Hla kalau ini versi Waskita.
Hampir saja apes, gara-gara baca berita detik.com yang memberitahu bahwa Solo baru saja dilanda angina puting beliung, hingga banyak pohon tumbang, jadi cepat-cepat mengemasi barang selepas jam kantor. Maksudnya mau pulang ke Solo. Kasihan istri di rumah sendirian.
Sampai di perempatan ABC (Salatiga), kebetulan lampu merah, tiba-tiba ada polisi mendekati motor saya, tersenyum lalu berujar “Mas, spion sudah dua, itu bagus. Lampu nyala juga bagus. Pakai helm bagus … tapi kok melanggar lampu merah. Silakan mampir ke pos polisi di depan”.
Hah… melanggar gimana pikirku …. Perasaan saya tidak melanggar apa-apa. Tapi yah ikuti saja lah, mampir ke pos polisi. Itung-itung silaturahmi, sudah lama tidak mampir ke pos.
Pertama tentu saya bertanya, dimana saya melakukan pelanggaran? Katanya di lampu merah Pasar Sapi. Hardono teman saya tentu saja tidak terima dan adu argument karena merasa benar. Saya juga yakin saya tidak melanggar, karena pas di perempatan Pasar Sapi tadi saya pada posisi berhenti menunggu lampu hijau, saya yakin seyakin yakinya.
Tapi baru bicara sedikit saja, sang polisi sudah mulai pasang kuda-kuda dan melakukan intimidasi dengan nada suara tinggi dan mengancam. Bicara ba-bi-bu mencoba menakut-nakuti kami. Apa kami ini tidak berhak membela diri. Bukankah setiap orang memiliki hak yang sama di depan hukum. Boleh membela diri. Disertai bukti-bukti. Meskipun posisi kami memang tidak kuat karena tidak punya bukti, dan saksi saat itu Cuma Hardono yang tentu saja bukan saksi yang kuat. Jadi mudah buat kami dipojokkan seperti itu.
Polisi itu bilang bahwa sejak pagi dia selalu memantau detikan yang ada di dekat lampu lalulintas, jadi tidak mungkin salah. Ah Pak makanya lain kali ngak Cuma detikan tuh yang dipasang tapi ditambah kamera pemantau biar kita bisa sama-sama lihat. Ada bukti visualnya. Saya sendiri juga sudah malas menanggapi dan adu argumentasi, pingin cepat pulang melihat keadaan rumah.
Saya lalu bilang “terserah lah Pak, kalau mau di tilang ya di tilang saja”.
Tapi ternyata Pak Pol malah terus bicara ba-bi-bu.
"Saya ini petugas! Saya tidak mungkin bohong dan cari-cari alasan! Sebelum berangkat bekerja tadi saya ini menjalankan solat subuh! Saya berani di sumpah demi Allah! Kalau saya mau tilang kamu ya terserah saya, kalau mau saya tutup kasus ini juga terserah saya! Ini nama saya baca nama saya, ini pangkat saya! Yang memasang pangkat saya ini jenderal, bukannya saya mau menakut nakuti kamu! Capek deh … kalimat terakhir ini hampir membuat saya tertawa, kalaupun yang pasang pangkat sanpean itu presiden sekalian trus apa hubunganya.
“SAYA TIDAK MARAH!! Memang kalau orang didikan militer itu, bicaranya ya keras seperti ini. Untung saya polisi, kalau saya tentara kamu sudah habis saya libaskarena melawan petugas! (waow bilang tidak marah tapi matanya sudah merah, padahal apa alasanya coba? Saya kan cuma menyanggah kalau saya tidak melanggar, trus saya juga mau mengalah mau ditilang kalau memang harus di tilang. Tapi ini bapak kok malah terus marah marah.
Saya lalu mengulangi perkataan saya lagi “Pak saya mau pulang, ada urusan penting, jadi kalau mau di tilang yan di tilang saja cepat. Solo baru saja kena angina putting beliung, saya mau tengok istri saya”.
Eh entah budek atau karena sudah sore, otaknya mulai capek jadi tulalit. Bukanya segera menulis surat tilang, malah melanjutkan intimidasi, dengan nada semakin tinggi, matanya bahkan mulai merah.
Saya cuma dengarkan saja, anggap saja sedang nonton sinetron. Tapi lama-lama bosan juga, ngak ada adengan percintaan sih.
Ya sudah saya ulangi saja ucapan saya tadi, “Pak kalau mau di tilang di tilang saja cepat, supaya saya bisa segera pulang, Solo baru saja kena angin putting beliung, saya mau tengok istri saya”.
