Belakangan aku jarang menemukanibuku menangis. Terakhir kali akumelihatnya menangis adalah beberapa bulan lalu ketika Bapak berkenanmenjenguk kami. Ibu memang wanita rapuh, tapi ia cukup tangguh untuktidak menangis.
Ibu memelukku erat sambil mengelus kepalaku. Ada damai di situ; ada harudi situ. Sejak ibu menganggapkudewasa, beliau teramat jarangmemperlakukanku demikian. Di sela isak tangisnya, ibu mengucapkansepotong kalimat ,"terima kasih."
Terima kasih? Aku tak layak mendapatkannya dari bibir ibuku. Seharusnya akulah yang memohon maaf karena tidak dapat memenuhi harapan ibu persis sama dengan keinginanannya. Keinginan ibu yang sejalan tradisi agung yang begitu dijunjungnya, namun tak sejalan dengan pandangan seoranganak yang tak terlalu paham budayanya.
Beberapa jam sebelumnya, Pakdemenantangku, "Kamu tahu kalau kamusedang 'dilangkahi'? Siap? Apa kamubisa menerima dengan ikhlas?"
Tak perlu waktu lama untukku menganggukkan kepala dan berkata mantap, "Ya. Saya siap. Saya ikhlas lahir dan batin." Mudah bagiku mengatakannya, karena urutan lahir tak harus sama dengan urutan menikah dan meninggalkan rumah. Sulit bagi ibu yang orang Jawa asli; berat bagi Bapak yang hafal betul aturanKejawen. Buat mereka urutan menikah harus sama dengan urutan lahir--terlebih kami tiga bersaudaraperempuan semua.
Ibu dan para kerabat sempat berlomba-lomba mencarikan pasangan buatku agar aku tak dilangkahi. Salut juga aku pada mereka. Tapi aku tak mau seperti Lea yang dinikahi Yakub hanya karena ia lahir lebih dahulu daripada Rahel. Setiap kali aku menbaca kisahnya, aku selalu bertanya apakah ia bahagia. Dan setiap kali pulakusimpulkan bahwa ia tidak bahagia.Maka kali ini aku tak dapat memenuhi permintaan sesepuhku, dan bahkanancaman Bapak.
Aku setuju dilangkahi. Dengan tulusdan ikhlas. Segenap hatiku bahagia; tak ada rasa terpaksa. Yang ada hanya kasih tak terbatas buat adik-adikku yang sudah seperti anak-anakkukarena orang tuaku mempercayakanku ikut membimbing dan mengasuh mereka.
***
Malam ini, aku memandangi adik-adikku. Si kecil yang tak lamalagi duduk di kelas tiga SMU, dan si tengah yang sebentar lagi menikah. Banyak hal yang belum dapat kulakukan buat mereka; namun ada bangga yang menyeruak di dadaku. Bila ada hak kesulungan; tentu adakewajibah kesulungan yang telah coba kujalankan sebatas kemampuanku.TUHAN telah membantuku menjadi kakak, terkadang ibu dan ayah buat mereka ketika Bapak dan Ibu tidak berada di samping kami. IA telah menguatkanku mengirimnya ke bangku universitas hingga lulus dan mendapatkanpekerjaan yang layak. Sekarang, IA mengajarkanku kasih yang tak pernah gagal untuk melepasnya menuju bahtera hidup baru.