Submitted by Purnomo on

Menyiasati wawancara PSB

Sudah umum dalam acara PSB (Penerimaan Siswa Baru), para ortu care abis dengan penampilannya. Jika agar tampak lebih indah daripada aslinya, itu untuk acara kondangan. Tetapi untuk acara PSB, mereka harus berdandan dengan amat sangat sederhana agar berhasil mendapat diskon sebesar-besarnya. Bila perlu mandi keramas dulu agar bau parfum yang setiap hari dipakai, lenyap. Jika terpaksa, pembantu rumah tangga harus berkorban. Perhiasan imitasinya dipinjam. Dandanan harus dicermati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jadi, sandal Bi Ipah jangan dilupakan.


Seorang teman pria saya juga melakukan ritual yang sama sebelum menghadiri undangan wawancara PSB. Keuletannya sebagai wiraswasta telah membuat ia berhasil memiliki rumah 3 buah. Di tengah acara tawar-menawar yang berlangsung seru dan alot, mendadak ada suara hape. Secara reflek ia merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan sebuah hape. Ia menyadari kebodohannya ketika pewawancara berkata, “Hapenya bagus, ya Pak. Pake kamera lagi.” Belum sempat ia memikirkan jurus penangkalnya, ada suara hape lain di saku kiri celananya. “Wah, wah, hapenya banyak, ya Pak,” komentar pewawancara dengan senyum kemenangan.

 

Kami para pendengar kisahnya, ramai terbahak. Kami tidak sedang bersantai di café atau resto. Kami sedang berada di halaman gereja usai kebaktian Minggu.

 

Nanti dulu, jangan bicara soal berdosa atau tidak. Sekolah itu ajang bisnis. Karena itu menawar jumlah sumbangan tidak beda dengan menawar televisi di toko elektronik. Jika kita berhasil mendapat televisi dengan harga di bawah harga beli pemilik toko, ini adalah bukti kelihaian kita dalam menawar. Jika ia tidak setuju dengan harga yang merugi itu, kita juga tidak bisa apa-apa bukan? Kita tidak mengalungkan clurit di lehernya, atau mengancam membakar tokonya. Inilah prinsip dasar ketrampilan negosiasi dalam PSB. Lihatlah orang-orang Kristen yang berhasil memperoleh harga lebih murah daripada ortu lain yang tingkat ekonominya jauh di bawahnya. Bangga abis! Saking bangganya ia rajin menceritakan kesuksesannya ini ke sana ke mari, serajin orang yang bersaksi karena mendapat mukjizat penyembuhan ilahi yang luar biasa. Dari kesaksian merekalah saya menulis artikel ini.

 

Dari kisah musibah hape di atas, jelaslah persiapan Anda harus benar-benar teliti. Jangan membawa hape. Tipiskan dompet Anda. Boleh bawa uang, paling banyak 200 ribu, yang (katakan kepada pewawancara) adalah seluruh tabungan Anda untuk membayar uang muka. Jika harus berkendaraan, pinjamlah sepeda motor tua pegawai Anda. Bila harga telah disepakati, jangan mengakhiri wawancara dengan wajah berseri. Apalagi berteriak “Haleluya”. Tetaplah duduk dengan wajah sendu dan tanyakan apa biaya itu bisa diangsur selama 3 tahun. Jika tenggang waktu angsuran telah disepakati, masih ada celah lagi bila sekolah itu menyandang kata “Kristen”. Tanyakan jumlah SPP yang tadi telah disepakati, bisa dikurangi berapa puluh ribu rupiah jika ada surat dari gereja yang memohonkan keringanan biaya. Memang yang berhak menerbitkan surat miskin adalah kelurahan, bukan gereja. Tetapi jika selama ini Anda selalu menyenangkan hati penatua dan pendeta Anda, mengapa tidak dicoba? Karena itu, sopanlah di gereja. Salami penatua setiap Anda jumpa. Besar upahmu di dunia.

 

Seorang ketua pengurus yayasan pendidikan Kristen bergegas masuk ke sekolahnya. Sekolah itu sedang mengadakan acara PSB yang berlangsung sejak dua jam sebelum kedatangannya. Dia bukan anggota panitia, tapi seorang pewawancara memanggilnya karena ada masalah darurat. Sepuluh menit kemudian ia keluar. Ketika ia akan memasuki mobilnya, saya menyapa, “Pak, cepat sekali pulang. Ada urusan apa di dalam tadi?”

