Submitted by hai hai on

Joli ke Jakarta lagi, demikian pula Daniel. Di sela-sela jadwal kesibukan mereka kami berjanji untuk bertemu. Saya tidak memberi tahu teman-teman blogger Jakarta lainnya karena belum tahu jadwal kopdar yang pasti. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Puri Mall. Setelah mendapat SMS dari Joli, dan tergopoh-gopoh menyelesaikan pekerjaan, saya pun meluncur ke Puri Mall setelah meletakkan pesan di kotak shoutbox. Walaupun hari ini IIS (ini istriku) tidak bekerja namun saya tidak mengajaknya. Dia bersilahturami ke rumah sahabatnya di Kelapa Gading dan malamnya akan membuat kue ulang tahun pesanan temannya..

 

Saya menemani Joli ke toko buku di dekat Puri Mall karena dia hendak membeli buku-buku untuk anaknya. Sambil memilih buku-buku, kami ngobrol tentang berbagai hal seputar copy right dan kurikulum les untuk anak-anak. Tentu saja kami juga diskusi tentang kopdar. Akhirnya kami memutuskan untuk memindahkan kopdar ke Plangi alias Plasa Semanggi, tepatnya di lantai 10, Sky dinning.



Setelah membayar buku-buku yang dibelinya, kami berjalan kembali ke Puri Mall lalu turun ke Under Ground. Kami lalu meluncur ke Plasa Semanggi. Tol Kebun Jeruk cukup padat, demikian pula Tol dalam kota. Di tengah kepadatan itulah saya mengirim SMS kepada para blogger Jakarta,  kepada Liesiana, Erick, Nobiettea, Viesnu, Joshua Manurung, Louise, Samuel Franklyn, Taksaka, Mbak Esti, Nosid, Mox, Dennis, Daniel, Anak_Elshadday Yenti Chen, Indonesia Saram, Xaris dan Billy Joe.



Viesnu membalas SMS-ku, “Siap.” Liesiana menyatakan tidak bisa ikut karena harus kuliah malamnya. Dia kuliah lagi untuk mengejar gelar S2. Joli lalu menelpon untuk membujuk Lies, namun dia tetap pada keputusannya, kuliah. Yenti Chen menyatakan tidak bisa ikut, tentu saja karena kesibukannya. Indonesia Saram, juga tidak bisa ikut karena kesehatannya yang terganggu. Dia juga memberitahu bahwa Bayu Probo sedang cuti pulang kampung. Denis memberitahu, dia ada di Medan, mertuanya meninggal dan mendoakan agar Kopdar berjalan menyenangkan. Turut berduka cita dennys, salam untuk untuk istri anda. Ketika menghadapi kemacetan di pintu Tol Taman Ria Senayan, saya menelpon Samuel karena ada kerinduan untuk bertemu dengannya. Dia memastikan untuk datang. Joli SMS rere dan rere menyatakan akan datang. Joli bertanya, tentang Debu Tanah, saya bilang, tidak punya no teleponnya sehingga nggak bisa mengajaknya. Namun saya memberitahu joli telah meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk KOPDAR kali ini di shoutbox. Joli nampaknya ngobrol dengan Firman. Ah, firman, saya berharap dia bisa datang ikut kopdar kali ini.



Ketika memasuki Plasa Semanggi, saya menyerahkan urusan memarkir mobil kepada Valet Parking. Ketika menunggu lift, saya mempelajari lingkungan di situ agar bisa kembali ketika akan pulang nanti. Pertama-tama mengingat letak lantai kami, kemudian mempelajari rute lift yang ada. Ada enam lift, namun hanya lift nomor 1, 2, 5 dan 6 yang menuju lantai 10, tempat Skydining berada. Sambil menunggu lift, aku menelpon Louise, namun dia mengatakan bahwa pemberitahuannya terlalu mendadak, namun berjanji akan berusaha untuk datang, ketika aku memberitahunya bahwa Kopdar pasti berlangsung lama sekali, mungkin mendekati tengah malam.



Skydining, lantai 10 Plasa Semanggi. Aku dan Joli berjalan keliling untuk inspeksi, mencari tempat yang paling mengasykan dengan menu makanan yang cocok. Kami juga turun ke lantai 9, siapa tahu tempatnya lebih mengasykan? Akhirnya kami memutuskan untuk nongkrong di cafee SAS, tempat Kopdar dengan Ari dan Dianpra ketika mereka ke Jakarta hai Valentine yang lalu.



