Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Integritas dan Strategi Penginjilan Paulus Menurut surat Galatia

siska yuliana's picture
  1. Pendahuluan

Penginjilan tidak bisa lepas dari kehidupan orang percaya. Hal ini
dinyatakan jelas dalam Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius
28:19-20. Tuhan Yesus sendiri memberi perintah kepada setiap orang
percaya untuk memberitakan Injil, tanpa kecuali.

Memberitakan Injil tidaklah mudah. Seorang
penginjil masa kini harus mempunyai strategi-strategi khusus agar
penginjilan itu menjadi efektif. Selain itu, sikap hidup seorang
penginjil harus sesuai dengan Injil yang diberitakannya, sehingga
keteladanannya mencerminkan Kristus sendiri.

Oleh sebab itu, integritas dan strategi
penginjilan haruslah dimiliki oleh seorang penginjil. Paulus adalah
seorang penginjil hebat yang memiliki integritas, serta mempunyai
strategi dalam penginjilan-penginjilan yang dilakukannya. Melalui
paper ini, penulis ingin memaparkan tentang integritas dan strategi
penginjilan Paulus yang dapat diteladani penginjil-penginji masa
kini.

  1. Pengertian Penginjilan secara umum

1Penginjilan
adalah "memberitakan Kabar Baik tentang Kristus".
Penginjilan itu lebih daripada sekadar metode; penginjilan adalah
sebuah berita. Berita tentang kasih Allah, tentang dosa manusia,
tentang kematian Kristus, tentang penguburan-Nya, dan
kebangkitan-Nya. Penginjilan adalah berita tentang pengampunan dosa
dari Allah. Penginjilan adalah berita yang menuntut suatu tanggapan
menerima Injil itu dengan iman, lalu menjadi murid Yesus. Istilah
"penginjilan" mencakup segala usaha untuk memberitakan
Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Tujuannya ialah supaya orang-orang
mengerti bahwa Allah menawarkan keselamatan dan supaya mereka
menerima keselamatan itu dengan iman, lalu hidup sebagai murid Yesus.
Seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Lausanne, "Menginjili
ialah memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa-dosa
kita, dan Ia sudah dibangkitkan dari antara orang mati, menurut Kitab
Suci.

2Yesus
Kristus adalah Tuhan yang memerintah, Ia sekarang menawarkan
pengampunan dosa dan mengaruniakan Roh Kudus kepada semua orang yang
bertobat dan yang percaya. Penginjilan itu sendiri ialah pemberitaan
bahwa Kristus yang dikenal dalam sejarah dan dari Kitab Suci adalah
Juru Selamat dan Tuhan. Adapun tujuan pemberitaan itu ialah supaya
orang-orang mau datang kepada-Nya secara pribadi dan dengan demikian
mereka diperdamaikan dengan Allah. Waktu kita mengundang agar orang
mau menerima Kristus, kita tidak boleh menyembunyikan hal-hal yang
seharusnya dilakukan oleh seorang murid Yesus. Hasil dari penginjilan
mencakup hidup patuh kepada Kristus, menggabungkan diri dengan
gereja-Nya, dan melayani Tuhan dengan penuh tanggung jawab di dunia
ini." [Butir ke-4, dalam Perjanjian Lausanne, (c)1974 World Wide
Publication, Minneapolis, Minnesota]

3George
E. Sweazey mengatakan bahwa, Evangelism is very possible way of
reaching outside the Church to bring people to faith in Christ and
membership in His church.
Penginjilan adalah setiap jalan yang
sangat mungkin untuk menjangkau yang berada di luar gereja untuk
membawa orang untuk beriman di dalam Kristus serta keanggotaan di
dalam gereja-Nya.

