Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

First Love (Kasih Mula-Mula)

Joseph Wise Poriman's picture

Semua orang Kristen yang lahir baru pasti pernah mengalami yang namanya kasih mula-mula. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu kasih kita kepada Tuhan juga bisa luntur dan di hadapan Tuhan itu adalah satu kejatuhan yang besar. Tak peduli apapun yang sedang kita hadapi saat ini, satu hal yang perlu kita lakukan adalah : bangkitlah, raih kembali kasih mula-mula itu kembali. Sebab apa artinya kita mengikuti Tuhan tanpa kasih yang mula-mula ? Apa artinya kita melayani Tuhan tanpa disertai dengan kasih ? Tuhan ingin kita mengasihi DIA dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan kita. Tuhan ingin kita memprioritaskan DIA dari segalanya ....                                             

                                                        
Wahyu 2 : 4 " Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."  

Saudara-saudari yang kekasih dalam Kristus...

Ayat ini ditujukan Tuhan kepada jemaat di Efesus yang pada waktu itu sudah kehilangan kasih yang semula atau kasih yang mula-mula. Saudara-saudari yang kekasih, kalau kita membaca Wahyu fasal 2 : 1-7 maka kita akan mengetahui ternyata jemaat di Efesus adalah jemaat yang berjerih lelah dalam  pelayanan Tuhan, dan jemaat begitu tekun melakukan pekerjaan Tuhan.

Jemaat di Efesus merupakan jemaat yang cinta Tuhan dan rela berkorban. Mereka mencintai kebenaran dan mereka memiliki roh membedakan sehingga mereka bisa menguji mana rasul yang asli atau bukan. Mereka begitu giat dan berjerih lelah dalam melayani Tuhan. Jemaat yang mereka gembalakan bisa jadi sangat berkembang sehingga mereka begitu giat dan sibuk mengerjakan visi Tuhan. 

Tetapi sekalipun demikian, Tuhan mencela mereka, kenapa ? Hanya karena satu hal, itulah kasih mula-mula. Ternyata jemaat di Efesus sudah kehilangan kasih yang mula-mula, dan Tuhan katakan itu satu kejatuhan bahkan dikatakan kejatuhan yang paling dalam ( Wahyu 2 : 5a “ Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh ! “ )

Lalu apakah yang dimaksud dengan kasih yang mula-mula itu? Dalam versi King James, kasih yang mula-mula ditulis dengan kata 'first love'. Kasih mula-mula adalah kasih yang kita miliki dan dan kita rasakan ketika kita baru mengalami pertobatan atau kelahiran baru. Semua orang Kristen yang mengalami pertobatan sejati pasti akan mengalami kasih yang mula-mula ini. 
 

Saat kita memiliki kasih mula-mula, kita begitu bersemangat dan berkobar-kobar bagi Tuhan. Setiap hari rasanya begitu penuh sukacita dan ingin memuji Tuhan selalu. Kemanapun kita pergi maka kita akan menyaksikan kebaikan dan kasih Tuhan kepada orang lain. Kita ingin orang lain juga bisa merasakan kebahagiaan yang kita alami saat itu.

Mungkin dulunya jemaat di Efesus pernah mengalami indahnya kasih yang mula-mula dan api kebangunan rohani yang luar biasa. Tetapi sekarang mereka sudah kehilangan kasih itu. Memang sekarang mereka tetap mengerjakan pelayanan Tuhan dengan tekun, tetapi mereka melakukan semuanya itu tanpa kasih. Tanpa sadar mereka melakukan pelayanan itu semata-mata karena program dan tuntutan manusia semata-mata ataupun karena sebuah kewajiban. Mereka tidak menempatkan hubungan dengan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup mereka. Mungkin mereka masih setia mencari wajah Tuhan, memiliki jam-jam doa dan melakukan saat teduh dengan Tuhan, tetapi semua itu bukan lahir dari kasih mereka kepada Tuhan melainkan hanya sekedar menunaikan kewajiban saja. Banyak gereja masa kini yang  keadaannya sama dengan jemaat di Efesus ini. Hati-hati, bila tidak bertobat maka Tuhan akan mengambil kaki dian kita.