Aku dan joli duduk di meja paling pinggir, karena dari sana kami bisa memandang pemandangan sebagian kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Aku memesan kopi dan milksake serta bakso sementara joli memesan Lemon Teh. Kami ngobrol tentang berbagai hal sambil menunggu yang lainnya. Menurutku bakso pesanan kami kurang enak. Selain kuahnya kurang panas, bakso sapinya juga terlalu banyak tepungnya, namun sambelnya enak. Aku bercerita tentang acara kami di Santa Monica pada malam kamis yang lalu.



Pelangi-pelangi alangkah indahnya, merah kuning hijau di langit yang biru … Itulah suara anakku ketika Hp-ku berdering. Telepon dari Samuel. Dia sudah ada di lantai 10 namun ada di ujung yang lain. Karena tidak memakai kaca mata, maka saya tidak bisa melihatnya, namun Joli melihatnya. Saya lalu memberi tahu arah yang harus ditujunya. Setelah saling bersalaman, kami pun duduk bertiga, Samuel memesan Lemon teh dan kami pun asyk ngobrol seperti teman yang biasa nongkrong bersama.



Tiba-tiba debu berhamburan. Kami berusaha menutup gelas minuman kami. Saya memejamkan mata untuk menghindari debu. Angin bertiup sangat kencang dan debu terus berhamburan. Kami memutuskan untuk pindah ke dalam ruangan. Namun angin reda sehingga kami menghentikan langkah kami di tengah tenda dan duduk di sana. Angin kencang kembali membuat debu berhamburan. Pelayan Cafee menawarkan agar kami pindah ke dalam ketika kami bertiga berdiri untuk berjalan ke dalam ruangan.



Ketika berjalan masuk, nona manis yang melayani kami pada Kopdar yang lalu menyapa ramah, “Ini pak hai yang waktu itu ya?” Saya tersenyum dan berkata, “Benar nona cantik.” Dia tertawa senang. “memangnya bapak namanya hai?” Saya tertawa dan berkata, “Benar, panggil saya hai hai.” Dia tertawa senang. Sayang saya lupa siapa nama nona cantik itu. Selain cantik dia juga sangat ramah dan baik hati pada kopdara kami yang lalu.



Kami pun duduk di dalam dan mulai ngobrol. Kami ngobrol tentang SABDASpace, tentang para bloggernya. Kami saling bertukar informasi tentang blogger lain yang kami kenal. Ada SMS, saya membukanya, Dari joshua manurung. Dia tidak bisa ikut Kopdar karena sedang berlibur ke Bali dan titip salam untuk yang lainnya. Saya memberi tahu joli dan Samuel lalu kami terus ngobrol. Kami ngobrol tentang tulisan-tulisan terakhir yang ada di klewer. Pembicaran lalu menyinggung Vantillian, Samuel menjelaskan tentang arti kata Vantillian, saya menambahkannya. Saya lalu bercerita tentang KOPDAR dengan Vantillian di Medan. Joli lalu bercerita tentang kopdarnya dengan M23 dan Rya di Bali Selasa yang lalu. Saya lalu cerita tentang Desfortin di Palangka Raya, juga tentang cerita desfortin bahwa dia sempat Kopdar dengan Sembilan. Joli menceritakan pengenalannya akan sembilan, lalu melanjutkannya dengan cerita kopdarnya dengan Ang Che Chen dan 3m1 di Samarinda.



Dari satu bloger kami mengosipkan blogger lainnya, kami bertanya-tanya, siapa Sandman, siapa ebed Adonai? Ah, ternyata otak saya pikun, karena menyangka anak_elshaday tinggal di jakarta, itu sebabnya saya SMS dia untuk ikut kopdar. Ternyata dia tinggal di Surabaya saat ini. Ha ha ha … Nampaknya saya telah berlaku ceroboh, pada kopdar yang lalu saya memberi tahu teman-teman lain, Anak_Elshaday nggak bisa ikut kopdar karena dia ada di Surabaya. Ha ha ha ha …



