Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Jika Yesus Berkata : Aku Tidak Suka Tingkah Kau !! ???

wilefhas62's picture

Beberapa puluh tahun lalu tepatnya di awal tahun 80’an, saat saya masih duduk di bangku SMA (SMA Kristen), saya aktif dalam bidang Rohani Kristen pada Persekutuan Doa Pelajar yg ada di sekolah saya.

Dalam segala hal, tentu saja “selalu ada yg pertama”  dalam hidup kita,  seumpama pertama kali melangkah, pertama kali mengunjungi suatu tempat, pertama kali naik sepeda, dan termasuk pertama kali merasa menjadi orang kristen. Sebagaimana bisanya, “yang pertama’,  selain membuat kita agak sedikit gugup, juga membuat kita lebih bergairah dan bersemangat.

Sebagai Orang Kristen, tentu saja topik pembicaraan adalah seputar ‘Kerajaan Sorga’, termasuk siapa saja yg boleh dan berhak masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Hampir setiap hari kita sesama anggota persekutuan Doa saling menanyakan, apabila mati, apakah yakin masuk Sorga, dan semua dengan lantang dan percaya diri mengatakan :

 

“PASTI MASUK SORGA KARENA YESUS/ ALLAH  MENJANJIKAN DEMIKIAN, SEPERTI YANG TETULIS DI DALAM ALKITAB”

 

Waktu terus berlalu........

 

Hingga pada saat saya kuliah, intelektual, logika, nalar, dan segala perangkat yg diberikan oleh Allah kepada saya mengalami perkembangan yang mengakibatkan adanya perubahan pada pola pikir saya.

 Saya mencoba lebih kritis (???) dalam berpikir.  Saya merenungkan beberapa Nats Alkitab antara lain :

 1KOR 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. 

 1 KOR 10:12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!

 Pada ke dua ayat di atas, Paulus berusaha untuk terus mawas diri (tidak ceroboh, apalagi lalai, apalagi arogan dan sombong) supaya dia pada ahirnya mendapatkan upahnya kelak yaitu “KERAJAAN SORGA’

 

dan

 Mat 19 :24-26 : Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."

 Ungkapan Yesus mengenai unta dan lubang jarum, memang memancing suatu tanda tanya besar, baik bagi gereja pada abad-abad permulaan, maupun bagi gereja pada saat ini. Tetapi blog ini tidak dimaksudkan untuk membahas tentang hal tersebut, karena upaya-upaya untuk menjelaskan arti dari ungkapan “unta dan lubang jarum” dengan memakai berbagai jenis penfsiran justru merupakan bukti kegagalan kita dalam melihat inti pesan dari Yesus tentang  :

 seberapa besar peluang yang dimiliki seorang manusia untuk masuk ke dalam kerajaan sorga.

 Berdasarkan ayat ini, saya lalu berpikir, ternyata masuk SORGA tidak semudah yang saya bayangkan

 Bahkan Yesus lebih tegas lagi berkata pada Mat 7:22-23 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

 Ayat ini menyatakan bahwa banyak orang yang merasa dirinya berhak masuk Sorga, tetapi “kecele” karena pada hari penghakiman ternyata malah DIUSIR YESUS.

 EPH 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.

 Jika keselamatan adalah ‘kasih karunia dan pemberian” ALLAH, apakah manusia berhak menuntutnya ?.   Apakah manusia berhak meng ‘claim” bhw dirinya pantas memperolehnya? dengan kata lain, apakah manusia berhak untuk memutuskan bahwa dirinya dan/atau orang lain Masuk Sorga ?

Jika berhak, maka itu bukan lagi bersifat ‘kasih karunia dan pemberian” , tetapi hasil usaha. Secara hukum (undang-undang), hak selalu berpasangan dengan kewajiban, dan "hak" selalu ber”konotasi’ sebagai hal yg kita peroleh karena kita melakukan "kewajiban".

 Jika itu pemberian, maka kita “tidak berhak” untuk “berhak”

 Peristiwa perenungan di atas, terlihat alkitabiah, karena memberikan / mengutip beberapa ayat Alkitab untuk mendukung pendapat dimaksud.

 Tetapi yang Alkitabiah, selalu dapat disanggah dengan yang Alkitabiah, memang demikianlah adanya.

 Hinga minggu kemarin ….. ada suatu peristiwa yg sama sekali tidak Alkitabiah tetapi menginspirasi saya.

 

Pada saat  tugas ke luar P. Jawa, dalam mengisi waktu senggang, kami banyak bercanda. Karena kami yang sedang tugas, cukup banyak dan terdiri dari beberapa suku, maka kami bercanda dengan konteks yang berkaitan dengan “kesukuan”.

 Salah satu teman saya orang Sunda menceritakan suatu lelucon tentang orang Batak (maaf bukan bermaksud menyinggung suatu suku atau ras).

 Begini leluconnya :

 Pada suatu siang hari bolong (kok ada siang yg bolong ya.. heh..he  he) seorang pemuda yg baru berumur 17 tahun melintas melewati persimpangan jalan. Pada saat si pemuda melihat ada seorang polisi, timbul niatnya untuk mengerjai si “polisi tersebut” karena dia merasa bahwa seluruh perlengkapan motornya, STNK, dan SIM lengkap, sehingga tidak marasa huatir untuk ditilang. Lalu dia  dengan “posisis pantat yang agak dimiringkan”, tiba-tiba menggas motornya keras-keras sehingga motornya berlari kecang dan mengagetkan si “polisi’.

Sipolisi menyetop pemuda tersebut, dan tentu saja si pemuda karena percaya diri dengan senang hati berhenti.

 

Lalu terjadilah dialog seperti berikut :

Polisi (Sambil mengamati motor) ; Mana STNK

Pemuda   :  Ada pak, ini dia

Polisi        : Mana SIM

Pemuda     : Ada pak,!!

Polisi : Kamu Saya Tilang

Pemuda : Loh kok bisa??, kan semua lengkap, SIM saya  baru kemarin saya bikin pada ULTAH saya yg ke 17,  Helm saya juga SNI, perlengkapan motor saya juga masih orisinil ….. , kenapa saya ditilang?????

 Polisi (dengan logat batak yg kental) : SAYA TIDAK SUKA TINGKAH KAU!!!

 

Malam harinya saya kemudian berpikir dan merenung, bagaimana jika pada hari penghakiman nanti,  Tuhan Yesus berkata :

 

AKU TIDAK SUKA TINGKAH KAU !!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

widdiy's picture

@wilefhas: mantap...

Renungan yang mantap Bro.....merinding jadinya aku membayangkan Tuhan Yesus menatapku sambil berkata "AKU TIDAK SUKA TINGKAH KAU !!!"

wilefhas62's picture

@ Widdiy : ini pengalaman pribadi

Sdr Widdiy, blog ini memang benar-benar pengalaman pribadi.

 

Apakah "waktu" membuat iman saya bertumbuh atau malah "degradasi"?

HANYA TUHANLAH YANG TAU

GBU