Adakah diantara kita yang sudah kehilangan kasih yang mula-mula?

Apakah saudara merasa tidak ada sukacita lagi dalam mengikuti Tuhan? Mungkin saudara adalah seorang pelayan bahkan seorang Hamba Tuhan. Di hari minggu saudara melayani sebagai song leader atau berkotbah sebagai seorang pendeta atau guru sekolah minggu tetapi kehidupan rohanimu kering, haus dan kosong. Orang kristen yang melayani tanpa kasih mula-mula akan mudah merasa kering dan mudah putus asa dalam pelayanan dan dalam hidupnya. Saudara sibuk dengan segala bentuk pelayanan tetapi apa artinya kalau tanpa kasih mula-mula ? Satu hal yang perlu kita ketahui : Pelayanan kita tidak dapat menggantikan kasih kita kepada Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah kasih kita kepadaNya, yang Tuhan rindukan adalah pelayanan yang didasarin oleh kasih kita kepadaNya.

Hal utama yang dituntut Tuhan dari kita adalah menempatkanNya sebagai prioritas utama. Kita harus mengasihiNya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan kita, sebab ini merupakan hukum yang terutama.

Saudara-saudari yang kekasih dalam Kristus, Tuhan tidak mau kita terpuruk dalam kejatuhan yang dalam. Tuhan mau mengangkat kita keluar dari lobang kejatuhan itu. Itu sebabnya bagi kita yang sudah kehilangan kasih yang mula-mula, ada 2 solusi yg Tuhan berikan :

Wahyu 2 : 5b “ Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. “

1.Bertobat. Bertobat dan berbalik dari kejatuhan kita, dan segera kembali kepada Tuhan.

2. Lakukan kembali apa yang sudah pernah kita lakukan.

Apa yg sudah pernah saudara lakukan dulunya ? Mungkin dulu saudara suka mencari wajah Tuhan, bersekutu dengan Tuhan, berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa-doa kita, memiliki jam-jam doa, bahkan kita suka berdoa sampai berjam-jam lamanya, menyembah Tuhan dan merasakan hadiratNya, membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Dan semuanya itu kita lakukan karna didorong oleh kobaran api kasih yang ada dalam hati kita, dalam hati kita ada satu gairah yag luar biasa, rasanya ada nyala api dan kobaran api yang tidak bisa dipadamkan oleh apapun, kita ingin mengasihiNya di setiap saat dan setiap waktu, dan kita ingin menyenangkan hatiNya di dalam setiap hal, begitulah kasih mula-mula yg kita miliki saat pertama kita mengenal Tuhan, saat kita dibaptis dan dipenuhi oleh Roh KudusNya. Tapi kini semuanya sepertinya sudah tinggal nostalgia…semuanya sudah berlalu…semuanya sudah berakhir…

Oh kalau itu yg sedang saudara alami saat ini, Tuhan mencela itu adalah satu kejatuhan, bahkan disebutkan kejatuhan yang paling dalam ! Mari, bangkitlah, kita memohon supaya Roh Kudus sekali lagi membaharui kasih kita, dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu, kita perlu memohon supaya Roh Kudus yang memberi kita kekuatan dan membaharui kasih kita kembali sehingga kita akan memiliki kasih itu kembali. Kita akan mengerjakan kembali apa yg sudah pernah kita kerjakan dahulu, dan itu didasarin karna kita mengasihi Tuhan.

Sebab sebenarnya Tuhan selalu terkenang dan teringat kepada kasih mula-mula yang pernah kita berikan kepadaNya, Tuhan selalu mengingatnya dan Tuhan selalu menantikan kita untuk bisa kembali meraih kasih mula-mula yang mungkin sudah sempat hilang dari hidup kita. Saudara, kasih mula-mula itu sungguh luar biasa sampai-sampai Tuhan tidak dapat melupakannya, Tuhan selalu mengingatnya.

