Submitted by Kristi on

Pernahkah anda ingin mati saja ketika menghadapi beban hidup yang rasa-rasanya sudah tidak sanggup lagi menanggungnya? Ada yang ingin mati karena hamil di luar nikah. Ada yang ingin mati karena sudah tidak perawan lagi, padahal belum menikah. Ada yang ingin mati karena tidak direstui orangtuanya ketika berpacaran. Ada yang ingin mati karena tidak bisa membeli sesuatu yang sangat diinginkannya, dsb.

Di dalam Alkitab, ada satu nabi yang dipakai Tuhan begitu luar biasa, namanya Elia. Ketika Elia menghadapi tantangan yang datang dari seorang wanita bernama Izebel yang ingin membunuhnya, ia ternyata menjadi takut. Dan karena ketakutannya itu, Elia ingin mati saja.

Sebenarnya aneh juga Elia ini. Takut pada Izebel karena mau dibunuh lalu berusaha menyelamatkan diri… ….akhirnya malah minta pada Tuhan supaya mati saja.

I Raja-raja 19:4

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

Mengapa Elia merasa takut pada Izebel? Karena pada waktu itu dia tidak percaya pada Allah. Karena kalau Elia percaya kepada Allah pasti ia tidak takut.

Dia tidak mengingat apa yang sudah Allah kerjakan dengan luar biasa sebelumnya.

Dia lelah menghadapi tantangan hidup.

Mazmur 56:3-4

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Ketika kita merasa takut, kita harus kuatkan kepercayaan kita kepada Allah, dan ketika kita kembali percaya kepada Allah, maka kita tidak akan takut lagi.

Ingatlah apa yang sudah Tuhan perbuat dalam hidup kita.

Penyertaan dan pemeliharaannya begitu sempurna.

Sejak lahir kita sudah dipelihara oleh Tuhan. Sebelum kita bisa makan sendiri, Tuhan sudah memberi kita makan melalui ibu kita.

Untuk tahun-tahun yang mendatang? Dia tetap pegang janji-Nya untuk selalu menyertai kita.

Rasul Paulus ketika diperhadapkan pada dua pilihan yaitu hidup atau mati, dia tidak tahu harus memilih apa. Tapi dia didesak untuk memilih. Kalau untuk kepentingannya sendiri, lebih baik ia memilih mati. Tapi karena ia mengasihi jemaat Tuhan yang masih perlu diajar, maka akhirnya dia memilih hidup meskipun banyak penderitaan yang harus ia hadapi.

Filipi 1:21-36.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik;tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

Hidup ini adalah anugerah dari Tuhan.

Jangan mengabaikan anugerah Allah dengan menginginkan kematian.

Mari kita hargai hidup yang singkat ini untuk memuliakan Allah.