4The
World Council of Churches at Amsterdam menyatakan bahwa,
Evangelism is so making Christ known to men that each is confronted
with the necessity of a personal decision, Yes or No
. Penginjilan
adalah membuat Kristus diketahui atau dikenal manusia yang
masing-masing diperhadapkan dengan keperluan untuk mengambil
keputusan pribadi, “ya” atau “tidak”

5The
Madras Foreign Missions Council menyatakan Evangelism is so to
present Jesus Chris to the world in the power of the Holly Spiri that
men shall come to put their trust in God through Him, accept Him as
their Savior and serve Him as their Lord in the fellowship of His
Church.
Penginjilan adalah memperkenalkan Yesus Kristus kepada
dunia di dalam kekuatan dari Roh Kudus yang mana manusia dapat datang
dan menaruh iman di dalam Allah melalui-Nya, menerima-Nya sebagai
Juruselamat dan melayani-Nya sebagai Tuhan mereka di dalam
persekutuan dari gereja-Nya.

6Toyohiko
Kagawa mengatakan bahwa Evangelism means the conversion of
people from worldliness to Christlike godliness.
Penginjilan
berarti perubahan orang dari keduniawian kepada kesalehan seperti
Kristus.

7Samuel
Boon-Itt of Siam mengatakan Evangelism means living, doing,
talking for Christ.
Penginjilan berarti hidup, melakukan, dan
mengatakan tentang Kristus (bersaksi).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, penginjilan harus
berpusatkan pada Kristus. Pekerjaan menginjil tetap tidak berubah.
Kebutuhan rohani umat manusia tetap tidak berubah. Berita penginjilan
tetap tidak berubah. Dan karunia Allah kepada gereja-Nya termasuk
karunia seorang penginjil tetap tidak berubah.

Seperti yang dikatakan oleh Samuel Boon, bahwa penginjilan bukan
hanya sekedar memberitakan tentang Kristus, tetapi tindakan/ hidup
penginjil juga menceritakan Injil itu sendiri. Penginjilan harus
mencakup dua aspek baik secara verbal maupun tindakan.

  1. Integritas dan Strategi Penginjilan Paulus

    1.  
      1. Integritas Paulus

8Integritas
adalah modal utama seorang pemimpin, yang sekaligus menjadi modal
yang paling jarang dimiliki oleh seorang pemimpin. Sayangnya,
integritas juga merupakan kualitas yang paling langka, bahkan hampir
punah. Skandal Pendeta Jesse Jackson memperkuat premis ini. Pada 18
Januari 2001, Pendeta Jesse Jackson mengaku di depan publik bahwa ia
memiliki anak di luar nikah berusia dua puluh bulan. Pengakuan ini
menggegerkan publik. Siapa yang tak kaget mendengar seorang barometer
spiritual masyarakat Amerika ternyata berselingkuh sejak tahun 1998?
Skandal ini lebih dahsyat daripada skandal Bill Clinton dan Monica
Lewinsky. Mengapa? Karena Jesse Jackson adalah seorang tokoh
spiritual yang selain menjadi pendeta, juga memainkan peran penting
sebagai seorang politikus dan pejuang hak asasi manusia. Bahkan, saat
sedang terlibat dalam perselingkuhan, dia tetap menjadi konselor
Clinton dalam kasus Monica Lewinsky.

9Integritas
dimengerti sebagai "completeness, wholeness, unified, dan
entirety", semuanya merujuk pada keutuhan. Keutuhan yang
dimaksud adalah keutuhan dari seluruh aspek kehidupan, terutama
antara perkataan dan perbuatan. Yakobus mendefinisikan integritas
sebagai "sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun"
(Yakobus 1:4). Iman dan perbuatan adalah satu. Bahkan dari
perbuatannya, orang lain dapat melihat imannya (Yakobus 2:8).

10Integritas
tidaklah sama dengan citra diri (image). "Image" adalah
persepsi orang mengenai diri kita, sedangkan integritas adalah siapa
diri kita sesungguhnya. Bila kita memusatkan seluruh daya upaya,
pikiran, dan waktu untuk memperlihatkan sebuah "image"
palsu kepada orang lain, kita berisiko kehilangan integritas.
Konsistensi antara perkataan dan perbuatan, sama seperti istilah TI
yang disebut WYSIWYG (what you see is what you get). Jika orang lain
mendapati inkonsistensi dalam perkataan dan perbuatan kita, mereka
melihat kita sebagai orang yang munafik.

