Submitted by tonypaulo on

Belakangan ini saya memperhatikan kecenderungan yang belum pernah saya temukan sebelumnya kecuali dalam pemikiran sekte-sekte, yaitu logika “What if and then” yang over-context, dimana letak over-context-nya?


Pertama, jika Yudas Iskariot masuk neraka maka Tuhan Yesus adalah seorang pembual

 

  • Tidak ada satupun manusia yang berhak untuk menentukan seseorang masuk neraka atau tidak, hanya TUHAN yang mempunyai hak preogratif tersebut
  • Kematian Yudas Iskariot akibat bunuh diri adalah melanggar 10 perintah TUHAN yang keenam, jangan membunuh, Yudas Iskariot membunuh dirinya sendiri
  • Kaitan antara Yudas Iskariot masuk neraka atau tidak, tidak memiliki keterkaitan yang langsung dengan Tuhan Yesus membual atau tidak (bahkan ini sudah masuk ke pelecehan kepada TUHAN YESUS)

Dari ketiga poin diatas, logika “what if”, mirip tehnik marketing yang manipulatif dan memaksakan kehendak, karena dengan sangat berani pribadi tersebut melecehkan TUHAN dengan menyebut, seorang pembual walau digunakan logika “what if” yang juga absurd, rangkaian logika yang absurd menimbulkan pemahaman yang absurd juga.


Dalam hali ini, ada PENCATUTAN dan PEMANIPULASIAN  pada kesan “jika…………. maka; Tuhan adalah pembual”.


Coba kalau kesan “jika…………. maka; Tuhan adalah pembual” dihilangkan? 

Paling hanya 2 poin diatas yang menjadi argument keberatannya, tidak sampai harus mencatut nama TUHAN


Exo 20:7  (ITB) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.


Exo 20:7  (KJV)  Thou shalt not take the name of the LORD thy God in vain; for the LORD will not hold him guiltless that taketh his name in vain.


Tega sekali mencatut nama TUHAN, untuk menegakan eksistensi keabsolutannya? Dengan sembarangan menyebut “jika…………. maka; Tuhan adalah pembual”, untuk memberikan intimidasi (bukan pemahaman) agar yang disampaikan menimbulkan puja-puji bagi dirinya dan mengorbankan nama TUHAN yang tidak boleh disebut secara sembarangan, apalagi menyebut TUHAN adalah pembual dalam rangkaian pencatutan “jika…………. maka; Tuhan adalah pembual”.

Kedua  ; tidak pernah ada dalam aturan dasar logika, satu premis bisa menentukan satu konklusi, entah aturan logika mana yang digunakan, pertanyaan “jika…………. maka; Tuhan adalah pembual”


Jelas kata “JIKA” itu sebagai alat manipulasi yang tendensius, karena hanya ada satu dan satu-satunya ketentuan yang terwakili dalam kata “JIKA” membentuk makna “MAKA”, tidak tahukah dia bawaha dibutuhkan lebih dari satu premis untuk membentuk konklusi?


Karena itulah logika “jika…..maka…..” tidak lazim digunakan dalam konteks apapun juga, karena mengandung suatu kesesatan logika yang dinamakan generalisasi dan over-context  yang menghasilkan suatu konklusi yang tendensius, satu arah dan absurd


Mari kita buktikan pada kalimat dibawah ini ;


jika Yudas Iskariot masuk neraka maka Tuhan Yesus adalah seorang pembual

dibalikkan dari jika menjadi maka dan sebaliknya

jika Tuhan Yesus adalah seorang pembual  maka Yudas Iskariot masuk neraka

Pemahamannya jadi berbeda, sebelumnya penekanannya kepada Yudas Iskariot sekarang penekanannya ke Tuhan Yesus, antara “JIKA” dengan “MAKA” tidak proposional dalam membentuk suatu pemahaman jika dilakukan pembuktian terbalik, kemudian dua-duanya kalimat negatif, padahal dalam konteks “jika…..maka…..” adalah kalimat yang saling berlawanan (kalimat negatif dan kalimat positif) bukan kalimat yang sama-sama negatif
misalnya :

1Ki 3:23  Lalu berkatalah raja: "Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup."
1Ki 3:24  Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke depan raja.
1Ki 3:25  Kata raja: "Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain."