Kembali suara anakku  menyanyikan lagu pelangi-pelangi bergema. Telepon dari Nobitea yang cantik dan imut itu. Dia bertanya siapa yang sudah datang dan siapa yang akan datang? Dia juga bertanya, apakah viesnu akan datang? Saya katakan, viesnu memastikan untuk datang lalu memberitahu dia orang-orang yang tidak bisa datang dan alasannya. Nobietea akan muncul. Kami melanjutkan ngobrol. Samuel mengangkat topik tentang penulis baru yang masuk, Minmerry. Dia juga menyatakan mungkin ada baiknya bila Minmery juga menulis di SABDASpace teens. Joli juga punya pikiran yang sama. Tentu saja pikiran saya juga sama, saya bahkan memberi tahu keduanya, telah membujuk minmerry dan dia bersedia untuk juga menulis di SABDASpace Teens.



Kami juga ngobrol tentang Dede Wijaya, tentang Pwijayanto, kingheart, Ferissa bahkan Xaris yang sedang menghadapi masalah besar, dia sibuk sekali pacaran. SMS dari Xaris masuk, seperti dugaan saya, dia sedang sibuk pacaran  di lereng gunung salak. Dia sedang camping. Tentu saja kami juga ngobrol tentang j Edward alias Thomas Watson bahkan Agape juga jadi bahan obrolan. 



Kami juga ngobrol tentang YLSA, tentang pimpinan dan para Staffnya. Tentang Admin SABDASpace, tentang blog SABDA. Joli bercerita tentang petualangan pertamanya menggunakan SABDA Alkitab. Saya yang mengajaknya ke sana, karena menyangka dia adalah salah satu Alpha tester. Ternyata saya salah sangka. Ha ha ha ha … Kami lalu diskusi tentang SABDA Alkitab versi Betha1.         



Begitu saja kami berandai-andai, mungkinkah para blogger berbagai kota hadir bila diadakan KOPDAR saat ulang tahun SABDASpace? Bagaimana bila KOPDAR itu diadakan pada waktu liburan sekolah sehingga para blogger bisa mengajak keluarganya serta? Samuel Franklyn bilang, untuk hadir dia harus cuti dari kerja, untuk cuti harus direncanakan jauh jauh hari. Bagaimana bila kita mulai merencanakannya saat ini? Kami lalu ngobrol, apa yang akan dilakukan pada saat KOPDAR itu?



Bagaimana bila Kopdar itu tidak hanya diisi dengan acara ngobrol namun diisi juga dengan Seminar? Misalnya, mas Purnomo menulis makalah lalu mengajarkan bagaimana cara menulis blog yang laris manis karena disukai oleh mesin pencari google, yahoo, dll? Mas Purnawan mengajarkan teknik-teknik menulis yang baik. Samuel Franklyn mengajarkan tentang dasar-dasar pengetahuan tentang HTML dan hal lain yang terkait. Sementara itu, pihak YLSA akan menceritakan misi dan visi mereka sementara para blogger menyatakan impian-impian mereka yang dapat dititipkan pada misi dan visi YLSA.



Kami juga ngobrol tentang para core user, terutama mereka yang memiliki pengetahuan tentang IT. Mungkinkah para core user itu diberi kesempatan untuk terlibat secara teknis mengelola dan mengembangkan SABDASpace sehingga beban Admin berkurang dan SABDASpace semakin canggih?



Mungkinkah MENGAITKAN SABDA Alkitab yang baru diperkenalkan Beta1-nya dengan SABDASpace sehingga memudahkan para bloger ketika hendak mengutip ayat dan mengundang para pembaca blognya untuk menggunakan SABDA Alkitab? Mungkinkah meningkatkan kemampuan SABDASpace sehingga menulis blog menjadi lebih mudah, misalnya ketika hendak memberi warna pada tulisan dan ketika hendak memasang link atau gambar?