11Sering
kali, istilah etika, moralitas, dan integritas digunakan secara
bergantian untuk menunjukkan maksud yang sama. Padahal ketiganya
memiliki perbedaan. Etika adalah standar tentang mana yang baik dan
jahat, benar dan salah. Sedangkan moralitas adalah tindakan aktual
tentang hal yang baik dan jahat, benar dan salah. Secara sederhana,
etika adalah teoretikanya, sedang moralitas adalah praktikanya.
Integritas adalah integrasi antara etika dan moralitas. Semakin
keduanya terintegrasi, semakin tinggi integritas yang ada.

Sebagai seorang penginjil, intergritas merupakan sesuatu yang mutlak
harus ada, karena jika tidak, akan menjadi batu sandungan bagi berita
Injil itu sendiri. Paulus adalah salah seorang penginjil yang
mempunyai integritas yang tinggi.

Dalam Galatia 2:11-14, Paulus bertentangan dengan Petrus di Antiokia.
12Yang
menjadi masalah adalah sikap munafik dari pihak Petrus. Pada mulanya
Petrus makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat
(ayat 12). Hal itu berubah setelah beberapa dari kalangan Yakobus
datang. Karena Petrus takut pada mereka, ia menarik diri dari
persekutuan dengan saudara-saudara dari latar belakang non-Yahudi.
Oleh karena sikap Petrus itu orang-orang Kristen Yahudi yang lain pun
ikut terseret oleh kemunafikan Petrus, termasuk Barnabas.

13Dalam
situasi seperti itu Paulus masuk dan menegur Petrus di hadapan
seluruh jemaat. Arti teguran Paulus dalam ayat 14b, ialah sebagai
berikut: “Jika engkau, Kefas, seorang Yahudi, bisa makan dan minum
bersama-sama dengan orang Kristen dari latar belakang non-Yahudi
tanpa merasa diri terikat oleh adat istiadat nenek moyang kita,
bagaimana mungkin engkau sekarang mau mengharuskan saudara-saudara
kita dari latar belakang non-Yahudi untuk melakukan adat istiadat
itu. Karena, kalau engkau menarik diri dari persekuatuan di sekitar
meja makan dengan mereka, sebenarnya engkau berkata kepada mereka:
‘Jika kalian mau bersekutu dengan kami, orang-orang Kristen dari
bangsa Yahudi, maka kamu harus mengikuti adat istiadat nenek moyang
kami. Itu sikap seorang yang munafik, Kefas, karena engkau sendiri
sudah makan dengan mereka sebelum para penghasut yang mengklaim
otoritas dari Yakobus datang. Denga sikapmu itu engkau juga menolak
kebenaran Injil yang sudah kita setujui bersama, yaitu bahwa semua
orang diterima dalam persekutuan dengan Allah dengan syarat yang
sama. Kalau Allah telah menerima mereka, mengapa kita menolak?
Sudahkah engkau lupa pada pengelihatanmu sendiri pada waktu Allah
berbicara kepadamu bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak
boleh engkau nyatakan haram?

Paulus di sini berekasi ketika kebenaran Injil terancam.
Ketidakkonsistenan Petrus ini dapat menjadi batu sandungan bagi
Injil. Karena apa yang telah diberitakannya mengenai tidak ada
perbedaan antara orang Yahudi dan non-Yahudi, seolah-olah di sangkal
oleh tindakannya sendiri. Petrus takut sehingga ia kehilangan
integritas. Ia takut pada pengikut Yakobus yang pada saat itu masih
mengharuskan sunat terhadap orang-orang yang ingin mengikut Kristus.
Dan bagaimana mungkin Petrus mengharuskan orang non-Yahudi untuk
mengikuti adat istiadat Yahudi untuk disunat, sedangkan ia sendiri
telah menjadi pelanggar hukum Taurat dengan makan semeja dengan orang
yang belum disunat?