Yeremia 2 :2b “ Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. “

Begitu luar biasa kasih mula-mula itu, sekalipun keadaan yang sedang dihadapi itu bagaikan padang gurun, negeri yg tiada tetaburannya, tidak ada yang bisa ditabur apalagi menuai ? Kalau tidak ada yang bisa ditabur berarti otomatis tidak ada juga yang bisa dituai. Tetapi sekalipun demikian kehidupan itu masih tetap bisa mengasihi Tuhan, kasihnya tak tergoyahkan oleh situasi yang ia hadapi. Kasih yg demikianlah yang akan selalu Tuhan ingat.

Tuhan katakan :  Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, itulah kasih mula-mula yang kita miliki yang akan selalu Tuhan ingat. Sebab kasih mula-mula itu bagaikan kasih seorang pengantin, kasih yang begitu luar biasa, yang begitu bergairah, penuh semangat dan tak dapat dihalangi oleh apapun termasuk oleh kesulitan hidup ini. Sekalipun padang gurun, itu bukan masalah bagi seorang pengantin untuk memberikan kasihnya kepada belahan jiwanya. Dan itulah yang Tuhan kehendaki dari kita untuk tetap memiliki kasih yang demikian.

Berbicara soal negeri yang tiada tetaburannya kita teringat kepada Naomi. Naomi pernah mengalami ini.

Rut 1  : 1-2a “ Pada zaman pada hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi…”

Kelaparan yang dihadapi Elimelekh dan Naomi itu bagaikan negeri yang tiada tetaburannya, tidak ada yang bisa ditabur dan dituai, tidak ada makanan, krisis makanan. Sayang sekali, karena situasi yang sulit itu membuat mereka meninggalkan Betlehem dan pergi ke negeri Moab. Sungguh disayangkan, jangan hanya karna persoalan hidup ini, hanya karna persoalan sandang pangan membuat kita meninggalkan Tuhan. Justru di saat kita menghadapi kesukaran hidup ini, di saat itulah iman kita sedang diuji apakah kita akan tetap mengasihi Tuhan ? Apakah kita akan tetap memiliki kasih yang mula-mula itu saat diperhadapkan pada kesulitan hidup ini ? Apakah hati kita masih berkobar-kobar untuk mengasihi Tuhan ? Apakah kita akan tetap setia mengikuti Tuhan ?

Tetapi Naomi tidak bisa mempertahankan kasihnya, karena kelaparan itu akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Betlehem dan menetap di daerah kafir, itulah daerah Moab. Moab itu menunjuk pada dunia, ini bagaikan seseorang yang mengalami kesulitan hidup, kasihnya mulai luntur dan sampai pada satu titik terendah kehidupan itu mulai meninggalkan Tuhan dan  berbaur dengan dunia. Akibatnya Naomi mengalami banyak kepahitan dalam hidupnya. Sesampai di Moab, suaminya mati, kedua anaknya juga mati. Ia meninggalkan Tuhan hanya karena persoalan makanan, seharusnya ia harus percaya sepenuh pada kuasa Tuhan yang sanggup memelihara kita. Sebab arti dari Betlehem adalah rumah roti, itu berarti ada roti yang disediakan Tuhan, sekalipun ada kelaparan, Tuhan  sanggup memelihara kita, sebab Dia adalah Jehovah Jireh yang sanggup menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan termasuk soal makanan. Terbukti sewaktu di Moab Naomi mendengar bahwa Tuhan sudah memberikan makanan kepada umatNya.

Rut 1 : 6 “ Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umatNya dan memberikan makanan kepada mereka. “

Sekarang Naomi memutuskan untuk kembali ke Betlehem, tetapi kini ia pulang bukan lagi sebagai Naomi yang artinya manis atau kesukaan, tetapi sebagai Mara yang artinya pahit, susah atau sedih hati. Sebab ia sudah mengalami banyak kepahitan di saat ia meninggalkan Betlehem.

