"Yang salah bukan alat/teknologinya, tapi si pelaku kejahatan media. Jadi, kita tidak perlu melarang anak melihat TV atau berselancar di internet," seperti itulah kata-kata yang dikutip dari salah satu aktivis pelindung hak anak di Indonesia.
Sebagai seorang yang dewasa, melihat kemajuan teknologi yang berkembang pesat adalah suatu kesuksesan dan kepuasan. Misalnya, hape. Dulu, tak mungkinlah kita bisa ngobrol dengan orang terkasih yang jauh di mato sambil melihat wajahnya. Namun, hal ini merupakan hal yang mudah diatasi. Kita bisa membeli hape dengan fasilitas 3G sehingga ruang, waktu, dan dinding pemisah lenyap tak berbekas. Meskipun tidak berada di satu lokasi, kita bisa saling memandang dan berbicara seolah "dia" di dekat kita. Tak berhenti di sini, fasilitas-fasilitas lainnya pun semakin "spektakuler". Kamera foto di hape juga tak ketinggalan. Dulu hanya VGA, kini bisa bermega-mega piksel. Dengan begitu gambar yang diambil pun tampak jelas dan jernih. Hanya dengan merogoh kocek yang tidak lebih dari "uang salon" artis, banyak orang bisa memiliki hape dengan fasilitas yang aduhai.
Namun, sayangnya kemajuan teknologi ini tidak diimbangi dengan kemajuan akhlak dan budi pekerti penggunanya. Ada banyak pihak yang entah karena sekadar untuk "gaya-gayaan" saja atau untuk "menyebarkan" virus kebobrokan moral, semakin gencar menganak-pinakkan hal-hal yang tabu dan tak layak konsumsi.
Sebagai orang-orang yang "dipanggil keluar" apa yang sebaiknya kita lakukan mengetahui hal ini? Apakah ini salah satu penggenapan firman Tuhan yang mengatakan, "Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!"
Apakah kita hanya perlu mengurusi urusan kita saja dan tidak peduli dengan mereka di luar sana? Hmmmm...