Hari ini saya dan istri duduk di beranda, mengamati lembaran-lembaran gambar Tara Lynn, seorang foto model terkenal. Model yang terkenal bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena dia berbeda dengan model-model lain.
Hari ini Tara Lynn muncul dalam sebuah majalah wanita populer, Elle, khusus di edisi yang diterbitkan di negara Perancis.


Sudah puas menatapnya?
Ijinkan saya melanjutkan cerita saya.
Perbincangan saya dan istri terseret sampai ke masa lalu, di mana saya dan dia pertama kali bertemu. Seorang gadis yang cantik, demikian pikir saya. Obrolan pertama kita sudah berisi dengan argumentasi.
"Cantik" kata saya mengomentari cover sebuah majalah yang dia beli
"Yup, orang cantik pake baju apa saja memang bakal pas. Orang jelek mau pake baju jelek pun bakal tetep jelek."
Wow. Repons yang tidak biasa dari orang yang baru pertama kali berkenalan. Biasanya komentar seperti ini diucapkan seorang wanita untuk membangun tembok buat siapa pun yang mendekatinya. Kalau banyak pria yang mencoba menghancurkan tembok-tembok tersebut dengan susah payah, saya malah terbalik. Saya terbiasa dengan meloncati tembok tanpa perlu tangan dan hati sakit.
"Kecantikan hanya sebatas kulit ari. DIbawahnya cuma daging dan tulang. Mungkin juga banyak cacing kremi." Sahut saya untuk melihat responsnya
Saya lihat matanya menatap saya sepersepuluh detik, seakan tidak percaya apa yang dia dengar. Setelah itu dia hanya tersenyum dan membuang muka. Hahaha. Di keningnya seolah ada tulisan besar-besar "He's not a typical guy."
Pembicaraan antara saya dan dia pertama kali tersebut erat kaitannya dengan feminisme. Memang tidak terlihat jelas. Tapi saya dan dia tahu bahwa kami sedang beradu jurus dan mengadu ilmu walaupun orang-orang melihat kami berdua hanya tersenyum dan terlihat mengobrol seperti biasa. Dan itu diakuinya ketika kami akhirnya resmi berpacaran.
Feminisme merupakan topik yang digandrungi banyak orang, bahkan tak jarang dikotbahkan di dalam gereja. Buat saya, feminisme hanyalah alat seperti pisau. Dipakai untuk tujuan yang benar bisa jadi berguna. Dipakai untuk tujuan yang kelliru bisa masuk penjara. Feminisme di awal sejarahnya, telah berupaya dan berhasil mengangkat harkat dan martabat wanita menjadi sama dengan pria.
Pada saat yang sama, feminisme tidak jarang menjadi feminisme yang kebablasan. Bablas dalam mempengaruhi pikiran wanita. Bablas dalam mempengaruhi cara pandang pria. Mungkin anda menolaknya, karena anda pikir feminisme tidak berarti apa-apa di dalam hidup anda. Pada kenyataannya, feminisme ada di mana-mana. Di majalah, di televisi, di koran, di internet, bahkan dalam pembicaraan sehari-hari, tanpa orang mesti menyebut-nyebut feminisme.
Seperti gambar Tara Lynn di atas.
Banyak orang yang menyayangkan kenapa seorang wanita berwajah cantik tapi bertubuh gemuk. Bahkan bisa menjadi model di sebuah majalah kelas dunia. Justru itu adalah akibat feminisme. Efek samping yang menakutkan. Feminisme yang awalnya terasa manis seperti buah apel, khasiatnya malah bisa membabi buta seperti makan buah plum, yang bisa membuat orang mencret sepanjang hari.
Bagaimana kita bisa menentukan apakah seseorang cantik atau tidak? Dari kesimetrisan wajah. Dari warna kulit yang cerah. Dari lekuk tubuh yang ditampilkan, tidak ada lemak di mana-mana. Bukankah semuanya itu hasil dari media yang selama ini membombardir masyarakat dengan standar yang mereka tawarkan? Masyarakat akhirnya percaya bahwa cantik itu yah seperti itu. Tapi sesungguhnya tidak ada definisi cantik, karena menurut kata orang,"beauty is in the eye of beholder". Cantik adalah tergantung yang melihat. Jadi kecantikan adalah relatif. Pintarnya media, mereka bisa mempengaruhi persepsi audience. Sehingga lambat laun definisi kecantikan ditentukan oleh media, bukan ditentukan oleh setiap pribadi.
Itulah sebabnya di awal saya katakan bahwa feminisme memmpengaruhi wanita. Karena kesamaan derajat, harkat dan martabat, wanita akhirnya bersaing antara sesamanya, untuk mendapatkan pengakuan sebagai yang terbaik. Lihat betapa banyaknya alat dan bahan kosmetik yang dijual di toko-toko. Semuanya itu ditawarkan supaya wanita bisa tampil menarik. Alat, bahan, dan aksesoris yang sangat banyak, jumlahnya jauh melebihi aksesoris pakaian yang dimiliki oleh kaum pria. Melihat kenyataan itu, media juga tidak mau kalah. Mereka menyodorkan model-model yang berkulit terang, berambut pirang, memiliki postur tinggi, dan bermata bulat dengan kelopak mata yang terbuka lebar. Puluhan tahun berikutnya, karena semakin banyak yang menyadari bahwa media mempengaruhi masyarakat dalam memandang kecantikan, pelan-pelan media berubah arah. Yang berambut hitam ditawarkan. Yang berkulit gelap ditampilkan. Yang bermata sipit juga sekarang bisa menjadi model. Yang bertubuh gemuk, bahka gendut seperti Tara Lynn, akhirnya menjadi model. Media menentukan mana yang baik dan buruk buat masyakarat, bukan sebaliknya.
