Saat ini lebih banyak gereja yang pendetanya berkualitas “ala kadar”nya atau “ala mak,” banyak kurangnya; tak punya kesaktian menyembuhkan orang sakit dengan satu kali jamah; tidak dapat mengoplos minyak urapan yang bisa menaikkan omzet penjualan toko jemaatnya dalam waktu satu bulan; tidak bisa bertutur dengan bahasa malaikat; tidak bisa melihat roh jahat dengan mata jasmaninya; tidak bisa menerawang masa depan seseorang.
Idola ayahku
Dulu ketika Bung Karno memerintah negeri ini, Ayah mengidolakannya. “Ini pemimpin sejati,” katanya, “biar punya kekuasaan tak terbatas tetapi tetap hidup sederhana.” Saya tidak senang. Karena dalam kemiskinan kami, Ayah selalu saja membeli buku-buku pidato Bung Karno, seperti Sarinah, Di Bawah Bendera Revolusi, walaupun ia tak pernah menyukai politik. Harga buku itu sama dengan 3 ekor ayam. Coba Ayah tidak membeli, jatah anak-anaknya untuk makan ayam tentu tidak dikurangi. Karena punya idola, jatah gizi anak-anaknya dikorbankan.
Dari dunia selebriti, Ayah juga punya idola bintang filem. Seperti juga para penggemar sinetron saat ini, ia hafal benar jalan hidup idolanya. Kalau filemnya sedang diputar di kota kami, ia membujuk, mengajak, bahkan memaksa teman-temannya pergi ke gedung bioskop menontonnya. Untuk idola yang ini saya tidak protes, karena tidak mengurangi uang belanja untuk Ibu. Bagaimana bisa? Karena pekerjaannya adalah penjaga pintu masuk gedung bioskop sehingga ia bisa menyelundupkan teman-temannya tanpa bayar. Tetapi bukankah karena idolanya ini ia telah menyalahgunakan jabatannya?
Idola punya akar kata ‘idol’, berhala. Mengidolakan seseorang berarti menempatkan orang itu sejajar dengan Tuhan.
Idola dalam Alkitab
Sewaktu mulai menjadi guru Sekolah Minggu, saya mencoba mencari tokoh Alkitab, selain Tuhan Yesus, yang bisa saya sodorkan kepada anak-anak untuk menjadi idolanya. Ternyata tidak ada. Alkitab kita ternyata sangat manusiawi, setiap tokohnya terpapar telanjang bagi pembacanya. Kelemahan mereka juga ditulis. Sehebat-hebatnya rasul Paulus, dengan mudah kita bisa menemukan ketidaksempurnaannya. Apalagi tanpa risih ia menulis sendiri kekurangannya dalam surat-suratnya kepada jemaat mula-mula.
Seseorang bisa dijadikan idola apabila ia sempurna, tidak punya kelemahan sama sekali. Apabila ia mempunyai kelemahan, masyarakat tidak boleh mengetahuinya. Dan inilah yang terjadi dalam menciptakan idola-idola di dunia politik dan dunia hiburan, di mana mass media gencar menggelembungkan kehebatan mereka dan apabila ada kelemahan yang harus diberitakan, pasti disertai alasan-alasan yang membuat masyarakat mudah dan segera memaafkannya. Sayang sekali, Alkitab kita tidak begitu. Karena itulah dulu Alkitab pernah dilarang dibaca oleh kaum awam agar para pendeta bisa aman jadi idola di mata umatnya, berjalan anggun dalam jubah kuning keemasan, bicara berwibawa di mimbar tinggi.
Idola diperlukan sebagai pengarah opini masyarakat. Ketika Bung Karno meminta rakyat Indonesia mengencangkan ikat pinggang dalam gerakan penghematan nasional, semua patuh. Sekarang, langsung demo digelar, karena SBY belum lulus jadi idola. Ketika seorang idola dalam dunia hiburan berkata “saya makan kapsul ini dua kali sehari” langsung saja kapsul ini laris manis karena fansnya segera menirunya.
Idola dalam gereja
Seorang pendeta yang mumpuni sangat berpotensi menjadi idola bagi jemaatnya walaupun di atas mimbar ia berteriak “Jangan idolakan saya” dengan setengah hati. Apabila kita mengalami kesusahan (sakit berkepanjangan, bisnis lesu, konflik rumah tangga), atau ketidakpastian (maju ujian, cari kerja, cari jodoh, bepergian jauh), doa, berkat dan nasehat pendeta kita butuhkan. Rasa hormat kita kepadanya akan makin tinggi apabila apa yang didoakannya segera dikabulkan Tuhan. Tidak, kita tidak menjadikannya berhala. Tetapi kedudukannya dalam kerajaan surga tepat di bawah Tuhan Allah, sehingga ia bisa kapan saja bercakap-cakap langsung dengan Allah, bahkan konon diundang berwisata ke surga. Kita tidak bisa menerima tuduhan bahwa kita memberhalakannya, selama kita tidak pernah merasa takut terhadap “kesaktian”nya itu. Tetapi bila kita sudah tidak berani berkata “tidak” kepadanya, karena takut ia mengirim kutuk ke rumah kita, jelas kita sudah mengidolakannya. Apalagi bila kita melakukan sesuatu dengan dasar “pendeta saya yang menyuruh” bukan “Firman Tuhan yang menghendaki ini saya lakukan.”
Banyak orang ingin gerejanya mempunyai pendeta seperti itu, yang bisa memberi apa yang dibutuhkan setiap jemaatnya. Dengan pendeta sakti seperti itu, jumlah jemaat akan terus bertambah, dan para aktivis bisa membanggakan gerejanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Bukankah dengan demikian pengabaran Injil dapat dilakukan dengan mudah?
