Submitted by hai hai on

Di dunia sungai telaga Calvinis dikenal sebagai perguruan tanpa tanding. Walaupun tidak pernah memenangkan pertandingan dengan gilang gemilang namun para pendekar saktinya yang lulus dengan melewati pintu gerbang, bukan lobang anjing, tidak pernah tidak mengalahkan lawan. Itu sebabnya semakin hari semakin banyak orang yang mempelajari ilmu-ilmu perguruan Calvinis. Namun sayang, dari sekian banyak yang ingin belajar, hanya sedikit yang benar-benar mau diajar. Walaupun baru mempelajari nama-nama jurusnya, dan menginggalkan perguruan dengan merayap melewati lobang anjing, mereka ptantang-ptenteng di dunia sungai telaga dan membual dengan menggelari diri pendekar Calvinis. Hal itu berakibat munculnya banyak pendekar yang pentang bacot dengan jumawa mengaku telah menaklukkan pendekar Calvinis.


Walaupun merasa dirinya jauh lebih sakti dari para pendekar Calvinis, namun para pendekar perguruan Fundamentalis tidak pernah diperhitungkan di dunia kang aow. Bahkan walaupun menganggap diri penganut ilmu jalan suci, ilmu paling tinggi di dunia, namun mereka tidak dilirik sama sekali oleh para pengelana dunia sungai telaga. Karena putus asa untuk mengangkat nama perguruan perguruan, maka akhirnya mereka memilih jalan nekad yang dianggap tepat untuk mengangkat nama di dunia kang aow. Para sepuh perguruan itu menggelari diri Fundamentalis mengutus para pendekarnya untuk berkelana guna membujuk sebanyak mungkin orang untuk berguru di padepokan Graphe, Pusat perguruan Fundamentalis. 

Di setiap rumah makan dan gedung pertemuan bahkan di gang-gang dan tempat pembuangan sampah, para pendekar Fundamentalis pentang bacot jumawa mengagulkan diri dengan menceritakan kesalahan dan kelemahan ajaran perguruan-perguruan lain. Dengan pongahnya mereka mementaskan jurus-jurus yang dinyatakan sebagai jurus perguruan lain lalu menunjukkan kelemahannya kepada siapa saja yang mau menonton dan mendengarkan. Cara demikian nampak berhasil hingga suatu ketika para penonton muak lalu meminta mereka memainkan jurus-jurusnya sendiri. Ha ha ha ha … Sungguh mengenaskan. Mereka menjadi bahan tertawaan, karena banyak penonton yang jeli melihat ternyata jurus-jurus mereka tidak lebih dari copy paste jurus-jurus perguruan lain dengan sisipan di sana sini. Tentu saja jurus-jurus demikian nampak nggak karu-karuan. Selain tidak ada harmonisasi juga tidak punya kekuatan walau untuk menggebuk anjing geladak sekalipun.

Hal itu rupanya membuat para sepuh perguruan Fundamentalis berang, itu sebabnya mereka lalu mengevaluasi strateginya lalu memutuskan untuk hanya memperagakan jurus-jurus yang dinyatakan sebagai jurus Calvinis dan menantang setiap pendekar Calvinis untuk pibu, bertanding. Mereka tahu, walaupun banyak pendekar yang keluar dari perguruan Calvinis lewat lobang anjing namun mereka jumawa sekali mengagul-agulkan diri sebagai pendekar Calvinis. Tentu saja banyak pendekar Calvinis lobang anjing yang menggeletak muntah darah di hajar pendekar fundamentalis. Para pecundng itu tidak dibunuh bahkan ditawari kesempatan untuk berguru di perguruan Fundamentalis. Setelah merasa ilmunya cukup, para pecundang itu lalu berkelana sambil menyebarkan kisah bahwa mereka adalah pendekar Calvinis yang beralih menjadi pendekar Fundamentalis karena menemukan kenyataan bahwa ilmu-ilmu perguruan Calvinis bukan ilmu jalan suci sejati.   

Para pendekar Calvinis sejati tahu pasti bahwa jurus-jurus yang diperagakan oleh pendekar Fundamentalis dan digembar-gemborkan sebagai jurus Calvinis itu bukan jurus Calvinis sejati. Itu sebabnya mereka tidak ambil peduli. Namun ada beberapa pendekar Calvinis sejati yang hilang kesabaran lalu menerima tantangan para pendekar Fundamentalis tersebut.