Rut 1 : 20 “ Tetapi ia berkata kepada mereka : “ Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. “

Saudara yang kekasih, jangan sesekali kita kehilangan kasih kita dan meninggalkan Tuhan hanya karena persoalan hidup ini. Sebab di luar Tuhan  yang ada hanyalah kepahitan, kekecewaan, kesusahan. Bahkan dikatakan dalam ayat 21 “ Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. “ Naomi kehilangan segala-galanya, apa yang dia miliki ketika ia berangkat ke Moab, semuanya sudah tidak ada lagi, sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Mungkin saudara dulunya adalah seorang pengusaha yang punya bisnis dan usaha tetapi sekarang semuanya habis, ludes, tidak ada lagi. Saudara, satu hal yang perlu dikoreksi : Apakah kita setia mengikuti Tuhan ? Apakah kita masih tetap mengasihi Tuhan ? Mungkin dulunya hidup kita cukup dan serba ada tetapi sekarang kita hidup dengan serba kekurangan. Mari koreksi kasih kita terhadap Tuhan, apakah kasih itu masih kita miliki ?

Saudara yang kekasih, tetaplah setia mengikuti Tuhan walau apapun yang terjadi toh Tuhan bisa membuka jalan, akhirnya Betlehem kembali dipenuhi dengan kelimpahan makanan. Kesusahan yang kita alami mungkin hanya merupakan ujian bagi kita apakah kita bisa tetap mengasihi Tuhan dengan kasih yang mula-mula saat goncangan itu datang ?

Kalau Naomi tidak bisa mempertahankan kasihnya, tetapi berbeda dengan Rut. Rut, perempuan kafir, bangsa Moab tetapi kasihnya luar biasa. Kita juga bukan Israel sejati,  kita ini bangsa kafir yang sudah mendapat kemurahan untuk menerima keselamatan  yang dari Yesus Kristus. Untuk menyelamatkan kita dari dosa Tuhan sudah membuktikan kasihNya di atas kayu salib, bagaimana dengan kasih kita, apakah kita juga mengasihi Tuhan ?

Kasih Rut pernah diuji oleh Naomi, Naomi terus mendesak Rut untuk kembali kepada bangsanya, tetapi tekad  Rut sudah bulat, ia tetap ingin mengikuti Naomi pulang ke Betlehem. Kasihnya tidak dipengaruhi oleh situasi yang sedang ia hadapi, padahal saat itu ia sudah kehilangan suaminya, apa yang bisa dijanjikan oleh seorang Naomi yang sudah begitu tua, yang sudah tidak mungkin bisa melahirkan anak laki-laki baginya, sekalipun bisa masakan Rut akan menunggu sampai mereka dewasa ? ( Rut 1 : 12-13 ).

Sekalipun Orpa, iparnya sudah kembali kepada bangsanya, tetapi Rut tidak tergoyahkan, pendiriannya tetap, kasihnya bulat, imannnya teguh, tak tergoyahkan. Sekalipun saat itu ia punya alasan yang sangat kuat untuk pulang ke Moab, untuk tidak mengikuti Naomi tetapi Rut justru dengan tegas berkata :

Rut 1 : 16-17 “ Tetapi kata Rut : “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab kemana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan dimana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; dimana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. "

Luar biasa ! Saudara, kasih yang demikianlah yang Tuhan dambakan dari kita dan akan Tuhan ingat selalu! Kalau kita berani membayar harga untuk setia mengikuti Tuhan, untuk setia mengasihi Tuhan, maka Tuhan juga tidak akan pernah mengecewakan kita. Kita lihat akhir hidup dari Rut, ia diberkati Tuhan, hidup nikahnya diberkati Tuhan, akhirnya Rut menikah dengan Boas, seorang yang kaya raya dan mereka melahirkan seorang anak yang bernama Obed.

Nama Rut bahkan tercatat dalam silsilah Yesus Kristus dalam Injil Matius  1 : 5 “ Salmon memperanakkan  Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai. “

Nama Rut masih tercatat dalam injil Matius, artinya kisah Rut tidak hanya terhenti sampai di kitab Rut saja, tetapi Tuhan selalu mengingatnya, karna apa ? Karna kasih yang ia miliki. Tuhan selalu teringat akan kasih yang dimiliki oleh Rut. Tuhan selalu teringat akan kasih yang kita berikan kepadaNya, dan Tuhan tidak pernah mengabaikan orang yang sungguh-sungguh mengasihiNya, amen sdr ?

