Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Ketuhanan Yesus Kristus

mujizat's picture

PERTOBATAN, KETUHANAN YESUS KRISTUS

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2, ketika Petrus berkotbah kepada orang-orang Yahudi, rasul itu mengatakan tentang Yesus bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan (Tuan atas segala tuan) dan Kristus atau Yang Diurapi (Kis 2:36). Ketika orang-orang Yahudi mendengar kotbah ini, mereka sangat tersentuh, mereka terharu karena kotbah Petrus, mereka bertanya meminta nasihat tentang apa yang harus mereka lakukan (Kis 2:38). Dan jawaban yang diberikan Petrus atas pertanyaan orang-orang sebangsanya itu ialah, bahwa mereka harus: bertobat, dibaptis dalam nama Yesus untuk menerima pengampunan dosa, dan menerima Roh Kudus (Kis 2:38).

Dasar kehidupan Kristen terbagi menjadi tiga: Pertobatan, Baptisan Air dan Baptisan Roh Kudus. Tanpa salah satu dari dasar ini, orang percaya hanya memiliki dasar yang timpang untuk membangun pengalaman dan perjalanan kekristenannya sebagai seorang percaya dan murid Yesus. Dalam seri pelajaran ini, kita akan membahas salah satu dari ketiga dasar secara terpisah, dan yang pertama adalah Pertobatan.

Menurut Firman Allah, definisi pertobatan adalah: Mengakui pelanggaran-pelanggaran kepada Tuhan (Mzm 32:3-5), tidak menyembunyikan pelanggaran tetapi mengakuinya dan meninggalkannya (Ams 28:13), denan sadar melakukan kebenaran dan keadilan (Yeh 18:21-23), berhenti, tidak lagi tertarik dan tidak mau lagi berdosa (Yeh 23:27-28). Jika kita mengaku dosa-dosa kita, maka Ia akan menampuni dosa-dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9). Ia akan membersihkan kita dan memberkati kita (Yes 1:18-19). Masih ada hal-hal lain yang harus kita lakukan dalam pertobatan yaitu: menuruti peraturan-peraturan yang benar, mengembalikan atau mengganti apa yang telah kita rampas dari orang lain, yang merupakan hak orang itu (Yeh 33:15). Penggantian (restitusi) ini harus dilakukan sesuai dengan petunjuk dan pimpinan Roh Allah. Zakheus, seorang Yahudi, mengenal ajaran pertobatan ini dan juga tentang penggantian itu melalui nabi Yehezkiel. Sebelum bertobat, Zakheus adalah seorang yang jahat, pemungut cukai dan telah memperlakukan banyak orang dengan tidak adil. Ketika Yesus berkata kepada Zakheus bahwa ia ingin datang ke rumahnya, maka pemungut cukai ini menerima Yesus dengan sukacita (Lukas 19:1-8). Tanggapan yang hangat dari Zakheus ini menunjukkan pertobatan hatinya. Yesus berkata kepada Zakheus, bahwa pada hari itu telah terjadi keselamatan di rumah Zakheus (Lukas 19:9) karena “Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Supaya Allah dapat menerima kita dan menjadi Bapa kita, maka ada syarat-syarat yang harus kita lakukan antara lain: keluar dari lingkungan orang-orang yang tidak percaya, pisahkan diri kita dari orang-orang yang seperti itu dan jangan menjamah apa yang najis (II Kor 6:14-18). Syarat pertobatan ini digambarkan dengan jelas dalam perumpamaan anak yang hilang. Si bungsu memboroskan harta miliknya dengan berfoya-foya dan pergi ke pelacur-pelacur (Luk 15:11-16). Ini adalah gambaran dari orang-orang yang terlibat dalam keduniawian dan dosa. Dalam kisah kelanjutannya, ketika si anak bungsu itu jatuh miskin, sampai-sampai untuk menghilangkan rasa laparnyapun ia tidak menemukan sesuatu untuk dimakan, maka teringatlah ia akan rumah orang tuanya. Akhirnya si Anak hilang itu menyadari keadaannya, dia mengambil keputusan untuk keluar dari negeri itu dan kembali ke rumah bapanya (Lukas 15:17-19). Perhatikan bahwa ada keputusan dari si Anak hilang untuk keluar dari “dunianya” dan memisahkan diri, serta pergi ke rumah bapanya. Setelah anak itu membuat keputusan dalam hatinya untuk memisahkan diri dari hal-hal yang najis dan pergi kepada bapanya, maka bapanya tergerak oleh belas kasihan, bapanya berlari mendapatkan dia, lalu memeluk dan menciumi si Anak hilang itu. Walaupun si Anak – karena menyadari kelakuannya – hanya berharap untuk diperbolehkan menjadi orang upahan bapanya, namun sang Bapa tetap menerima dia kembali sebagai anak, bahkan dengan sukacita yang besar (Luk 15:22-24).