Salomo ketika harus memilih “jika ibu “A” anaknya hidup, maka ibu “B” anaknya yang sudah mati, tidak mungkin “jika…………..maka……………….” kedua anaknya hidup ataupun kedua anak itu mati

Itupun melewati proses “jika….Jika…..maka” bukan “jika….maka”

“JIKA ibu “A” anaknya mati, anak ibu “B” yang masih hidup”

“JIKA diantara ibu “A” dan ibu “B”, anaknya dibelah dua (menjadi mati)”

“salah satu tidak setuju, MAKA ibu tersebutlah yang anaknya masih hidup”

Ada dua “JIKA” untuk membentuk “MAKA”, atau ada 2 premis untuk mementuk konklusi (kesimpulan).

Biasanya “jika……………maka……………..” yang kalimatnya satu arah atau “sejalan”, hanya dapat digunakan pada suatu konsekuensi yang sudah terbukti sebelumnya (secara terbatas), seperti ;

“jika bencana tsunami datang maka akan menimbulkan korban jiwa”

Pada kasus “jika Yudas Iskariot masuk neraka maka Tuhan Yesus adalah seorang pembual”

Sampai selama-lamanya, pribadi tersebut atau siapapun juga TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBUKTIKAN, sebagaimana telah terbukti bahwa setiap bencana Tsunami yang terjadi melanda daerah yang ada penduduknya akan menimbulkan korban jiwa seperti yang terjadi di Aceh dan Negara Asia lainnya, BAHWA TUHAN YESUS ADALAH PEMBUAL. walau dengan tehnik MANIPULASI “JIKA”

Inilah yang disebut sudah menyebut nama TUHAN secara sembarangan, membangun suatu pengertian yang sembarangan juga, dan akhirnya menyebarkan pemahaman sembarangan, yang kelak akan dipertanggungjawabkannya

Hati-hatilah terhadap logika “what if and then” seperti ini, selain hanya bentuk suatu bentuk INTIMIDASI dan AROGANSI untuk memaksakan pemahaman yang sudah jelas absurd namun karena sudah merasa ABSOLUT, jadi perlu mengunakan triks manipulatif seperti ini, jika sudah  manipulatif tapi menganggap diri absolut,  gejala itu mirip dengan Hitler, Stalin dan para DIKTAKTOR lainnya, hanya saja untuk kondisi jaman yang tidak lagi percaya terhadap triks-triks manipluasi semacam itu, KEKERASAN VERBAL lah bentuk akumulasi dari gejala tersebut.

Dengan bentuk kata-kata Tolol, Bodoh, bertobatlah…., saya ajari….., “jika………..maka TUHAN adalah pembual”, kamu masih newbie…., sudah makan asam dan garam….., handai taulan sekalian….

Dimana azas proposional dalam menalar sudah tidak digunakan lagi, yang ada adalah INTIMIDASI dan AROGANSI belaka yang menganggap forum ini adalah kerajaannya.

Sungguh gejala mental yang begitu mengkuatirkan untuk forum dimana seharusnya ada pertukaran pemahaman dan ekspresi, yang ada adalah pelangengan hegemoni dari orang-orang “sejenis” sehingga forum ini terkadang terkesan seperti permainan “tak benteng”……..


Sementara saya hanya bisa berharap ada pembaharuan dari kondisi seperti ini, supaya berkat-berkat dapat semain tersalur lewat forum ini, bukan sekedar jadi wadah untuk pemuasan eksistensi diri saja…

 


GBU