Tetapi berbeda dengan Orpa. Kisah Orpa terputus dan terhenti hanya sampai pada Rut 1:14 “ Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, “

Sejak Rut 1:14  maka nama Orpa tidak pernah disinggung lagi, kisahnya hanya sampai di situ saja, namanya tidak pernah lagi disebutkan dalam Alkitab. Saudara, jangan sampai nama kita yang sudah tertulis di Kitab Kehidupan terhenti sampai detik ini saja hanya karena kita kehilangan kasih yang mula-mula. Mari kita pertahankan nama kita tetap ada dalam Kitab Kehidupan Tuhan sampai kita bertemu dengan Bapa, sampai Tuhan datang kembali pada kali yang kedua. Mari kita membuat Tuhan terkesan dan tertarik dengan kisah kehidupan kita lewat kita tetap mempertahankan kasih kita kepadaNya. Walau goncangan datang, walau kesulitan hidup datang menghadang, apapun persoalan hidup yang terjadi, mari kita tetap setia mengikuti dan mengasihi Tuhan sehingga tak dapat tidak Tuhan juga pasti akan membela dan memberkati kita !

Mari, milikilah kasih mula-mula itu kembali, seperti Rut yang tidak mengenal kata putus asa dan menyerah pada keadaan hidup, dan Tuhan terkesan sehingga itu menarik hati Tuhan untuk memberkati masa depan Rut. Hal yang sama juga akan terjadi, Tuhan akan memulihkan hidup kita asalkan kita memiliki kasih itu kembali.

Seperti yang terjadi pada kehidupan Petrus yang tercatat dalam Yohanes 21, dimana Petrus sempat kehilangan kasih mula-mula yang ia miliki. Seperti Naomi yang pergi ke Moab, Petrus juga sempat meninggalkan kasihnya yang mula-mula untuk kembali menjadi seorang nelayan. Tetapi tidak ada ikan yang ia dapatkan, malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.Sebab di luar Tuhan sungguh kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dan saat itu Tuhan Yesus datang kepadanya dengan memberi tiga pertanyaan yang sama : “ Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini ?

Tiga kali Yesus bertanya kepadanya : Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini ? Pertanyaan yang diberikan Tuhan Yesus telah menyadarkan Petrus bahwa ia harus memiliki kembali kasih mula-mula itu. Akhirnya dengan hati yang terharu, Petrus menjawab : Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.

Tiga kali Petrus menjawab : Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau. Hati Petrus sudah dibulatkan untuk tetap mengasihi Tuhan sampai kapanpun. Dan sejarah menuliskan akhir hidup dari Petrus, ia rela mati bagi Tuhan bahkan ia berkata ia tidak layak disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhan Yesus, akhirnya ia disalibkan dengan terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Begitulah kasihnya pada Tuhan.

Apakah saudara mengasihi Tuhan ? Seperti Rut yang begitu mempertahankan kasihnya walau ia punya alasan yang kuat untuk kembali pada kehidupan lama ?                   

Apakah saudara mengasihi Tuhan ? Seperti Petrus yang dengan mantap menjawab : Benar Tuhan, aku mengasihi Engkau.      

Sekali lagi : “ Apakah saudara mengasihi Tuhan ? “  Tuhan sedang menantikan jawabanmu saudara….

Mari bangkitlah, dan raih kembali kasih kita yang sudah sempat hilang itu…

Haleluyah ! Tuhan Yesus memberkatimu…

Salam dalam Kristus,


Joseph Wise Poriman

theis's picture

mencari kasih yg mula-mula

Tulisan bang Joseph pas sekali sama yg sedang aku rasakan. Sekarang aku sedang mencari kasih mula-mula yg aku rasakan waktu pertama kali kenal Tuhan Yesus, tp kok susah sekali ya, rasanya ada yg kurang........kira2 apa ya? Harus dicari kemana lg?
Joseph Wise Poriman's picture

ada dalam ruang hatimu kok

mo nyarik kasih mula-mula ...?

oh... ga perlu daki gunung kok...

ga perlu turun lembah....