Seorang anggota gereja kita ngotot menawar SPP, walaupun SPP yang disodorkan adalah yang termurah. Dia bawa surat dari majelis gereja sehingga panitia panik,” ceritanya. Gereja kami adalah salah satu gereja pelindung yayasan ini. Tentunya, mengabaikan surat ini bisa dianggap menghina petinggi gereja yang menerbitkannya. Mau menurunkan SPP terendah, bisa membuat marah gereja pelindung lainnya. Lalu bagaimana ia mengatasi dilema ini dalam waktu yang begitu singkat?

Gampang,” jawabnya. “Dia bayar SPP semampunya, sisanya aku yang tanggung.”

 

Inilah bukti bahwa surat sakti dari gereja sangat membantu. Gereja yang masih berstatus terdaftar, mudah menerbitkan surat sakti untuk memperoleh diskon uang sekolah, raskin di kelurahan atau pengobatan gratis di puskesmas. Tapi bila gereja Anda telah berstatus diakui, jangan berharap mendapat surat sakti. Karena begitu status ini diberikan, maka pada saat itu juga setiap anggotanya menyandang predikat anak Raja. Adalah penghinaan yang menajiskan Kerajaan-Nya bila seorang anak Raja ke sana ke mari menenteng surat miskin.

Gara-gara peristiwa di atas, penatua gereja saya segera berbenah diri untuk memulihkan “status diakui”-nya yang nyaris lenyap ditelan kasih yang permisif (serba-membolehkan). Sejak itu gereja ini tidak lagi berani lagi menyaingi Lurah menerbitkan surat miskin.

 

 

Menyiasati SPP

Jangan senang jika waktu PSB jumlah SPP yang ditetapkan tidak mahal. Biasanya, ada kenaikan uang sekolah setiap tahun, paling tidak 2 tahun sekali. Ada sekolah yang menetapkan kenaikannya dalam bentuk prosentasi yang sama untuk setiap anak. Tetapi pada umumnya, kenaikan dihitung dengan sistim subsidi silang. Yang kurang mampu dinaikkan 5%, yang dinilai mampu dinaikkan 15% atau lebih. Dari manakah para guru menentukan mampu tidaknya ortu seorang anak?

 

Pertama, dari kelancaran pembayaran SPP. Walaupun Anda mampu membayar SPP tepat waktu, do not do that. Lunasi 15 hari setelah jatuh tempo. SPP bulan berikutnya, buat terlambat 1 bulan. Bulan berikutnya lagi, lunasi setelah 1½ bulan. Jangan diperpanjang lagi, setelah keterlambatan mencapai 3 bulan. Why not? Anda perlu memperhatikan apa yang dilakukan oleh sekolah terhadap keterlambatan ini. Jika pengurus sekolah itu tidak punya kasih, anak Anda bisa dipecat. Tetapi bila aman-aman saja, dan sekolah tidak pernah menyewa black debt collector, apalagi di sekolah Kristen, perpanjang keterlambatan itu. Tumpukan hutang Anda akan membuat pihak sekolah beriba hati dan tidak tega menaikkan SPP anak Anda. Bahkan bisa saja mendadak anak Anda mendapat beasiswa yang diusahakan oleh sekolahnya.

 

Kedua, dari “gaya hidup” anak Anda. Bagian ini yang paling sulit. Anda bisa dipanggil menghadap Kepsek dan dipaksa melunasi hutang SPP yang tertunda 6 bulan gara-gara anak Anda setiap hari mentraktir teman-temannya jajan karena punya uang saku harian 5 ribu rupiah. Jika musibah ini terjadi, jangan sok ngebandit mengancam menulis kekejaman kepala sekolah ini di surat pembaca koran lokal. Jika ia gelap mata dan membalasnya juga di surat pembaca dengan mencantumkan nama anak Anda (peristiwa ini pernah terjadi), Anda akan sulit menemukan sekolah lain yang mau menerimanya setelah ia dipecat dari sekolah itu. Lebih baik mengatakan anak Anda mendapat uang jajan itu dari neneknya tanpa Anda ketahui. Kemudian, perbaikilah kesalahan ini.

