Sudah lama rasanya tidak menulis. Tidak tahu apa karena tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang suka nulis atau karena tidak ada lagi yang maksa-maksa:p Tapi malam ini pengen banget nulis sesuatu entah apa pun itu padahal malam ini ngantuk berat dan capek banget.
-------------------------
Tadi Pagi
Sengaja kunyalakan alarm supaya bisa bangun pagi-pagi dan terhindar dari macet meski itu adalah hal yang mustahil, mana pernah Jakarta tanpa macet. Jam 5 teng aku bangun, cepat-cepat mandi dan siapin makanan Nikol… ampela dan ati rebus karena dia bakalan aku tinggalin sendiri lagi hari ini. Tapi… ya ampunnnn, nasi semalam udah basi berarti Nikol nggak bisa makan nasi, syukurlah kemaren sempat beliin susu Nikol. Sengaja kubuatkan susu dengan porsi jumbo biar tahan sampe malam. Syukur juga Nikol hanyalah seekor anjing jadi aku tidak merasa sangat berdosa karena hanya memberikan susu sebagai pengganjal perutnya sampai aku pulang.
-------------------------------
Aku merasa apes pagi ini karena bangku bis yang kutumpangi penuh, maka aku pun harus berdiri. Padahal jarak Bekasi dan turun di Komdak kan jauh bangetttttt. Tapi ada enaknya juga meratiin penumpang yang sedang tidur, atau ketiduran atau sekadar tidur-tiduran (?:p), paling asik meratiin orang yang tidur sambil mangap, apalgi yang tiduran sambil mangap itu orang cakep. Ternyata orang cakep juga manusia kalo tidur bisa mangap:p Belum ada setengah jam perjalanan bisnya bermasalah dan kami semua harus turun… cari bis lagiiiii. Syukurlah bisa dapat bis lain musti desak-desakan.
Kakiku sakit sekali karena hari ini aku pakai sepatu yang haknya sebih tinggi dari sepatuku yang lain, pegal. Waktu ngerasa sakitnya pake highhill, aku teringat ucapan temanku, “Perempuan tuh rela merasakan sakit untuk tampil cantik.” …Kalo aku mah akan bilang ….Setuju!!! Sengaja kupilih sepatu yang kupakai kali ini meski aku tahu agak menyulitkanku, tapi efeknya emang luar biasa, kakiku rada pegal.
-------------------------------
Sudah beberapa hari ini aku bisa bersaat teduh kembali, rasanya menyenangkan karena bisa kembali ‘baikan’ (?) denganNya. Kesaksian seorang ibu yang barusan kehilangan anak bayinya mengingatkan tentang kasihNya yang setia dan tidak berkesudahan. Betapa Ia baik, tapi akulah yang tidak baik. Betapa Ia setia, akulah yang tidak setia. Betapa Ia selalu mencintaiku, tapi akulah yang selalu berhianat. Mudah-mudahan stock maafNya untukku selalu ada.