cukup ngeliat ke dalam hatimu saje....

end silahkan nyarik ke satu ruang yang selama ini sudah kosong

yg selama ini sudah lama ga ditempati....

dan di ruang kosong itulah kasih mula-mula itu berada....

met mencarinya....

moga ketemu ya....

dag.... 

dennis santoso a.k.a nis's picture

dear theis...

dear theis,

coba dipastikan dulu kondisi kamu.

apakah kamu benar2 "kehilangan kasih yang mula2" seperti bacaan di atas, atau kamu hanya sekedar masuk ke periode "padang pasir" saja?

hal ini penting untuk dipastikan karena respons yang diharapkan dari kamu akan sedikit berbeda antara kedua kemungkinan tadi.

good luck ^^)

 

ps. i miss ur post :)

pyokonna's picture

jaga

klo ak buat ngejagain "perasaan" itu biasanya baca kesaksian-kesaksian, baik dari buku ato internet..klo baca kesaksian bnr2 nyiram ak dan ngingetin ak tentang kasih mula2
__________________

We can do no great things; only small things with great love -- Mother Theresa

Joseph Wise Poriman's picture

tambahan

dear pyokonna,

klo blh gue kutip dari pengalaman pribadi gue, rasanya ga cukup ya klo hanya baca kesaksian org lain, klo blh gue tambahkan : yg terpenting hub pribadi kita ama Tuhan, jgn nyampei hub pribadi kita ama Tuhan terputus oleh karena byknya kesibukan, sebab itu bisa merebut kasih kita untuk Tuhan.

Jaga sll kasih itu lewat memiliki saat teduh yg continue, maka kamu pasti akan merasakan kasih itu masih tetap ada di hatimu. Dan akan byk pengalaman yg kamu alami, kesaksian2 yg membangun dan menjadi  berkat.

God bless ya !   

Joseph Wise Poriman's picture

Hi Frend ?

 Hai sobat sekalian...

Jangan lupa kalau kita ini bagaikan sebuah pensil yang tidak akan berhenti menulis....

Ada sejuta pembaca yang sedang menunggu tulisanmu, oke?

Dan aku,          

Aku juga tidak akan berhenti menulis dan menulis

Aku akan menulis...

dan menulis...                                                                         

                                                                                                            Menuliskan segala kebaikan Tuhan.      

Sebab hidupku bagaikan sebuah  pensil.                                                                                                Pensil yang tak akan lekang dimakan waktu.

Pensil yang akan terus menuliskan cinta dan kasih Tuhan serta segala kebaikanNYA.

God bless ya !

garamdunia's picture

Menjalani 'Padang Pasir'

Dari pengalaman saya sendiri, terus terang, saya cukup mengalami kesulitan dalam membedakan antara 'kehilangan kasih mula-mula' atau 'padang pasir' seperti yang saudara Dennis sebutkan.

Dari mengamati saudara seiman di sekeliling saya (dan saya sendiri), masa 'padang pasir' ini justru seringkali disebabkan oleh 'semuanya sedang baik-baik saja'.

Saya rasa kita hanya bisa setia dalam berlari di dalam pertandingan keimanan kita ini. Ya, berlari = kerja keras:

"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" 1 Korintus 9:24

Untungnya, kita tidak berlari sendiri:
"Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita" Ibrani 12:1

Joseph Wise Poriman's picture

Garam dunia

hai garamdunia,

Yesus berkata dalam Matius 5 : 13 " Jika garam itu menjadi tawar, dgn apakah ia diasinkan ? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. "

Apa artinya garam kalau tidak ada rasanya lagi ?

Apa artinya ikut Tuhan tanpa disertai kasih ?

Apa artinya kita melayani tanpa dibarengi perhentian ? Bagaimana kita bisa setia berlari dlm mengikut Tuhan sedang kita sendiri tidak setia untuk mencari kehendakNya ? Bagaimana kita bisa mengetahui kehendakNya kalau kita sendiri tidak punya waktu untuk mencari hadiratNya ? 

