerajinan tangan.

Saya ingat dulu pernah membuat kotak pensil dari tripleks. Tripleks waktu itu masih seharga sekitar dua ribuan. Kalau dapat yang bagus, kerja pun lebih menyenangkan.

Pertama-tama, saya membuat desain di atas tripleks tersebut dengan pensil. Pengukuran harus benar-benar tepat. Kalau meleset, bentuknya tentu jelek. Maka tidak heran kalau di atas tripleks itu akan terlihat sedikit dekil karena beberapa kali harus dihapus karena salah.

Perkara ukur-mengukur sudah selesai. Sekarang giliran memotongnya dengan gergaji tripleks yang tipis itu. Sungguh menyebalkan kalau kebetulan mendapatkan gergaji yang kualitasnya buruk. Karena bisa putus dengan mudah. Padahal kerjaan masih banyak.

Namun dengan sedikit ketekunan, toh saya berhasil memotong semua bagian kotak pensil. Jadi, kerjaan selanjutnya tinggal mengelem. Lemnya harus lem UHU. Kalau pakai lem kambing yang kuning itu, hasilnya akan jelek. Apalagi kalau belepotan keluar ketika merekatkan setiap bagian. Lem UHU saat itu tergolong sangat mahal. Tapi demi hasil maksimal, saya membelinya; hanya yang ukuran kecil, sementara ada teman saya yang membawa yang ukuran besar.

Ternyata proyek membuat kotak pensil itu sangat membanggakan. Hasilnya memuaskan. Apalagi kotak pensil saya itu dinilai sangat baik, sembilan.

Proyek lainnya ialah membuat tempat pensil untuk dimeja. Kali ini dengan menggunakan tripleks yang baru maupun bekas, saya kembali berhasil mengerjakan yang cukup besar. Senang sekali rasanya karena sebelumnya saya sangat ingin memiliki tempat pensil untuk ditaruh di meja itu. Kalau beli yang berbahan akrilik, harganya mahal. Kalau bikin sendiri, rasanya jauh lebih puas. Saat itu, saya sempat membuat laci-laci rahasia di kotak pensil tersebut.

Dari sekian prakarya yang saya kerjakan, hanya satu yang tidak berhasil. Kali ini urusan Seni Rupa. Suatu ketika, materi sampai pada kegiatan mematung. Bahannya kalau tidak salah lem putih dan abu gosok (saya lupa kalau-kalau ada bahan lainnya). Membentuknya harus dibantu dengan kawat. Dan saat itu saya hendak membuat tangan. Sayangnya, hasilnya sama sekali tidak jelas. Mungkin inilah satu-satunya nilai buruk saya untuk pelajaran Seni Rupa.

Selama periode sampai SMP, saya diajarkan berbagai macam hal. Mulai dari menggambar biasa, komposisi warna, meniru gambar yang dikerjakan guru di papan tulis, membuat perspektif, dan sebagainya. Semuanya sangat menyenangkan dan memberikan kenangan tersendiri.

Belakangan saya ingat, saya suka mengumpulkan gambar-gambar yang saya buat kecil-kecil. Semua dirobek sehingga membuat kesan artistik--menurut saya. Mulai dari tokoh-tokoh rekaan saya sendiri, sampai tokoh-tokoh pada permainan Street Fighter. Semua saya taruh pada sebuah map yang kini tergeletak berselimut debu di gudang. Entah masih ada atau tidak ....

__________________

_____________________________________________________________
Peduli masalah bahasa? Silakan bertandang ke Corat-Coret Bahasa saya.