Submitted by JAMU on
Terus terang saya tidak bermaksud untuk mengkritisi Dede Wijaya, hanya mengomentari menurut pandangan Alkitab mengenai trend apa yang sedang terjadi pada pemimpin-pemimpin organisasi gereja kekristenan berkedokkan “berkhotbah” yaitu memperjual-belikan “pengetahuan” yang mengaku berdasarkan alkitabiah itu telah mecari upah bagi dirinya, meskipun masih perlu diuji kebenaran “pengetahuan itu” menurut Alkitab. J

Ada semacam trend bagi pemimpin-pemimpin organisasi ibadat kekristenan terutama pemimpin-pemimpin organisasi ibadat kekristenan produk luar negeri yaitu setelah berkhotbah kemudian menawarkan buku miliknya sendiri (karangannya sendiri), atas namanya sendiri, dan dengan harga tertentu sehingga acara berkhotbah semacam itu yang sering terlihat di televisi-televisi luar negeri itu hanyalah menjadi ajang memperkenalkan dagangannya (buku barunya) dengan lebel harga tentunya sebaliknya daripada khotbah yang tulus bagi orang-orang yang haus akan kebenaran. J

Motif para pemimpin organisasi ibadat kekristenan yang bersaing satu sama lain sedemikian rupa untuk bisa tampil dimuka terlihat menjadi suatu peluang emas baginya sebagai ajang presentasi materi berkedokkan “berkhotbah”. J

Tentang jual-beli dagangan “pengetahuan” yang mengaku sebagai “firman Allah itu” dan berlandaskan upah pula, Alkitab mengatakan dalam 1 Korintus 9:17 ,18 begini: “Kalau andaikata aku (rasul Paulus) melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. [18] “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.”

Oleh karena perilaku berdagang berkedokkan “khotbah’ oleh pemimpin-pemimpin organisasi ibadat semacam itu, mereka telah mendapatkan upahnya bagi dirinya, maka upah dari Allah tidak layak untuk diterimanya, baca Kolose 3:24. J