Coba introspeksi diri : sudahkah kita merasakan hadiratNya ? Klo belun berarti kita masih dalam suasana 'padang pasir' dan itu tandanya kita sudah kehilangan kasih yg mula2... 

Klo itu yg terjadi, silahkan kita benahi diri...

Tidak hy teman-teman, terlebih-lebih diri saya sendiri..

 

Salam,

jo

hai hai's picture

KASMARAN = Kasih mula-mula

Ketika pacaran, hatiku berdebar-debar penuh irama. Tak peduli macet, atau hujan apalagi cape. terjang terus, dan itu semua bukan masalah, tak terasa sebagai beban. Cinta terasa indah.

Saat ini, pacarku tlah menjadi istriku. Kami tinggal satu rumah, tidur satu ranjang, bahkan satu selimut. Sering sekali kami makan dari satu piring dan minum dari satu gelas. Tapi perasaan yang kualami seperti waktu pacaran, entah hilang kemana?

Apakah aku telah kehilangan cinta mula-mulaku pada istriku? apakah aku telah menghkhianati istriku karena tidak mencintainya seperti waktu pacaran?

Kasmaran,

itu yang biasanya para suami istri lupakan.

Kasmaran,

itu yang biasanya para suami istri rindukan

Kasmaran,

perasaan indah ketika kita bersama seseorang

perasaan indah ketika kita melakukan sesuatu dengan seseorang

bukan cinta mula-mula

Kasmaran,

setiap hari aku berlatih kasmaran pada istriku

setiap hari aku berlatih kasmaran pada Tuhanku

Kasmaran,

wow ...

salam

hai hai

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Bin Nun's picture

nyalakan lagi Api-Nya

nyalakan lagi Api-Nya di dalammu... lewati segala rintangan... biarkan Roh Kudus tetap menyala... dan membakar iman percayamu... BIG GBU
Joseph Wise Poriman's picture

Roma 12 : 11

Akhir zaman ini banyak kasih yang akan menjadi dingin. Jangan biarkan api kasih itu padam dari hati kita semua. Jaga dan pelihara terus kasih kita kepada Tuhan, jangan sampai redup apalagi sampai padam. Untuk itu kita perlu membaca Roma 12 : 11 "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. " Amen ?
fajarsh's picture

Rindu kembali pada kasih saat berjumpa dengan Yesus...

Sudah lama sekali sejak 29 April 1989, saat kuundang Yesus masuk ke dalam hati saya.

Saat kita memiliki kasih mula-mula, kita begitu bersemangat dan berkobar-kobar bagi Tuhan. Setiap hari rasanya begitu penuh sukacita dan ingin memuji Tuhan selalu. Kemanapun kita pergi maka kita akan menyaksikan kebaikan dan kasih Tuhan kepada orang lain. Kita ingin orang lain juga bisa merasakan kebahagiaan yang kita alami saat itu.

tapi sekarang....

Tapi kini semuanya sepertinya sudah tinggal nostalgia…semuanya sudah berlalu…semuanya sudah berakhir…

Tuhan tolong saya....saya mau mengasihiMU.


 

fajarsh's picture

Sudah ku-dapat sayang

Sudah ku-dapat sayang Tuhan, 
meskipun banyak 'ku beraib. 
Me-li-hat i-tu a-ku heran 'kan kasih sayang yang ajaib. 
T'lah a-ku tahu karu-ni-a, ser-ta memu-ji rahmat-Nya. 

Jikalau Allah hitung congkak 
dan kekerasan hatiku, 
tentu 'ku patutlah ditolak 
jauh dari Pohon Hidupku. 
Tetapi, lihat sayang -Nya: 
t'lah aku diterima-Nya! 

Jikalau orang lain bertanya: 
"Di mana pokok s'lamatmu?" 
Kujawab: "Sungguh, itu 
hanya belas kasihan Tuhanku." 
'Ku tunduk dengan tak menggah 
melainkan akan rahmat-Nya. 

Ya Tuhan, jangan ambil berkat 
karunia dari padaku, 
dan pimpin aku sampai tamat 
ke pintu rumah s'lamat-Mu. 
Di situlah suaraku, 
kekal memuji rahmat-Mu!