Bapa Surgawi akan berbuat seperti itu bagi kita, seperti ada tertulis:

“Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari antara mereka,” Firman Tuhan, “dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan,” demikianlah Firman Tuhan, Yang Maha Kuasa (II Kor 6:17-18).

Kita melihat syarat yang sama yang ditetapkan bagi bangsa Israel ketika mereka masuk untuk menduduki tanah yang telah Allah berikan kepada mereka. Mengenai bangsa-bangsa kafir itu, Allah menghendaki agar bangsa Israel: menumpas mereka sama sekali, jangan mengikat perjanjian dengan mereka, dan jangan kawin-mengawin dengan mereka (Ulangan 7:1-3). Perintah Allah yang keras itu mempunyai tujuan dan alasan yang kuat: Sebab mereka akan membuat bangsa Israel berpaling dari Tuhan dan beribadah kepada Allah lain, supaya jangan Allah murka kepada bangsa Israel sehingga Allah memunahkan bangsa keturunan Yakub itu, oleh karena itu mezbah-mezbah penyembahan berhala harus dirobohkan, dan supaya umat Israel menjadi bangsa yang kudus (Ulangan 7:4-6; 8:1).

Kita juga memiliki tanah rohani untuk diduduki serta musuh-musuh rohani yang sangat nyata untuk ditaklukkan. Allah selalu merindukan umat yang kudus untuk menjadi milikNya sendiri. Allah menggambarkan hubungan antara Mesias dan jemaatNya seperti hubungan antara suami dengan isteri (Ef 5:25-32). Hubungan suami-isteri berbicara tentang suatu hubungan yang sangat dekat, dan lebih dari pada hubungan persahabatan, karena selain menyatukan dua pribadi, juga menyatukan hubungan darah, karena “mereka menjadi satu daging”. Hubungan suami isteri dimulai dengan suatu perjanjian yaitu perjanjian pernikahan yang dilakukan oleh kedua belah pihak tanpa adanya suatu paksaan. Dengan rela masing-masing pihak menyatakan kesediaannya, dan keduanya berjanji untuk menerima pasangannya, untuk mencintainya dan untuk membahagiakannya, baik dalam keadaan senang ataupun susah, sehat maupun sakit. Mereka terikat pada suatu janji, dan Allah sangat bersukacita atas setiap perjanjian pernikahan (Yes 62:4-5).

Hubungan antara bangsa Israel dengan Allah juga dimulai dengan perjanjian, mula-mula antara Allah dengan Abraham (Kej 17:1-14), dan diteruskan serta berlanjut dan berlaku untuk keturunan Abraham. Ketika Israel menyimpang dari perjanjian mereka dengan Allah, dengan menyembah berhala-berhala Kanaan, maka Allah menyebut bangsa itu bersundal atau berzinah (Hosea 9:1 ; 4:12). Setiap pengingkaran dan pelanggaran terhadap perjanjian ini disamakan Tuhan dengan persundalan dan perzinahan.

Rasul Yakobus menyebutkan tiga hal, tentang orang yang bersahabat dengan cara-cara dunia. Rasul yang dikemudian hari, karena kesetiaannya kepada Kristus, ia rela mati dengan cara mengerikan, diseret kuda sampai otaknya terburai keluar, rasul itu mengatakan tentang orang yang bersahabat dengan cara-cara dunia sebagai: orang yang tidak setia, … persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah, dan … menjadi sahabat dunia menjadikan dirinya musuh Allah (Yak 4:4). Dan Tuhan mengingini “mempelai perempuanNya” dengan cemburu (Yak 4:5) …

Senada dengan Yakobus, Yohanes berkata bahwa, jika seseorang mencintai cara hidup duniawi, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu (1 Yoh 2:15). Karena “yang ada di dunia” bukan berasal dari Bapa, tetapi dari dunia, yaitu: keingnan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). Tetapi sebaliknya, orang yang melakukan kehendak Allah akan tetap hidup selama-lamanya (1 Yoh 2:17).