Saya mulai jengkel. Ini orang kenapa ya. Apa mungkin kurang pendengaran, atau karena sudah sore hingga konsentrasi mulai terganggu, stamina menurun, mata memerah, nafas terengah-engah. Sulit diajak bicara. Wah gejala diare ... bukan ding… mungkin karena kurang kasih sayang, gejala masa kecil yang kurang bahagia he…he…he…
“Saya itu tahu kamu, sering lihat kamu! Saya juga asli Salatiga, saya tahu kamu!!”. Kata Pak Pol.
He…he…he… padahal pas menghentikan saya tadi Pak Pol sempat bertanya dengan sedikit sok tahu “Dari Semarang mau pergi ke mana Pak?” Trus saya jawab “Saya dari Salatiga kok Pak, mau pulang ke Solo.”
Hla ini kok di tengah-tengah berbalik jadi bilang kalau kenal saya, sering lihat saya.
Hampir saja saya tertawa ketika dia kembali bilang dengan suara KERAS dan LANTANG … TAPI KAMU TAHU KAN SAYA INI TIDAK MARAH!!! Yang penting sekarang kamu mengaku tidak kalau melanggar lampu lalu lintas! KAMU NGAKU SAJA!!
waow… ndak marah gimana, matanya saja sudah merah. Hampir saja saya jawab …”ya sudah jangan menangis dong Pak…he…he..he..” tapi tidak...saya tidak jawab seperti itu. Saya hanya diam, duduk manis mendengarkan, trus menjawab:
“Gimana ya pak, bapak mau marah apa tidak terserah, yang penting bapak minta saya mengaku, ya oke, saya mengaku” (dari pada tidak ngaku nanti semakin muntab, posisi saya juga lemah tanpa bukti dan saksi. Masak saya juga harus bersaksi demi Allah, apa dia percaya).
“Pokoknya sekarang Pak, tolong cepat saja surat tilangnya di isi, biar saya urus, terus saya mau segera pulang, sudah sore, sudah mulai turun hujan, barus saja solo ditimpa putting beliung Pak saya mau lihat kondisi rumah sama istri.”
Tapi tanggapannya ya sama saja. Terus saja bicara ngalor ngidul tidak ada juntrungannya. Begitu terus sampai lima kali saya meminta surat tilang, supaya cepat kelar. Padahal cuaca semakin mendung dan gerimis mulai menetes.
Mimpi apa ketemu sama orang ini. Entah lah konyol saja rasanya, karena pas datang polisi yang lain, tiba-tiba dia kembali menyerahkan STNK dan SIM saya yang ia tahan lalu menyuruh kami pergi tanpa surat tilang, atau denda apapun.
Dengan sedikit tersenyum Pak Pol bertanya “Solo ditimpa angin rebut, bukan gempa tho? Sudah sana pulang ngak usah ngebut, jangan diulangi lagi”
Au ah pak, baca saja di Detik.com. Polisi yang aneh, sekali ramah, lalu tiba-tiba marah-marah hingga hamper menangis karena menahan emosi. Dari tadi juga sudah berkali-kali saya kasih tahu kami mau pulang mo lihat kondisi rumah. Ah dasar bolot
Sepanjang perjalanan pulang yang menjadi pertanyaan saya cuma, mengapa dia tidak segera saja menulis surat tilang, tapi malah terkesan cari-cari alasan buat mengulur waktu. Padahal sejak pertama saya selalu bilang bahwa saya pingin cepat saja ditilang karena Solo sedang ditimpa angina rebut, mau segera melihat kondisi istri dan rumah. Sebenarnya apa sih yang dia cari? Ada yang bisa bantu saya menemukan jawabanya??? Ah mungkin memang benar karena masa kecil yang kurang bahagia. :P
Karena sebagian besar tips menghadapi polisi sudah diberikan waskami di artikelnya maka saya cuma bisa kasih tips:
1. Bersikap tenang, jangan emosi, kalau bisa perut jangan kosong, makan dulu.
2. Ah tambah ngaco. Pokoknya jangan sekali-kali ngajak damai. Minta saja surat tilang slip yang warna biru. Kalau dikasih lembar yang merah jangan mau, supaya dendanya tidak masuk ke kantong pribadi, tapi masuk ke kas negara. Setidaknya masih ada sedikit peluang uang denda itu tidak dikorupsi.
3. Kenalan saja sama polisi sebanyak-banyaknya. Jadi kalau pas mau di tilang ... "Wo ... ternyata kamu tho! ya sudah sana. Enak kan. 
GBU
get more herbal recipes here
web: Your Baby Reference