Beberapa posting akhir-akhir ini sedang naik daun karena mengeluarkan fatwa sesat dan menyesatkan ala MUI dan dipublikasikan lewat SabdaSapace. Banyak alasan dan kriteria yang disusun untuk mendukung rumusan fatwa tersebut sehingga mulus untuk dipublikasikan dan ramai komentar-komentar yang muncul. Memang ada baiknya jika orang percaya semakin kritis dalam menanggapi perkembangan-perkembangan isu-isu teologia dan keagamaan di sekitarnya, tetapi harus 'fair'. Ingat juga bahwa, di satu sisi para teolog, pendeta dan alim ulama yang dikritik itu adalah pionir-pionir yang terlibat dalam pekerjaan Tuhan untuk pembaharuan dan perubahan serta peringatan; walaupun dengan keterbatasan dan kelamahan yang mereka miliki.
Dalam fatwa-memfatwa ini, aku teringat dengan bacaanku beberapa waktu yang lalu terhadap tulisan seorang Pendeta, yang mengomentari fatwa-memfatwa ini dengan kisah klasik.
Dalam tulisan itu diceritakan,
Sekali waktu Moody sedang berkhotbah dalam sebuah kebaktian. Setelah kebaktian selesai, seorang guru sekolah minggu menghampirinya dan berkata, "Tuan Moody, jika saya tidak bisa memakai bahasa Inggris lebih baik dari Anda, saya tidak akan berbicara di depan umum." Moody yang malang memang salah mempergunakan bahasa Inggris. Khotbah-khotbahnya yang tidak diredaksi memang benar-benar jelek. Tetapi Moody yang memandang wajah guru sekolah minggu itu dengan lembut berkata, "Bu, saya tahu, saya membuat banyak kesalahan." Dan kemudian, dengan rendah hati dan pelan-pelan ia menambahkan, "tetapi saya berusaha sebaik mungkin untuk Yesus dengan apa yang saya miliki. Apa yang dilakukan Ibu bagi Yesus dengan apa yang dimiliki Ibu?"
Pada kesempatan lain seseorang mengecam Moody atas metoda-metoda yang dipakai dalam mengerjakan sesuatu. Jawabannya klasik. Ia berkata, "Saya juga tidak begitu menyukai metoda-metoda itu. Metoda apa yang Anda pakai?" Ketika pengkritik itu berkata bahwa ia tidak memakai sesuatu metoda pun, Moody menjawab dengan tajam, "Kalau begitu, Saya rasa saya lebih menyukai cara saya untuk melakukannya dari pada cara Anda untuk tidak melakukannya".
Tentu saja orang-orang yang tidak melakukan apa-apa biasanya orang-orang yang paling kritis di dunia ini. Itu karena mereka mempunyai banyak waktu. Mereka tidak terlibat dalam kegiatan yang berarti dan karena itu mereka dapat duduk bermalas-malasan dan mencari kesalahan-kesalahan orang lain yang bekerja. Ingat, Yesus menyebut "seorang yang memiliki satu talenta itu" sebagai orang yang tidak berguna. Karena dia tidak melakukan apa-apa, maka ia juga tidak berharga.
Submitted by
Gedalia Lynch
on