Hal inilah yang membuat Paulus menegor Petrus di depan umum, karena
Barnabas dan orang Kristen lainya pun turut terseret dengan
kemunafikannya. Petrus dan Barnabas adalah seorang pemimpin jemaat,
apabila tidak ada keselarasan antara perkataan dengan perbuatan
mereka, siapa yang harus diteladani dan diutus untuk memberitakan
Injil? Karena seoleh-olah ajaran yang benar berasal dari kelompok
sunat. 14Apakah
Anthiokia akan tetap menjadi gereja pengabar Injil yang besar yang
mengutus Paulus dan Barnabas? Ataukah sebaliknya mereka akan mengutus
para pengabar Injil dari kelompok sunat, untuk memberitakan Injil
palsu (injil plus sunat) dan dengan demikian, merusak kebenaran Injil
serta memecah belah jemaat-jemaat yang telah dibangun oleh Paulus?
Tentu Paulus harus segera bertindak dan menegur Petrus.

Dari peristiwa ini, Paulus sesungguhnya menekankan Petrus dan
Barnabas agar memiliki integritas. Ia sangat menekankan konsistensi
antara pemberitaan dan praktek hidup dari apa yang diberitakan.
Tetapi Paulus bukan hanya menegur, tapi ia sendiri memang yang teruji
integritasnya. Paulus adalah orang yang memegang teguh apa yang
diajarkannya dan ia juga melakukannya. Hal ini dapat dilihat pada
peristiwa Titus yang tidak disunatkan (Gal. 2:3-6).

15Sesungguhnya,
saat di mana kita merasa bahwa orang lain tidak akan mengetahui
pikiran, perasaan, dan perbuatan kita adalah saat di mana level
integritas kita diuji. Sering kali, faktor yang menentukan integritas
kita adalah peluang tindakan itu diketahui oleh orang lain.
Seharusnya kita sadar bahwa Tuhan itu maha tahu. Ia melihat segala
perbuatan kita. Siapa pun yang berusaha menutupi dosanya, Allah pasti
akan membukakannya (Amsal 10:9).

Untuk melakukan hal-hal yang baik Paulus tidak
menunggu dilihat orang. Sikapnya sangat berbeda dengan orang-orang
farisi yang munafik. Ia tidak mencari pujian manusia (Gal.1:10).
Bahkan ketika orang lain menentangnya dan meragukan kerasulannya, ia
tidak takut. Karena bagi Paulus, yang paling penting adalah
memperkenankan hati Tuhan dan kebenaran Injil tetap dipertahankan
(Gal.2:5-6). Ia sendiri tahu, bahwa panggilannya sebagai rasul tidak
perlu disahkan oleh seorang manusia, tetapi oleh Allah. Ia hanya
memandang kepada Allah. Dan ketika ia diutus oleh Tuhan untuk
memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, ia tidak meminta
pertimbangan manusia tetapi langsung berangkat ke tanah Arab (Gal.
1:16). Dalam praktek hidupnya, Paulus taat bukan ketika dilihat
orang, tetapi dia juga taat ketika tidak dilihat orang lain, karena
ia tahu, Allah melihatnya.

Orang yang berintegritas tidak memiliki sesuatu
yang ditutup-tutupi atau disembunyikan. Semakin luas pengaruh
seseorang, semakin besar transparansi dan akuntabilitas yang ia
tunjukkan.
16Paulus
berbicara tentang kegagalan-kegagalan dan keberhasilannya dengan
keterusterangan. Paulus tidak pernah menutupi masa lalunya yang
begitu kelam sebagai seorang penganiaya jemaat Allah. Bahkan ia
mengakui kelemahannya, dan menganggap kelemahannya adalah suatu
keuntungan (2 Kor.12:7-10). Dan Paulus sendiri menyadari bahwa ia
belum sempurna (Flp. 3:12-13).