Yesus pernah menyampaikan perintah untuk kita turuti. PerintahNya adalah, untuk mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama kita manusia seperti mengasihi diri kita sendiri (Mrk 12:28-31). Yesus katakan juga agar kita mencari terlebih dahulu Kerajaan surga dan kebenarannya, maka segala sesuatunya akan ditambahkan (Mat 6:33). Kalau kita ingin menjadi murid Yesus, maka kita tidak boleh terlalu mencintai segala yang kita miliki, bahkan harus rela melepas segala milik kita untuk menjadi murid Yesus (Lukas 14:26-33).

Secara singkat dapat kita katakan, bahwa apabila seseorang tidak bersedia melepaskan miliknya, maka ia tidak dapat menjadi murid Yesus. Perintah yang pertama adalah: “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu”. Perkataan: membenci teman-temanmu, saudara-saudaramu, orang tuamu bahkan nyawamu sendiri, berarti, kita tidak boleh secara berlebihan mengasihi mereka, atau pendapat mereka, atau bahkan pendapatmu sendiri, melampaui kehendak Allah. Karena itu, sebelum kita memutuskan untuk menjadi murid Yesus, kita perlu mempertimbangkan masak-masak (Luk 14:28-30) agar “tidak berhenti di tengah jalan”.

Dalam perumpamaan orang muda yang kaya, kita melihat kebenaran itu digambarkan dengan indah. Orang muda kaya itu menginginkan hidup yang kekal, maka dia bertanya kepada Yesus tentang apa saja yang harus dia lakukan. Yesus menjawab bahwa orang muda yang kaya itu harus mentaati segala perintah Allah. Tanggapan orang muda yang kaya itu ialah, bahwa ia memang merasa sudah menjalankan segala perintah Allah yang ditunjukkan Yesus, namun masih ada sesuatu yang ia rasa masih kurang (Mat 19:16,20). Perhatikan, meskipun orang muda kaya itu sudah baik secara moral serta taat, ia masih menyadari bahwa hubungannya dengan Allah tidak benar dan ada yang kurang. Kemudian Tuhan Yesus menunjukkan jalan kesempurnaan melalui sebuah syarat yang Ia tuntut dari orang muda itu, ialah supaya ia menjual semua harta miliknya untuk diberikan kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Yesus. Melalui persyaratan itu Yesus ingin menunjukkan kepada orang muda itu siapa allahnya yang sesungguhnya, yang ia sembah (Mat 19:21). Dan ketika mendengar syarat dari Yesus, orang muda yang kaya itu pergi dengan sedih, maka tindakan orang muda itu membuktikan bahwa ia menyembah allah yang lain, yang ternyata adalah hartanya (Mat 9:22).

Perhatikan juga, Yesus tidak mengejar orang muda ini untuk mengadakan kompromi atau memberinya kesempatan lain. Perintah yang pertama dan terbesar adalah ini: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan hanya Dia yang boleh kamu sembah”. Apapun yang kurang dari ini tidak dapat diterima dan sama dengan penyembahan berhala.

Dalam Matius 10:34 disebutkan, Yesus datang ke bumi untuk membawa … pedang. Tujuan utama Yesus datang ke dunia adalah untuk mendamaikan manusia dengan Allahnya, tetapi dalam “dunia” yang bermusuhan dengan Dia, pertentangan tidak bisa dihindari. Tuhan Yesus menunjukkan tiga hal utama dari pertentangan ini yang dapat dialami oleh setiap muridNya yaitu: orang akan dibenci oleh keluarganya, orang akan dibenci oleh semua orang, dan orang akan dimusuhi oleh keluarganya dan juga oleh banyak orang (Mat 10:17-22,35,36).

Menurut Paulus, supaya diselamatkan, maka seseorang harus mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati (Roma 10:9). Bila seseorang mengakui Tuhan sebagai Tuannya, dia akan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan untuk menjadi hambaNya seumur hidup, dia akan melepaskan kehendak dan keinginannya, dia hanya berkeinginan untuk melakukan kehendakNya.

Ketika seseorang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Dia, maka akan ada upah yang menanti dia, yaitu bahwa ia akan: duduk di atas tahta, ikut memerintah bersama-sama Yesus, akan memperoleh kembali semua yang telah ditinggalkannya dan bahkan akan dilipatgandakan seratus kali ganda, dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:27-29 ; Mrk 10:29-30).

Kepada semua orang yang mau menerima Dia, Yesus akan memberikan kepadanya kuasa untuk menjadi Anak Allah (Yoh 1:12). Jika seseorang mau membuka hati untuk menerima Yesus, maka Yesus berjanji bahwa Ia akan masuk mendapatkannya, akan makan bersama-sama dia dan Yesus akan tinggal bersama-sama dia (Wahyu 3:20). Sebagai hasil dari peristiwa tersebut, maka orang itu mengalami suatu pengalaman lahir baru (Yoh 3:3-7). Dan, ketika kita menerima Yesus, maka Allah akan memberikan hidup yang kekal melalui Tuhan Yesus (1 Yoh 5:11 ; Roma 6:23).

ooOOOoo

“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari antara mereka,” Firman Tuhan, “dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan,” demikianlah Firman Tuhan, Yang Maha Kuasa (II Kor 6:17-18).

