Submitted by
ely
on
Tatapannya lurus ke depan, memandang pepohonan yang kini telah berwarna merah.
Sering aku melihatnya seperti itu, duduk, termenung, pada sebuah bangku kayu, yang terletak tepat di samping sebatang pohon mangga besar, yang berdiri rindang di depan rumahnya, jauh sebelum buah-buah rambutan di belakang rumahnya masak.
Tadinya aku berpikir, bahwa itulah salah satu cara ia menikmati hidup. Duduk termenung sambil memperhatikan kebun buah yang berada di belakang rumahnya.
Namun pemandangan yang sering kali kulihat itu, kini menggelitik rasa ingin tahuku, apa gerang yang membuatnya sering terlihat seperti itu.
Apa ia kini sedang memikirkan sesuatu tentan buah-buah rambutan merah itu. Kepada siapa akan menukarnya sehingga dapat memiliki nilai tukar yang tinggi.
Hal yang sangat mustahil, ku pikir. Sekarang sedang musim buah, tidak ada harga tinggi. Orang-orang kampung, bahkan rela menjual buah dengan cara memborongkan pohon buah kepada para pembeli yang datang dari kota. Dengan membayar pohon yang diborongkan, pembeli dapat sepuasnya mengambil buah dari pohon tersebut.
Otakku terlalu kecil untuk menyelami pikiran laki-laki tua itu, namun tetap saja aku mereka-reka apa gerang yang sedang ia pikirkan.
Aku berusaha mengingat-ingat segala sesuatu di otakku yang pernah merekam tentangnya. Banyak hal yang terlintas, namun tetap saja tidak ada alasan yang masuk akal.
Kembali aku memperhatikan keadaan di sekitarnya, mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menjawab keingintahuanku.
Bangku kayu dan tongkat kecil yang ada di sana turut membisu bersamanya, tak dapat menjawab rasa ingin tahuku, hanya ranting-ranting pohon yang terlihat bergerak mengayun-ayun tertiup angin sepoi, menciptakan suasana sejuk, suasana yang sangat pantas untuk dinikmati.
Pemandangan itu membuat aku kembali pada pikiran awalku, meski menurutku terlalu sederhana.
Ia memang sedang menikmati hidup, pikirku akhirnya.