Oh ya, satu lagi strategi yang mungkin diajarkan oleh para sepuh Fundamentalis karena sering sekali dilakukan oleh para pendekar Fundamentalis. Ketika menghadapi lawan enteng, mereka akan menggocohnya hingga babak belur dan memaksa mereka minta ampun. Namun ketika menghadapi pendekar sejati, mereka lari sipat kuping atau diam seribu bahasa ketika ditantang untuk menunjukkan kebisaannya. Strategi yang cerdik.

Saya suka melihat pendekar Fundamentalis pentang bacot yang kepergok pendekar Calvinis sejati yang siap bertarung. Namun saya tidak suka cara mereka bertarung. Beberapa saat yang lalu saya melihat seorang Fundamentalis pentang bacot dan kepergok pendekar Calvinis sejati yang siap bertarung.

Keduanya berdiri berhadapan dengan jarak tiga depa. Fundamentalis dan Calvinis. Fundamentalis menatap garang, dia siap melumat. Calvinis menatap gamang, dia ragu untuk bertarung. Fundamentalis berdiri dengan kaki terpentang selebar bahu. Saya menunggu karena berharap akan melihat pertarungan yang seru. Namun sungguh mengecewakan.

Pendekar Fundamentalis itu hanya berani pentang bacot sambil memperagakan jurus-jurus yang katanya jurus-jurus Calvinis lalu bekoar dengan jumawa menunjukkan kelemahan-kelemahan jurus-jurus itu. Sementara itu pendekar Calvinis itu, alih-alih menyerang, dia malah memperagakan jurus-jurus Calvinis sejati. Mungkin dia menyangka dengan membandingkan jurus-jurus sejati dan jurus-jurus palsu, penonton yang lagi kebakaran hutan di Australi akan memberikan penilaian. Pendekar Calvinis itu sama sekali tidak paham psikologi penonton. Penonton tidak mau melihat peragaan jurus mereka mau pertarungan sejati. Karena gregetan saya sempat maju lalu melontarkan sebuah tendangan, telak menghunjam perut Fundamentalis dan membuatnya mulas. Namun sayang, dia memang Fundamentalis sejati. Ketika bertemu lawan sakti, dia tidak berani menyerang. Benar-benar menyebalkan.

Peragaan jurus walaupun nampak seru namun tetap saja ADA jarak antara keduanya, Calvinis dan Fundamentalis tiga depa. Tidak ada greget sama sekali. Bila anda penasaran dan ingin menontonnya, silahkan klik di sini

Fundamentalis VS hai hai

Suatu hari hai hai kepergok seorang Fundamentalis ketika memyanpaikan undangan kepada sesepuh Fundamentalis untuk ikut meramaikan pasar Klewer karena ajarannya diskusikan di sana. Karena tahu nama hai hai tidak pernah berkibar di dunia sungai telaga apalagi ketika melihat gayanya yang seperti preman jalanan. Fundamentalis itu pun lalu memperagakan Standar Prosedur Operasi Fundamentalis. Dia membujuk hai hai untuk belajar di perguruannya. Ketika hai hai berkata bahwa dia sudah punya perguruan sendiri dan memberi tahu nama perguruannya, fundamentalis itupun mulai pentang bacot mengagul-agulkan perguruannya sambil bertanya apakah hai hai tahu kelemahan jurus-jurus perguruannya?

Kasihan sekali fundamentalis itu. Mungkin dia pikir hai hai akan menantangnya untuk memperagakan jurus-jurus perguruan hai hai dan menunjukkan kelemahannya. Dia tidak tahu bahwa hai hai hanya seekor anjing Allah yang nama kerennya Sentinel. Kalau boleh berbangga, hai hai hanyalah seorang preman pasar yang bahasanya pun kacau balau.

Karena merasa di atas angin, Fundamentalis itu pun mulai memperagakan jurusnya,dia mulai menyerang. Wajahnya dingin, tatapannya garang. Otot-otot ditubuhnya melingkar-lingkar ketika dia mengerahkan tenaga dalamnya. Kedua tangannya melancarkan pukulan jab lurus menuju hidung, tangan kirinya melancarkan pukulan hook mengait pipi lalu tangan kanannya melancarkan upper cut, sebuah pukulan yang mengungkit rahang dari bawah. Kaki kanannya melancarkan tendangan lurus ke depan mengarah ulu hati, disambung dengan kaki kiri melancarkan tendangan dari samping mengarah iga lalu kaki kanannya membumbung tinggi ke udara menghunjam kepala seperti cangkul.

Hai hai menatap peragaan jurus itu dengan tenang. Dia tersenyum lalu menarik pestol dari pinggangnya, mengarahkannya tepat ke jidat Fundamentalis itu lalu menarik picunya. Blep … bunyi pestol berperedam itu. Hai hai lalu ngakak Ha ha ha ha ha … melihat fundamentalis itu pucat pasi.