__________________

 Tani Desa

iik j's picture

Siip!!

Setuju! Aku setuju banget! Ayo beritakan ini! Ga cuma jadi tulisan! Bergabunglah dengan laskar Kerajaan Tuhan kita Yesus Kristus PENEBUSAN! PERTOBATAN! YESUS KRISTUS! KESELAMATAN! DOSA! NERAKA! HARUS DIBERITAKAN SAMPAI KE UJUNG BUMI!! RISE UP SHINE!!!! GOD WITH US! SALAM SEMANGAT BERJUANG!!! IIK
mujizat's picture

Menurut non iik j langkah lahir baru kalimatnya bagaimana?

@ iik j, Thanks.

Menurut jeng iik j, untuk mengajak orang lahir baru langkah-langkahnya bagaimana. Hmm, semakin banyak wacana, penginjilan kita akan semakin siip kan, jeng ?

Simpelnya, saling melengkapi, agar yang sudah baik jadi semakin indah.

Jesus Loves You

__________________

 Tani Desa

iik j's picture

Langkah Lahir Baru?

Tuhan punya sejuta cara sesuai dengan hikmatNya yang tersembunyi untuk menuntun orang pada pertobatan kelahiran kembali. Contoh neh: 1. Temanku yang Gay, 'terkena FT" waktu aku bicara tentang hal yang sepele mengenai karya seni 2. Temanku yang agamawi, 'terkena FT" waktu aku cerita tentang pacaran jaman sekarang 3. Temanku yang banci, 'terkena FT' waktu aku bicara tentang kematian 4. Temanku yang suiibuukk n bisnismen "terkena FT" waktu aku bicara tentang tujuan hidup 5. Dll... dlll... wah.. buanyak... (Baca deh Mazmur 107) ada banyak masalah, penderitaan or apapun yang menimpa manusia itu 'sejatinya' untuk menuntun kepada pertobatan dan kembali kepada Tuhan Dari pembicaraan2 sederhana itu, kita "hanya butuh pertolongan Tuhan" untuk mengingatkan kita ayat2 ayat mana yang sesuai dengan kasus masing-masing orang (Yoh 14: 15-31, Tuhan berjanji memberikan Roh Kudus yang mengingatkan kita akan apa yang diajarkanNya) Selanjutnya? Tidak ada satupun cara kembar yang pernah dilakukanNya padaku! Setiap orang unik, setiap ciptaanNya berbeda! Dan cuma DIA yang paling memahami setiap orang itu, dan apa yang "pas" untuk mereka Sori, aku nggak punya patokan baku buat itu. Ya.. kalo orang sudah 'mentok' biasaya pertanyaan di Kisah Para Rasul 2:37 yang keluar, Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Dan semua ini bisa berlaku di tingkat masyarakat apapun. TUHAN YESUS kita emang kerennn abizzz... Saat itulah berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa disampaikan. Ini butuh kesabaran, kasih, tetapi juga amarah kudus dari Tuhan! Bukan agamawi lho.. tapi kenyataan di lapangan sungguh berbeda dengan teori2 yang pernah aku lihat di buku2 tulisan orang2 terkenal itu. Waktu kita terjun langsung ke medan,.. yang ada cuma FOLLOW HIM AND OBEY! JUST THIS!! Percaya deh! kalau kita taat, kita bakal terus terkagum-kagum pada segala sesuatu yang bisa dilakukanNya melalui kita. Itulah mengapa aku tak begitu peduli pada banyak doktrin/perbedaan persepsi dll... (meski itu bukan berarti aku lantas menutup mata atau tidak belajar sama sekali tentang perkembangan2 sekarang) karena ACTION sangat sangat sangat sangat dibutuhkan di jaman sekarang ini, daripada hanya sekedar ucapan2 dan tulisan2 tanpa penyampaian dengan hati yang tulus dari Tuhan. Kayak yang di Roma 8:19 , 8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Tuhan dinyatakan. Kitalah itu, yang dinantikan untuk membawa terang, membawa berita penghiburan, dan juga penghakiman yang telah disiapkanNya bagi semua MANUSIA!! KEEP ON FIRE!!! IIK