Terhadap Timotius murid yang ia kasihi, Paulus berkata, supaya
Timotius mengikuti ajarannya, cara hidupnya, pendiriannya, imannya,
kesabarannya, kasihnya dan ketekunannya (2.Tim.3: 10). Dan bagaimana
mungkin seorang Paulus menyuruh Timotius untuk meneladani dirinya,
jika integritasnya tidak teruji. Karena pastilah Timotius tidak akan
mendengarkannya, kalau ia bukan orang yang berintegritas. Ia juga
menekankan Timotius untuk menjadi teladan meski ia muda, baik dalam
perkataan, tingkah laku, kasih, dan kesucian.

  1.  
    1.  
      1. Strategi Paulus

Strategi penginjilan adalah berbagai metode
penyampaian Injil supaya memudahkan penginjil menyampaikan berita
Injil, sehingga penginjilan menjadi lebih efektif. Strategi yang
cocok disuatu tempat, belum tentu cocok di tempat lain. Dengan
demikian tidak ada satu metode pun yang dapat dimutlakan
penggunaannya. Dan yang perlu diingat, sebaik apapun strategi yang
digunakan, tidak mampu membuat seseorang datang kepada Allah kecuali
dengan pertolongan Roh Kudus. Namun demikian, bukan berarti startegi
penginjilan tidak perlu. Penginjilan tanpa strategi seperti seorang
yang pergi berperang tanpa perencanaan. Baik strategi maupun
pengandalan diri pada kuasa Roh Kudus, keduanya dibutuhkan dalam
menginjili.

Paulus selalu serius dengan pemberitaan Injilnya.
Ia tahu bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi ketika ia
memberitakan Injil. Oleh sebab itu, Paulus mempunyai strategi dalam
memberitakan Injil. Ada beberapa strategi yang dilakukannya dalam
menginjili, yang dapat dijadikan model penginjilian yang efektif
yaitu:

  1. Ia
    mendirikan gereja kota. Ia mendirikan jemaat Kristus di kota-kota
    besar yang startegis seperti Filipi, Efesus, dsb. Tujuannya agar
    sebanyak mungkin orang mendengar berita Injil. Setelah jemaat kuat
    dijadikan pusat pemberitaan Injil, dan kemudian jemaat itu mengutus
    Paulus dan mendukung pelayanannya ke tempat yang baru. Paulus
    menginjili ke tempat yang memungkinkan adanya hubungan yang lebih
    jauh dengannya, supaya ada komunikasi. Paulus menulis surat kepada
    jemaat-jemaat yang ia dirikan.

  2. Tempat
    yang digunakan untuk memberitakan Injil tempat-tempat umum yang
    sangat strategis, yaitu di sinagoge, dipasar-pasar, dirumah-rumah,
    dan ditempat belajar (Tiranus, Kis. 19:9).

  3. Di manapun keberadaannya tidak menghalangi Paulus untuk memberitakan
    Injil. Misalnya : di penjara.

  4. 17Rasul
    Paulus mengabarkan Injil di dalam rumah yang mereka kunjungi atau
    singgahi (Kis. 20:20; 20:31).

  5. Paulus
    melakukan penginjilan lintas budaya. Untuk menghindari terjadinya
    miss communication (kesalahpahaman) akibat perbedaan
    worldview, seperti peristiwa di Listra (Kis. 14:8-18). Oleh sebab
    itu dalam kesempatan penginjilan yang lainnya Paulus masuk melalui
    worldview daerah setempat.

Worldview adalah pandang semesta/ dunia, atau
asumsi apa yang mendasari, atau tindakan yang mendasari sebuah
kebudayaan. Sebagai contohnya ialah dalam Kis.17 dalam peristiwa di
Athena. Langkah pertama yang dilakukannya ialah menyelidiki worldview
orang-orang Athena. Hal ini ditunjukan dalam ayat 17 yaitu dengan
cara bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi, orang-orang yang
takut akan Tuhan, serta orang-orang dipasar yang dijumpainya. Selain
itu dalam ayat yang ke 23 dikatakan bahwa ia berjalan-jalan di kota
itu dan melihat-lihat barang pujaan orang Athena. Dan ia menemukan
worldview yang mendasari tindakan ibadah orang-orang Athena yatiu
tulisa pada mezbah persembahan mereka yang berbunyi, “ Kepada Allah
yang tidak dikenal.”