Mungkin karena kasus itulah para sepuh perguruan Fundamentalis lalu memerintahkan murid-muridnya untuk pentang bacot di Klewer dan ICN. Bila hanya saling memperagakan jurus apa gunanya? Bila hanya berak dan tidak menceboknya, apa gunanya?    

Dari: hai hai
tanggal:  21 Januari 2009 05:48
subjek: Perumpamaan Tentang Penabur

Bapak Pdt. Dr. Suhento Liaw Yang Terhomat, Saya baru saja mengunggah sebuah tulisan yang menyoroti kesalahan anda di dalam memahami makna Perumpamaan tentang Penabur di dalam tulisan anda yang berjudul Pemeliharaan Keselamatan Yang Alkitabiah. Untuk membacanya anda dapat klik di sini.

Date: 1/19/2009 8:52 PM
Graphe wrote:

Hai hai,
Terima kasih atas informasinya, kami sangat menghargai perhatian anda. Tulisan tersebut mengkritik pengajaran bpk. Suhento dan beberapa orang lainnya, dengan mengutip penafsiran beliau.


Namun sayang, kutipan tersebut salah. Salah total. Beliau tidak menafsir seperti yang diklaim oleh hai hai. Silahkan anda sertakan referensi sumber kutipan anda. Untuk mengetahui dengan jelas seperti apa penafsiran Dr. Suhento, silahkan datang ke kebaktian GBIA Graphe tiap hari Minggu, jam 9 pagi. Disediakan waktu untuk bertanya sepuasnya sesudah kebaktian. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih.

Pada 21 Januari 2009 21:22
hai hai wrote:


Graphe Yang Terhormat,
Terima kasih untuk tawarannya. Saya sudah terdaftar menjadi jemaat di salah satu GKI, Gereja Kristen Indonesia dan memutuskan tidak akan pernah pindah dari gereja tersebut karena melalui jemaat gereja tersebutlah saya mengenal Injil. Saya sudah memberitahu anda bahwa tentang tulisan yang berjudul Pemeliharaan Keselamatan Yang Alkitabiah. Apakah tulisan tersebut bukan tulisan Pdt. Dr. Suhento Liaw? Apabila demikian, maka sebaiknya anda mengomentari tulisan saya tersebut dengan menyatakan bahwa tulisan tersebut bukan tulisan Pdt. Dr. Suhento Liaw. Atau bila anda terlalu sibuk, bolehkah saya membantu memberitahu pembaca tulisan di Komunitas Blogger Kristen SABDASpace tentang hal itu berdasarkan jawaban email anda?

Dalam Lukas 8:13, dalam perumpamaan penabur, Tuhan mengatakan bahwa "yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka PERCAYA sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad." Kata Yunani di balik kata murtad ialah apistantai yang berarti mundur dari iman. Tuhan mengatakan bahwa orang itu telah percaya, sekali lagi TELAH PERCAYA (pisteuousi) walaupun sebentar. Kemudian orang itu mundur dari iman ketika menghadapi pencobaan. Mudah-mudahan tidak ada yang berkata begini, Ah...Tuhan, Engkau tidak tahu, sebenarnya orang itu belum percaya, engkau sembarangan ngomong, karena menurut dosen saya kalau seseorang murtad berarti memang sejak semula ia belum percaya. Dan lagi Tuhan, sekalipun engkau berkata bahwa mereka yang telah percaya bisa murtad, saya tetap lebih percaya kepada dosen saya, dan lagi saya sudah berhutang budi, dan juga telah terlanjur ada di dalam sinode itu dan menikmati semua fasilitas sinode itu dan lagi dalam satu sinode kami tidak boleh berbeda pendapat.

Tersebut di atas adalah paragraf kedua dari tulisan Pemeliharaan Keselamatan Yang Alkitabiah. Apabila Pdt. Dr. Suhento Liaw tidak menafsirkan BENIH = Manusia, lalu bagaimanakah dia menulis paragraf tersebut? Apabila dia memahami seperti saya, bahwa BENIH = FIRMAN, bukankah itu berarti ketika seseorang MURTAD, maka BENIH-lah yang murtad? Apabila paragraf yang saya kutip tersebut di atas adalah benar tulisan Pdt. Dr. Suhento Liaw, maukah anda bertanya kepadanya bagaimana hubungan tulisannya dengan perumpamaan tentang penabur tersebut?