Dengan tenang Samuel Franklyn menjelaskan kepada kami tentang PENCAPAIAN SABDASpace di dunia maya. Menurutnya saat ini SABDASpace ada di ranking 115.000 - an. Menurutnya itu adalah pencapaian yang spektakuler. Di samping itu, dia juga menceritakan apa yang telah dicapai SABDASpace di mata mesin pencari google. Mesin pencari google telah menjadikan SABDASpace sebagai standard pencarian hal-hal yang berhubungan dengan kekristenan berbahasa Indonesia. Apapun kata yang berhubungan dengan kekristenan yang anda ketikkan di mesin pencari google, maka SABDASpace akan muncul di halaman pertama. Menurut Samuel itu adalah pencapaian yang luar biasa, karena kita melakukannya tanpa keluar biaya. Kita mencapai posisi itu karena aktivitas para blogger dan para pengunjung SABDASpace bukan karena MEMBAYAR. Ketika menceritakannya kepada salah satu teman, dia bilang itu juga terjadi karena KUALITAS tulisan-tulisan di SABDASpace dianggap BAIK oleh google.



Ada rasa bangga bergolak di dalam dadaku, dari pancaran mata Joli, saya merasakan hal yang sama sementara Samuel Franklyn terlalu tenang, selain senyumnya yang ramah dan tatapan matanya yang akrab, saya tidak bisa menangkap hal lainnya. Mungkin, sebagai salah satu IT man terbaik di negeri ini untuk bidangnya, semua pencapaian itu sudah biasa baginya? Atau dia memang Samuel Fraklyn yang tenang namun padat berisi?



Ada BAHAGIA, ada BAHAYA. Bahagia karena semua pencapaian itu namun BAHAYA karena itu berarti kita harus lebih berhati-hati lagi ketika menulis agar tulisan-tulisan kita tidak menyesatkan para pembacanya. Saya lalu mengungkapkan kepada Joli dan Samuel, pernah menulis komentar di blog SABDA,



Mungkin anda semua menganggap apa yang dilakukan selama ini biasa-biasa saja. Namun, percayalah apa yang anda sekalian lakukan mempengaruhi wajah generasi ini dan generasi berikutnya. Setelah tua nanti, saya akan mengagulkan diri kepada anak cucu. Kalian tahu? Si tua bodoh ini kenal para pemberi warna generasi ini. Mari kita mengunjungi mereka supaya kalian dapat berguru.  



Mungkin pimpinan dan staff YLSA menganggap apa yang saya tulis itu adalah angin surga semata padahal itu adalah prakiraan seorang akuntan yang sejak kuliah dilatih untuk bersifat KONSERVATIF. Apa yang diutarakan oleh Samuel adalah bukti bahwa kita semua memang sedang MEWARNAI generasi ini dan generasi selanjutnya. Saya teringat ayah angkat saya, yang sering sekali berdiri di atas mimbar gereja dan berseru, “Came help change the world! Mari kita memperbarui dunia!” Saya ingat suatu malam bertanya kepada mama saya waktu kecil, “Kenapa mau mau bekerja keras, bangun pagi-pagi dan tidur larut malam?” Saat itu dia menatap saya dan berkata, “Agar kamu tidak perlu melakukannya nanti.”



Kembali HP-ku berbunyi, kali ini dari Nobietea. Saya bangkit lalu berjalan keluar dan berdiri di bawah lampu agar dia dapat melihatnya. Beberapa detik kemudian dia muncul bersama temannya, Debie. Suasana menjadi ramai dengan hadirnya nobietea dan temannya. Joli menelpon rere, ternyata rere tidak jadi datang karena angin ribut yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ketika asyk ngobrol, kembali Hp-ku berbunyi, kali ini dari viesnu. Aku kembali bangkit berdiri dan keluar lalu berdiri di bawah lampu. Beberapa detik kemudian saya melihatnya muncul dengan senyum lebar. Dia datang dengan istrinya yang cantik dan anaknya yang menggemaskan.  

 

Kami lalu ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu kedatangan Daniel. Namun Daniel tidak kunjung muncul. Hp-ku berdering beberapa saat sebelum viesnu pamit untuk pulang. Tentu saja kami menahannya. Daniel sudah ada di bawah dan kesulitan menemukan lift yang rutenya ke lantai sepuluh. Saya memberi petunjuk sebisaku, namun menganjurkannya untuk bertanya kepada orang lain. Bermenit-menit kemudian Daniel muncul dengan Lie Nah.