Tidak berhenti sampai situ, feminisme juga membuat kaum pria mencret sepanjang hari. Mitos kecantikan wanita yang ditawarkan oleh media, dimakan habis-habisan oleh kaum pria. Lihatlah kaum pria yang mengemis cinta dari seorang wanita yang menurut banyak kaum pria adalah wanita yang cantik. Begitu menjijikkan. Menawari hadiah, menawari kebaikan semu, antar jemput setiap hari, hanya untuk bisa mendengar si wanita akhirnya bilang, "I love you."
Itulah yang terjadi setelah kami berdua berkenalan, dan kemudian berpacaran.
Sang pacar bertanya,"Kenapa sih kamu beda dari laki-laki kebanyakan yang terus menerus mengejar saya?"
"Beda. Karena saya pintar, dan mereka bego." Jawab saya seadanya
Dia tertawa. Anehnya, dia malah bertanya kenapa saya bilang mereka bego.
Bego, itu suatu kata yang definite. Begitu kata saya. Bego, karena saya juga dulu sama seperti mereka, mengejar cinta seorang wanita, yang akhirnya pupus begitu saja karena termakan ilusi cerita-cerita novel dan film-film murahan produksi Hollywood. Bego, karena saya pikir dengan promosi bahwa saya baik, rendah hati, paling baik sedunia, dan royal tanpa malu-malu membelikan ini itu, saya akan mendapatkan respons yang baik, bahwa saya akan balik dicintai. Ternyata kenyataan berbicara sebaliknya.
"Jadi," kata sang pacar menginterupsi,"kamu mendekati saya dengan cara tidak mendekati saya. Begitu ya?"
Saya mengangguk.
Dia tersenyum.
Sebagai seorang feminis, dia tentu tahu langkah saya tersebut adalah langkah yang pintar. Seorang wanita yang cantik tentu akan didekati oleh banyak pria. Umumnya pria akan melakukan trik yang sama: Menawarkan kebaikan semu, sampai akhirnya mendapatkan cinta dari si wanita. Kalau dengan pakai trik itu, semua toko dan mall juga menggunakan trik yang sama. Nothing new. Perilaku manusia bisa ditebak dengan mudah. Tidak butuh kepintaran untuk bisa menebak kemunafikan kaum pria yang menjijikkan. Hanya butuh seorang wanita cantik yang bisa mempelari itu semua dengan cepat.
Akhirnya timbul supply and demand di lapangan. Banyaknya pria yang mendekati (demand) timbul karena tidak banyaknya wanita yang cantik yang tersedia (supply). Cantik menurut definisi media. Cantik menurut persepsi umum. Cantik menurut opini publik. Fenomena ini merupakan salah satu efek samping dari feminisme. Inilah yang menyebabkan di jaman sekarang ini, semakin banyak orang susah dan bahkan enggan menikah. Tidak seperti jaman dulu, menikah itu mudah sekali. Hari ini ketemu, besok menikah. Lima puluh tahun kemudian sudah punya anak cucu.
"Jadi,"kata sang pacar,"Pria-pria lain yang mencoba mendekati saya terus sebenarnya cuma berlagak seperti pangeran yah, padahal aslinya mereka itu cuma pengemis. Belagak baik, padahal busuk. Belagak kaya, padahal miskin. Belagak rendah hati, padahal cuma untuk mau dipacari. Belagak mau antar-jemput, padahal cuma mau bibir untuk diseruput."
"Orang pintar adalah orang yang mau belajar" Tukas saya sambil mengusap-usap rambutnya
"Wah kalau begitu, selama ini kamu tampil seperti pengemis, padahal sebenarnya kamu adalah pangeran yang menyamar. Yang tidak pernah melakukan hal-hal istimewa untuk kekasihnya, seperti memberikan bunga, atau cincin berlian, atau kalung permata, atau sebongkah emas, karena semuanya itu disimpan setelah dia menikah dengan kekasihnya." Kata sang pacar dengan pelan sambil tersenyum. Senyum yang misterius.
Gantian saya yang tertawa.
"Kamu terlalu pintar." Kata saya sambil terus tertawa
"Kok?"
"Iya. Itu kan wishful thinking kamu aja. Gak ada juga yang mau nikah sama kamu. Apalagi kasih cincin berlian dan kalung permata." Saya tertawa lepas sambil melangkah menjauhinya
"Sialan kamu!" Teriaknya sambil melempar sendal yang dipakainya ke arah saya.
Sekarang kami telah menikah.
Feminisme sudah ada puluhan tahun. Diteriakkan orang. Dibenci orang. Bahkan tidak jarang membuat wanita menjadi misandry, dan tidak sedikit kaum pria yang anti feminisme karena dari awalnya mereka adalah misogyny. Di tengah keramaian orang-orang yang membicarakan Tara Lynn yang ada di majalah Elle, dan di tengah perdebatan orang-orang mengenai pro dan kontra feminisme, kami berdua duduk di beranda, menikmati udara senja sambil menyantap buah apel dan plum yang kami baru beli dari pasar tadi pagi.