Dari
bunyi tulisan ini Paulus menemukan cara untuk masuk kepada
penginjilan. Ia berkata kepada orang Athena bahwa Allah yang tidak
mereka kenal itu adalah Allah yang ia beritakan. Allah yang
menciptakan segala sesuatu dan memberi hidup kepada semua orang (ayat
24-25). Ini menunjukan bahwa Allah yang Paulus beritakan adalah Allah
yang menciptakan orang Athena juga. Kemudian sampai kepada inti Injil
yaitu Yesus yang mati dan bangkit (ayat 31).

  1. Dalam
    Kis.17:28 Paulus bertolak dari prinsip-prinsip Stoa serta
    mengutip penyair-penyair Yunani. Paulus disini tidak hanya
    mengundang perhatian dan simpati, tetapi perhatian untuk kesamaan
    antara pandangan dunia filsafat popular dan agama Kristen juga
    membantu membuka Injil kepada orang yang tidak terbiasa dengan
    Alkitab Yahudi. Sementara ia menggunakan bahasa Stoa,
    pantheisme Stoa yang impersonal sudah di alihkan menjadi
    monotheisme yang personal.

  2. Paulus
    berlaku sebagai orang Yahudi ketika menginjili orang Yahudi (1
    Kor.9:19-20). Ini berarti, Paulus hidup mengikuti budaya orang
    Yahudi. Tujuannya adalah untuk memenangkan orang Yahudi. Tetapi
    dalam hal ini Paulus tidak kehilangan integritas dan tidak mengikuti
    hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan. Dengan berlaku
    seperti orang Yahudi, ia berharap dapat diterima atau dapat masuk
    dalam lingkup orang Yahudi, dan ddengan demikian ia dapat leluasa
    memberitakan Injil Kristus.

  1. Aplikasi integritas dan strategi penginjilan Paulus bagi
    penginjil masa kini

Dengan mempelajari integritas dan strategi
penginjilan Paulus, penginjil masa kini dapat meneladani integritas
maupun strateginya. Ternyata baik integritas maupun strategi Paulus
tidak dapat dipisahkan. Integritas sangat penting untuk menegaskan
berita Injil yang disampaikan. Bukan hanya sekadar kata-kata, dan
berita tanpa kenyataanya, tapi berita itu menjadi sungguh nyata.
Selain itu, tanpa integritas seorang pengijil, Injil dapat menjadi
cemoohan orang, karena berita dan kenyataan hidup pemberita sangat
berbeda. Oleh sebab itu Paulus telah memberi teladan bagi para
penginjil masa kini untuk hidup berintegritas.

Penginjil masa kini dapat meneladani model
penginjilan Paulus. Strategi yang digunakan oleh Paulus sesuai dengan
konteks pada zaman itu, dan sangat berbeda dengan keadaan zaman
sekarang. Oleh sebab itu metode Paulus tidak bisa dimutlakan. Tetapi
dari strateginya dapat ditarik beberapa yang bisa digunakan pada masa
kini, yaitu:

  1. Gereja-gereja
    yang telah kuat pada zaman sekarang dapat menjadi pusat pemberitaan
    Injil yang mengutus penginjil-penginjil ke daerah lain yang belum
    mendengar berita Injil. Tempat-tempat yang telah dijangkau,
    dijadikan pusat pemberitaan Injil juga, dan demikian seterusnya.
    Diusahakan ada follow up terhadap yang di injili.

  2. Memberitakan
    Injil ditempat umum dan strategis seperti di pasar, rumah sakit,
    dsb. Dengan menjalin hubungan dengan orang-orang yang dijumpai
    ditempat tersebut, kemudian lama-kelamaan mulai masuk untuk
    memberitakan Injil sedikit demi sedikit.