Bermenit-menit setelah Daniel dan Lie Nah muncul, viesnu pamit pulang. Kami lalu melanjutkan obrolan. Dari obrolan satu ke obrolan lainnya. Akhirnya kami kembali ngobrol tentang KOPDAR pada ulang tahun SABDASpace. Begitu saja terucap dari mulutku kata. “KOPDAR Nasional SABDASpace.” Menurut Joli, dia suka istilah itu, KOPDAR nasional SABDASpace.” Karena tahu kedekatan hubungan Daniel dengan pimpinan YLSA, kami bertanya kepadanya, “Mungkinkah kita merencanakan KOPDAR nasional SABDASpace di Solo lalu mengusulkannya kepada pimpinan YLSA sebagai agenda YLSA?”  Apabila usulan itu diterima, maka kita dapat mengundang beberapa orang Kristen Indonesia penting generasi ini dan bertukar pikiran dengan mereka tentang bagaimana cara MENGGENAPI Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dalam generasi ini. Dengan gaya politikus ulung, Daniel berkata, “YLSA selalu terbuka bagi semua.”  Kami tertawa gembira penuh rasa. Ha ha ha ha …



Jam sepuluh lebih, Nobietea dan temannya pamit pulang dengan alasan harus masuk kerja pagi-pagi. Kami melanjutkan obrolan kami. Tentang KOPDAR Nasional, tentang reputasi yang sudah dicapai oleh SABDASpace di dunia maya. Ternyata YLSA sudah tahu semua itu. Kami sepakat bahwa sudah saatnya para blogger SABDASpace berbuat lebih dari hanya sekedar jualan dan tawar menawar di pasar klewer. Minimal, kita harus bikin team futsal dan saling menguji kemampuan menggocek si kulit bundar. Ha ha ha …



Jam di Hp-ku menunjukkan angka mendekati jam 12 malam. Masih banyak yang ingin kami obrolkan, bila diikuti nampaknya perlu 7 hari 7 malam untuk menyelesaikan semuanya. Namun Joli harus pulang atau dia akan berubah menjadi nenek lampir ketika jam berdentang dua belas kali. Lie Nah juga harus pulang bila tidak mau dijuluki pendeta DUGEM. Ketika hendak memanggil pelayan untuk minta tagihan, ternyata Joli sudah membayarnya. Itu sebuah pertanda buruk! Itu berarti ketika KOPDAR nasional di Solo, para tamu harus mentraktir tuan rumah. Ha ha ha ha ha … Saya berharap Ma23 dan Ang Che Chen hadir saat itu. Ha ha ha ha …



Kami turun dengan lift, saya memberikan ticket kepada petugas valet, sementara Samuel langsung menaiki taksi dan pulang. Di dalam mobil, saya coba memeras Lie Nah, akan memberi tahu  jemaatnya bahwa dia DUGEM, namun  tidak punya foto untuk alat buktinya, jadi hanya bisa berkata, “Lie nah, nanti saya kasih tahu jemaat kamu, ‘Lu tahu nggak, pendeta lu hobynya dugem, gua pernah dugem bareng dia di Skydining plasa semanggi.” Lie Nah hanya tertawa.

Setelah mengantar Lie Nah pulang, kami mengantar Joli pulang. Kemudian saya mengajak mas Daniel makan bubur di Mangga Besar Satu. Tentu saja saya tidak memberitahu dia julukan tempat itu karena takut bila tahu, dia akan menolak. Setelah makan bubur dan merasa kenyang, saya lalu mengantar Daniel ke hotelnya dan segera pulang. Ketika sampai di rumah, IIS sedang duduk menonton TV, dia baru saja selesai membuat kue ulang tahun pesanan temannya. Saya menyempatkan diri untuk melihat kue buatannya, kali ini penuh dengan nuansa pink. Dan seperti biasa, saya mengagumi detail-detail kuehnya. Saya sering mengejeknya nggak cocok nyambi bikin kueh di sela-sela kerjanya. Dia mengambil untuk terlalu tipis sehingga kuehnya yang murah tidak akan dihargai orang lain. Di samping itu dia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bikin kueh, karena baginya setiap kueh adalah sebuah MASTER Piece.  



Jam 03.45, saya selesai mandi lalu duduk di depan komputer dan mulai melihat ADA APA DENGAN Klewer? Ah, ternyata hanya Agape yang mulai hilang kendali. Ha ha ha ha … Istriku walaupun ngantuk berusaha tetap terjaga, menurutnya Film di TV sangat menarik. Saya mulai membaca tulisan-tulisan di Klewer sambil nonton TV dan ngobrol dengan IIS.