Submitted by rogermixtin09 on

 

GMIM adalah singkatan dari gereja masehi injili Minahasa.Sesuai dengan namanya,GMIM adalah gereja yang melayani di tanah Minahasa Sulawesi utara yang mencakup wilayah kotamadya Manado,Bitung,Tomohon dan kabupaten Minahasa induk,minahasa utara,minahasa selatan dan minahasa tenggara.

GMIM,merupakan salah satu gereja beraliran Reformed yang terbesar di Indonesia,dan merupakan salah satu gereja bagian mandiri (GBM) dari gereja protestan Indonesia (GPI).

Sejarah GMIM

Gereja Protestan di Indonesia (GPI)lahir di Ambon,Maluku pada tahun 1605, dengan nama De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie. Tetapi pada tahun 1619 kantor pusatnya dipindahkan ke Batavia seturut dengan berpindahnya kedudukan Gubernur Jenderal ke Batavia. Gereja Protestan ini mewarisi jemaat-jemaat yang ditinggalkan oleh misi Portugis dan di kemudian hari karena pekerjaan misi maka pelayanannya semakin meluas. Wilayahnya meliputi beberapa daerah antara lain: Maluku, Minahasa, Kepulauan sunda kecil(sekarang: NTT termasuk Pulau Sumbawa), Jawa, Sumatera, dll.

Kekristenan mulai diperkenalkan di tanah Minahasa oleh dua misionaris Jerman yang dididik di Belanda, yaitu Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz. Pada tanggal 12 Juni 1831 mereka tiba di daerah ini untuk memberitakan Injil. Tanggal ini diperingati oleh GMIM sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan kristen di Tanah Minahasa.

Berhubung wilayah pelayanan De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie itu begitu luas dan di beberapa daerah pelayanan mulai timbul persoalan maka pada pertemuan para pendeta tahun 1927 dihasilkan sikap bahwa keesaan gereja tetap dipertahankan tetapi wilayah-wilayah yang memiliki kekhususan diberi kemandirian yang lebih besar untuk mengatur pelayanannya sendiri. Maka pada Rapat Besar tahun 1933, jemaat-jemaat di Minahasa, Maluku, dan Timor diberikan keleluasan untuk menjadi gereja mandiri dalam persekutuan De Protestantsche Kerk in Nederlandsch–Indie. Berdasarkan keputusan itu maka pada tahun 1934, jemaat-jemaat di daerah Minahasa dimekarkan menjadi gereja mandiri dengan nama: Gereja masehi injili di Minahasa (GMIM).

Pelayanan GMIM

Pada tahun 2005 GMIM memiliki 818 gereja (majelis jemaat lokal) yang dibagi kedalam 85 wilayah pelayanan dengan kurang lebih 1 juta anggota jemaat yang dilayani oleh 950 pendeta,65% diantaranya adalah pendeta perempuan.

GMIM mengelola banyak lembaga sosial yaitu :

332 sekolah taman kanak-kanak,364 sekolah dasar,64 sekolah menengah pertama,20 sekolah menengah atas,6 sekolah kejuruan tingkat SLTA,1 universitas,2 sekolah luar biasa,2 panti asuhan,2 pusat pelatihan,2 rumah sakit umum,beberapa poliklinik,rumah bersalin,dan klinik keluarga berencana.

Universitas Kristen Tomohon telah mencetak banyak pendeta-pendeta berkualitas yang melayani di gereja-gereja GMIM,lembaga-lembaga sosial GMIM,lembaga nasional dan international seperti GPI,PGI,CCA dan juga beberapa LSM terkenal di Sulawesi utara.

Sekolah luar biasa bagi para penderita cacat juga telah membuahkan hasil yang menggembirakan.Beberapa orang laki-laki dan perempuan tunanetra telah berhasil dididik menjadi pekabar-pekabar injil yang sungguh mengherankan.Dengan kondisi keterbatasan fisik mereka mampu mengabarkan injil dan memimpin ibadah di atas mimbar gereja pada ibadah minggu dan ibadah lainya.

Sungguh campur tangan Tuhan begitu terasa dalam pelayanan GMIM. Roh kudus membimbing dan memberkati pelayanan GMIM. Seandainya Tuhan memang melarang perempuan mengajar atau memimpin ibadah diatas mimbar gereja pada pertemuan jemaat,seperti ajaran beberapa blogger Sabdaspace,adakah hal-hal diatas dapat terlaksana dengan baik ? Tentu tidak !

 

 

 

 

Tulisan ini saya dedikasikan untuk para pendeta perempuan dan para penginjil perempuan Tunanetra dimanapun berada.Kasih karunai dari Allah Bapa,Tuhan Yesus dan penyertaan Roh kudus menyertai anda sekalian.