Sayang sekali saat ini lebih banyak gereja yang pendetanya berkualitas “ala kadar”nya atau “ala mak,” banyak kurangnya; tak punya kesaktian menyembuhkan orang sakit dengan satu kali jamah; tidak dapat membuat minyak urapan yang bisa menaikkan omzet penjualan toko jemaatnya dalam waktu satu bulan; tidak bisa bertutur dalam bahasa malaikat; tidak bisa melihat roh jahat dengan mata jasmaninya; tidak bisa melihat masa depan seseorang.
Teladan dalam pelayanan
Sering seorang aktivis mengalami stagnasi (jalan di tempat) dalam pelayanannya karena tidak ada idola dalam gerejanya. Tak ada keinginannya untuk meningkatkan jumlah atau pun mutu pelayanannya karena ia tidak lagi menghormati pendeta atau penatuanya sehingga apa pun ajakan mereka untuk maju, tidak didengarnya. Aktivis gereja diam-diam mencari orang yang sempurna untuk dijadikan panutannya, pemimpinnya, motivatornya.
Seumpama Paulus hidup kembali dan menjadi pendeta di gereja saya, saya yakin ia juga tidak bisa memenuhi keinginan para aktivisnya. Ia jago berbahasa lidah, punya karunia supranatural lainnya, dalam penginjilan tidak membedakan warna kulit. Tetapi dulu dia preman. Bukankah dosa masa lalu seorang pendeta sering diungkit kembali oleh jemaatnya untuk menyingkirkannya walaupun ia pernah diidolakan?
Karena itu Paulus tidak pernah mau diidolakan (Kisah 14:11-18). Tetapi ia mau apa yang dilakukannya menjadi teladan, menjadi sebuah contoh untuk diikuti. Dalam 1 Korintus 4:16 ia memberi contoh menjadi bapa bagi orang lain. Filipi 3:17 mencatat contoh usahanya untuk makin mengenal kasih karunia Tuhan Yesus. Tetapi Paulus juga menyebut jemaat Tesalonika yang keteguhan imannya dalam penderitaan telah menjadi contoh bagi jemaat di Makedonia dan Akhaya (1 Tes 1:7). Teladan adalah contoh yang bisa ditiru atau diikuti, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Karena itu Paulus tidak menjadikan kepiawaiannya dalam berbahasa roh untuk diteladani. “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14:18,19).
Mencari teladan, menyegarkan semangat.
Idola berbicara tentang siapa, teladan berbicara tentang apa. Jika seorang pendeta secara totalitas (dalam arti seluruh aspek kehidupannya) tidak bisa dijadikan idola, apakah tidak ada satu pun tindakan atau karakternya yang bisa dijadikan teladan?
Walaupun saya tidak pernah belajar di seminari, dalam pengetahuan Alkitab saya berani bertanding dengan pendeta yang satu ini. Mengapa saya berani sesombong itu? Karena saya membaca lebih banyak buku daripada dia yang honornya pas-pasan. Tetapi, saya betul-betul mengagumi ketrampilannya ketika memimpin penyelidikan Alkitab. Ia bisa menjelaskan sesuatu yang sulit dalam bahasa yang sederhana dan dengan kesabaran yang tak pernah saya miliki sebelumnya. Ketrampilannya dalam mengajar menjadi teladan bagi saya untuk meningkatkan pelayanan saya di Sekolah Minggu. Ternyata saya butuh waktu 6 tahun untuk mendekati tingkat ketrampilan beliau.
Ia isteri pendeta. Kadang-kadang majelis memintanya berkotbah di kebaktian Minggu. Kotbahnya tidak njelimet, bahkan sangat sederhana. Mahasiswa teologia semester tiga pasti bisa mengalahkannya. Tetapi saya merasakan ada kuasa dalam kotbahnya. Selalu saja saya mendapat berkat mendengarkan kotbahnya. Secara pribadi saya tidak menyukainya karena sifatnya tertutup. Sabtu siang itu saya akan menyertai rombongan pendeta untuk pelayanan di pedalaman. Sebelum berangkat, kami akan makan siang di rumah makan sebelah gereja. Tetapi ibu ini menolak ikut serta. Saya bersikeras mengajaknya. “Ibu tak ikut, kami juga tak makan,” kata saya. “Saya sedang puasa,” jawabnya. Puasa untuk apa? “Bapak ke pedalaman, jadi besok saya harus menggantikannya berkotbah di gereja. Saya tidak bisa berkotbah kalau tidak berpuasa hari Sabtunya.”
Itulah rahasia kuasa kotbahnya. Ia biasa berpuasa hari Senin dan Kamis. Tetapi bila akan naik mimbar, ia menambahnya dengan hari Sabtu. Caranya mempersiapkan diri habis-habisan dalam membawakan Firman, menjadi teladan bagi saya. Tidak banyak orang yang mengetahui kebiasaannya berpuasa. Karena itu ketika rahasia ini saya buka di Komisi Sekolah Minggu, kegiatan doa puasa mulai diperkenalkan kepada guru SM. Ternyata, kegiatan ini diketahui oleh anak-anak SM kelas SMP sehingga mereka juga minta acara doa puasa untuk keterlibatan mereka menyelenggarakan bazar Sekolah Minggu.
Ketika saya mencari teladan untuk menyegarkan kembali semangat pelayanan saya, Tuhan memberikannya melalui diri banyak orang, yang tidak harus datang dari gereja saya. Tentu juga kepada Anda, asalkan Anda mau mencarinya.
(selesai)