  3. Memberitakan Injil di mana saja, tentu saja dengan pimpinan Roh
    Kudus. Termasuk memberitakan Injil di penjara.

  4. Mencari,
    memahami worldview dari budaya setempat yang diinjili, terutama
    tentang kepercayaan mereka. Kemudian dapat memasukan pesan Injil
    dari worldview itu.

  5. Memakai
    sesuatu yang familiar di tempat yang di Injili, untuk memudahkan
    mereka mengerti Injil.

  6. Hidup
    ditengah penduduk setempat yang diinjili. Mengikuti peraturan dan
    budaya setempat agar dapat diterima penduduk setempat, sehingga
    beroleh kesempatan untuk memberitakan Injil. Tetapi ketika
    meyesuaikan diri dengan mereka, penginjil tidak boleh kehilangan
    integritas sehingga melanggar Firman Tuhan.

  1. Kesimpulan

Menginjili adalah tugas semua orang percaya tanpa
kecuali. Penginjilan bukanlah hal yang mudah, oleh sebab itu
diperlukan strategi untuk mencapai sasaran, dn integritas agar diri
pemberita tidak menjadi batu sandungan. Dengan belajar strategi dan
integritas dari Paulus, diharapkan setiap orang percaya dapat
dibekali untuk lebih efektif dan maksimal dalam pemberitaan Injil
Tuhan.

Daftar Pustaka,

Eliss, D. W., Metode
Penginjilan
. Jakarta: Yayasan Bina Kasih/ OMF.

Sweazey, E.George,
Effective Evangelism, USA: Harper
and Row, Publisher, 1953.

Graham, Billy,
Beritakan Injil standar Alkitabiah bagi Penginjil. Bandung:
Lembaga

Literatur Babtis , 1955.

Tulluan, Ola,
Eksposisi Surat Galatia. Batu Malang: I-3, 1994, hlm. 26.

Sanders J.Oswald,
Kepemimpinan rohani. Batam: Gospel Press, 2002.

Sendjaya,
Kepemimpinan Kristen
. Yogyakarta: Kairos, 2004, hlm. 62-70.

Wiersbe,
Warren W., Merdeka di Dalam Kristus. Bandung: Yayasan Kalam
Hidup, 1995.

1
Billy Graham, Beritakan Injil standar Alkitabiah bagi Penginjil,
(Bandung:Lembaga Literatur Babtis , 1955), hlm. 7-20

2
Ibid

3
George E. Sweazey, Effective
Evangelism
, (USA: Harper and Row, Publisher, 1953), hlm. 19.

4
Ibid, hlm. 20.

5
Ibid

6
George E. Sweazey, Effective
Evangelism
, (USA: Harper and Row, Publisher, 1953), hlm. 20.

7
Ibid

8
Sendjaya, Kepemimpinan Kristen, (Yogyakarta: Kairos, 2004),
hlm. 62-70.

9
Sendjaya, Kepemimpinan Kristen, (Yogyakarta: Kairos, 2004),
hlm. 62-70.

10
Ibid

11
Ibid

12
Ola Tulluan, Eksposisi Surat Galatia, (Batu Malang: I-3,
1994), hlm. 26.

13
Ola Tulluan, Eksposisi Surat Galatia, (Batu Malang: I-3,
1994), hlm. 26.

14
Warren W. Wiersbe, Merdeka di Dalam Kristus,
(Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1995), hlm.49.

15
Sendjaya, Kepemimpinan Kristen, (Yogyakarta: Kairos, 2004),
hlm. 62-70.

16
J.Oswald Sanders, Kepemimpinan rohani, (Batam: Gospel Press,
2002), hlm.105.

17
D. W. Eliss, Metode Penginjilan, (Jakarta:
Yayasan Bina Kasih/ OMF, TT) hlm. 132.

__________________

amazing grace....