 

Jangan memberi anak uang jajan lebih dari 1000 rupiah sehari. Berikan kepadanya sepatu yang Anda beli di kaki lima. Katakan bahwa itu adalah sepatu khusus untuk ke sekolah. Ia tidak boleh menyakiti hati teman-temannya yang miskin dengan memakai sepatu yang harganya ratusan ribu. Tuhan Yesus marah. Jangan memakaikan arloji. Dan, jangan merayakan ultahnya di sekolah. Bila ia memaksa, bawakan jajan pasar yang murah untuk dibagikan kepada teman-temannya.

 

 

Menyiasati Beasiswa

Dari taktik di atas mungkin saja anak Anda mendapat beasiswa yang berasal dari dana BOS. Tetapi karena alokasi BOS untuk beasiswa tidak cukup untuk menyantuni seluruh anak, biasanya beasiswa digilir. Dalam setahun seorang anak yang dianggap miskin paling banyak digratisi SPP selama 2 bulan.

 

Ke manakah Anda harus mencari beasiswa yang berumur panjang? Ke mana lagi bila tidak ke tempat penimbunan kasih yang tak berkesudahan. Yup, gereja! Sayangnya, tidak banyak gereja yang mau atau mampu memberi beasiswa sebesar 100% SPP. Bila SPP-nya Rp.200.000, gereja menyumbang Rp.50.000. Cara yang bisa dilakukan untuk mendapat beasiswa 100% SPP adalah, jadikanlah keluarga Anda anggota gereja oikumene.

 

Jika selama ini Anda sekeluarga berjemaat di gereja A, pindahkanlah istri Anda ke gereja B dengan alasan menemani ayahnya yang sudah jompo yang sejak dulukala telah berjemaat di sana. Pindahkan anak Anda ke Sekolah Minggu gereja C dengan alasan ikut teman-teman sekolahnya yang ke sana. Dengan cara ini Anda bisa mendapatkan beasiswa dari 3 gereja sekaligus. Tapi jangan tergesa-gesa. Untuk memudahkan memperoleh santunan ini, anggota keluarga Anda harus dikenal oleh para pengurus gereja. Jadi, lakukanlah sesuatu yang menimbulkan kesan positip. Dorong anak Anda untuk secara proaktif berani menjadi kolektan atau pendoa syafaat di kelas SM-nya. Bila ada PR, ia harus mengerjakannya. Anda sendiri dan istri, jangan lupa setiap menyalami pendeta seusai kebaktian berucap “Terima kasih, Pak Pendeta. Kotbah tadi betul-betul menjadi berkat bagi saya. Saya sekarang tahu bagaimana harus menyikapi kesulitan hidup saya dalam terang Firman Tuhan” walaupun selama ia berkotbah Anda nyenyak tertidur.

Jangan lupa untuk setia menghadiri kegiatan persekutuan yang diadakan oleh gereja-gereja ini. Pilihlah kegiatan yang paling tidak diminati jemaatnya, misalnya PA. Makin sedikit orang yang hadir, kehadiran Anda makin mudah diingat oleh para pengurus gereja. Sering-seringlah curhat kepada Pendetanya. Ilmu negosiasi mengajarkan tahap pengakraban ini sangat penting. Percayalah, setelah menyelesaikan tahap ini, hari ini Anda mohon beasiswa, esok hari uang di tangan Anda.

 

Setelah Anda menerima beasiswa dari 3 gereja, selidikilah seberapa dalam gereja-gereja ini mengefisiensikan dan mengefektifkan dananya. Apakah mereka mempertanyakan motor bebek Anda yang 125 cc ketika datang mengambil santunan beasiswa? Apakah mereka pernah mendatangi rumah Anda untuk melihat di dalamnya ada tivi kecil atau tivi plasma? Apakah mereka punya catatan kerajinan Anda atau anak Anda menghadiri kebaktian dan persekutuan? Apakah mereka pernah mengunjungi sekolah anak Anda untuk meneliti catatan prestasinya? Bila tidak? Ehem, Anda bisa memperluas wawasan oikumene Anda. Bagaimana bila dalam 1 bulan Anda hanya 2 Minggu ke kebaktian gereja A, 2 Minggu lainnya ke gereja D yang tidak tahu surat atestasi itu apa? Selanjutnya, enjoy aja.