Pada 23 Januari 2009 11:43
Kepada Sdr. Hai Hai,


Sayang sekali jika seseorang menjadi anggota jemaat hanya karena dia pertama kali kenal Injil di sana, tanpa mempertimbangkan apakah gereja itu sesuai dengan Alkitab atau tidak. Katakanlah saya asumsikan bahwa Injil yang anda kenal itu memang Injil yang benar, toh masih banyak pengajaran lain yang perlu disesuaikan dengan Alkitab seiring dengan pertumbuhan rohani seorang percaya. Anda bertekad tidak akan pernah pindah dari GKI. Seharusnya tekad anda adalah mencari kebenaran yang paling Alkitabiah. Kalau GKI paling Alkitabiah, maka silakan...wes...tetapi kalau tidak, maka tekad anda tidak berkenan pada Tuhan.

Mengenai perumpamaan penabur, saya coba luruskan:

  1. Graphe (dan juga Dr. Suhento Liauw) dari dulu mengajarkan bahwa BENIH adalah Firman Tuhan, dan TANAH melambangkan hati manusia yang berbeda-beda. Ini toh diajarkan di perikop itu sendiri dalam Lukas 8:11. Justru kita lihat di sini bahwa yang membedakan antara satu respons dengan respons lainnya, BUKANLAH JENIS BENIH YANG BERBEDA, karena benihnya sama, melainkan JENIS TANAH YANG BERBEDA. Artinya, perbedaan antara orang yang bertobat dengan yang tidak bertobat, BUKANLAH PADA JENIS PANGGILAN YANG BERBEDA (EFFECTUAL CALLING vs GENERAL CALLING) sebagaimana diajarkan Kalvinis, melainkan pada hati tiap-tiap manusia itu sendiri. Ada yang mau merespons dan ada yang menolak Firman Tuhan. Ada juga yang menerima sesaat, dan kemudian murtad. Ada pula yang menerima tetapi tidak berbuah banyak/matang, karena dihimpit oleh hal-hal duniawi. Saya rasa hal ini jelas dari tulisan Dr. Suhento. Silakan jika mengutip/membaca tulisan seseorang, diperhatikan seluruhnya, bukan sebagian saja.
  2. Tulisan yang anda kutip warna biru di bawah ini, sama sekali tidak menyatakan bahwa BENIH = manusia. Coba anda tunjukkan, kalimat mana yang mengatakan bahwa BENIH = manusia?
  3. Saya tidak tertarik untuk ikut milis-milis dan debat internet yang seperti itu karena beberapa pertimbangan:

 

  • Tidak ada format debat yang jelas. Misalnya penentuan topik yang jelas, kedua belah menyatakan posisi masing-masing, adanya moderator, dll.
  • Karena terbuka, mudah sekali bagi pandangan yang banyak pendukungnya untuk membanjiri forum dengan tulisan-tulisan mereka.
  • Tidak enak berdiskusi dengan orang yang tidak kenal dan tidak jelas siapa, bahkan lelaki/perempuan, umur, dsb, semuanya tersamar.
  1. Keterbatasan waktu. .

Oleh karena itu, kami terbuka untuk diskusi jika ada yang datang ke GITS. Atau bisa juga bertanya lewat email ke kami, akan kami jawab sesuai dengan waktu yang ada.

25 Januari 2009 22:49
hai hai wrote:

Dr. Steven E Liaw, Terima kasih atas balasannya.
Karena Jemaat GKI itu yang pertama kali mengenalkan Injil kepada saya maka saya memutuskan untuk menjadi anggota jemaat di sana. Pertimbangan saya sederhana, karena saya mengenal Injil dari Gereja itu maka Allah ingin saya tetap di sana. Apabila ajaran gereja itu salah, maka tugas sayalah untuk menegakkan ajaran yang benar.

Menurut saya, orang yang pindah gereja dengan alasan menemukan gereja lain yang lebih baik itu ibarat seorang suami atau istri yang menceraikan pasangannya dengan alasan menemukan orang lain yang lebih baik. Saya tidak pernah menghormati orang-orang demikian, saya menyebut orang-orang demikian kutu kupret atau kutu loncat. Sama seperti saya tidak pernah menghormati orang yang mengajak jemaat gereja lain untuk pindah menjadi anggota gerejanya dengan iming-iming lebih Alkitabiah. Prilaku demikian sama dengan seorang pelacur yang memikat suami orang lain dengan iming-iming pelayanan yang lebih dasyat dibanding pelayanan istri. Garam gunanya untuk menggarami, terang gunanya untuk menerangi.