 

 

Menyiasati sebutan Hamba Tuhan

Saya mampir di sebuah SMP Kristen untuk mengunjungi toiletnya yang selalu bersih. Itu kebiasaan jelek yang saya lakukan bila di tengah pekerjaan mengunjungi toko-toko tubuh saya perlu membuang residu. Saya malas melakukannya di toilet pasar karena jorok walaupun tidak gratis. Setelah itu, agar satpam tidak curiga, saya duduk dulu di halaman di antara banyak orang. Ternyata, hari itu hari kedua wawancara PSB. Di sebelah saya duduk seorang hamba Tuhan, begitulah ia menyebut dirinya. Karena sebagai salesman saya terbiasa memasang wajah sok akrab, langsung saja ia curhat. Ia bercerita betapa baiknya sekolah ini kepada hamba Tuhan. Sumbangan wajib paling murah 2½ juta rupiah, tetapi khusus untuk hamba Tuhan, walaupun tidak satu denominasi dengan gereja pelindung sekolah ini, hanya 1½ juta. Untuk SPP-nya, ia membayar 50% dari SPP terendah. Kata “Puji Tuhan” dan “Haleluya” berhamburan dari mulutnya. Ia menunggu temannya, yang juga hamba Tuhan, yang sedang di dalam untuk diwawancarai.

 

Ia menyelenggarakan persekutuan yang dihadiri hampir 40 orang. Ia melawat orang sakit bila diminta. Memimpin bidston di rumah-rumah jemaatnya. Ia melihat pakaian saya. Celana biru tua dan baju putih tanpa kartu pengenal. Ia bertanya apa kerja saya. Bantu-bantu gereja, jawab saya. Jadi guru SM, hadir di acara pemakaman jemaat, berkeliling rumah sakit mendoakan pasien, memimpin persekutuan doa di rumah jemaat, membantu kantor gereja mengantar surat. Saya tidak bohong. Itu side job saya. “Oh, Saudara juga hamba Tuhan,” katanya. Ia menyarankan saya membawa surat dari gereja yang menyatakan saya adalah hamba Tuhan agar dapat diskon. Pakai surat? Pengurus yayasan ini agaknya orang-orang kuper, kurang pergaulan dengan pengurus gereja denominasi lain. Mereka tak tahu yang saat ini disebut “hamba Tuhan” oleh beberapa denominasi bukan hanya pendeta. Padahal saya tahu pasti, yayasan pendidikan Kristen ini hanya memberikan dispensasi untuk pendeta saja yang untuk mendapatkan gelar ini diperlukan sebuah penahbisan, bukan untuk hamba Tuhan model begini.

 

Karena itu ketika ia bertanya apa keperluan saya berada di sekolah itu, saya jawab saya ke sini untuk melunasi sumbangan wajib keponakan yang sudah disepakati dalam wawancara kemarin. Ayahnya salesman obat nyamuk bakar sehingga dikenai 1,3 juta rupiah. “Siapa namanya,” tiba-tiba ia memotong cerita saya. Saya tidak bisa menyebutkan karena telah dipesan untuk tidak bilang siapa-siapa. “Wah, saya dibohongi. Katanya, tarip saya yang paling rendah. Ini tidak benar! Saya mau masuk lagi mengurus ini,” katanya sambil meninggalkan saya dengan wajah teramat geram. Saya juga segera cabut meninggalkan sekolah itu, melanjutkan pekerjaan saya, walaupun ingin sekali mendengar gempitanya klimaks kisah ini. Tetapi, hamba Tuhan model begini pasti tega merajam sampai mati orang yang mengucapkan dusta besar. Semoga pengakuan dosa saya ini tidak terbaca oleh pewawancara yang hari itu dikotbahi seorang hamba Tuhan tanpa perlu setor kolekte.

 

 

Whisper a prayer

Tip terakhir bersifat mutlak, wajib hukumnya bagi orang Kristen yang saleh, yaitu berdoa sebelum melakukan tindakan. Katakanlah dalam doa Anda segala kesulitan hidup Anda dan apa yang akan Anda lakukan. Akhirilah doa Anda dengan mengatakan, “Tuhan Yesus, sertailah dan bentengilah saya, karena saya akan mengambil apa yang sebetulnya bukan hak saya, tetapi saya betul-betul membutuhkannya. Amin.